JAKARTA, DDTCNews - Kehadiran artificial intelligence (AI) membuat teks dapat dihasilkan hanya dalam hitungan detik. Namun, kemampuan menghasilkan teks tidak serta-merta sama dengan kemampuan menulis.
Chief Editor DDTCNews Kurniawan Agung Wicaksono mengatakan menulis tetap membutuhkan kemampuan berpikir dan judgment dari penulis. Sebab, penulislah yang harus menentukan penting tidaknya suatu isu, ketepatan angle dan interpretasi, kedalaman analisis, kekuatan argumentasi, kebenaran fakta, hingga kelayakan sebuah tulisan untuk dipublikasikan.
“AI can generate words. You provide the judgment. AI bisa membantu menghasilkan teks, tetapi keputusan-keputusan penting dalam proses menulis tetap berada pada penulis,” ujarnya di Menara DDTC, Sabtu (12/9/2026).
Kurniawan menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara sesi Menulis Artikel Perpajakan yang diikuti 54 mahasiswa Pusat Studi Perpajakan (PUSPA) dan Tax Center PKN STAN dalam Company Visit DDTC: From Research to Publication.
Menurutnya, AI memang dapat menghasilkan tulisan dengan cepat, memuat banyak informasi, serta menyajikannya secara rapi dan meyakinkan. Namun, kemampuan tersebut tidak membuat fundamental menulis menjadi tidak relevan.
Karena itu, belajar menulis pada era AI juga bukan hanya belajar membuat prompt. AI bekerja berdasarkan instruksi yang diberikan pengguna. Pada akhirnya, kualitas instruksi tersebut juga bergantung pada kualitas pemikiran penggunanya.
“Good prompts start with good thinking. Jadi, bukan karena sudah ada AI kemudian kita tidak perlu lagi belajar menulis. Fundamental menulis tetap sama,” katanya.
Meski teknologi berkembang, fondasi untuk menghasilkan artikel perpajakan berkualitas tetap tidak berubah. Penulis perlu memiliki penguasaan substansi perpajakan, tidak hanya memahami hukum positif, mampu menggunakan perspektif multidisiplin ilmu, serta terus membaca dan memperkaya referensi.
Selain materi, penguasaan bahasa juga penting. Bekal tersebut terutama dibangun melalui kebiasaan membaca. Dalam konteks ini, menulis justru lebih banyak mengandung unsur sains daripada seni, dengan logika yang tepat dan kreativitas sebagai bekal utamanya.
“Seperti yang selama ini disampaikan Founder DDTC Pak Darussalam, kuncinya adalah baca, tulis, dan publikasi secara konsisten,” katanya.
Pada akhir sesi, Kurniawan mengajak mahasiswa mempraktikkan proses menulis melalui Tax Writing Challenge. Mahasiswa dibebaskan untuk menggunakan ataupun tidak menggunakan AI. Kurniawan mengatakan praktik tersebut sekaligus menunjukkan bahwa AI hanyalah tools dalam proses menulis. Aspek terpenting tetap pengetahuan, kemampuan berpikir, dan judgment dari penulis.
Kegiatan company visit ini merupakan bagian dari kolaborasi DDTC dengan PUSPA dan Tax Center PKN STAN. PKN STAN merupakan salah satu dari 40 perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan DDTC dalam pengembangan pendidikan dan pengetahuan perpajakan di Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran mengenai proses riset hingga penulisan dan publikasi artikel perpajakan. Mereka juga didorong untuk langsung menghasilkan karya tulis sebagai tindak lanjut dari materi yang diperoleh selama kegiatan.
Setelah kegiatan ini, para mahasiswa akan diminta menyusun dan mengirimkan artikel perpajakan. Artikel-artikel tersebut selanjutnya akan dinilai untuk memilih tulisan terbaik. Mahasiswa dengan tulisan terbaik akan mendapatkan kesempatan diberangkatkan ke India untuk mengikuti konferensi pajak internasional.
