JAKARTA, DDTCNews - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$444,4 miliar atau tumbuh 2,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan peningkatan utang luar negeri Indonesia didorong oleh pertumbuhan utang luar negeri pemerintah dan bank sentral. Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta tercatat masih mengalami kontraksi.
"Struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya," ujar Ramdan, dikutip pada Sabtu (17/7/2026).
Sebagai informasi, utang luar negeri Indonesia mencakup 3 jenis, yaitu utang luar negeri pemerintah, bank sentral, dan swasta.
Secara terperinci, posisi utang luar negeri pemerintah pada Mei 2026 mencapai US$217,3 miliar atau tumbuh 3,7%. Ramdan melaporkan peningkatan utang luar negeri pemerintah utamanya dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
"Itu mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga, di tengah pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo," papar Ramdan.
Ramdan mengatakan utang luar negeri pemerintah merupakan salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan APBN. Ke depan, pemanfaatan utang luar negeri akan terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan utang luar negeri.
Berdasarkan sektornya, utang luar negeri pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, yakni porsinya mencapai 22% dari total ULN pemerintah.
Utang luar negeri pemerintah juga digelontorkan untuk mendukung pembiayaan di sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,6%), jasa pendidikan (16,2%), konstruksi (11,5%), serta transportasi dan pergudangan (8,5%).
Selanjutnya, utang luar negeri BI tercatat mengalami peningkatan lantaran didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Ramdan mengatakan peningkatan tersebut sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak masih tingginya ketidakpastian global.
Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta pada Mei 2026 tercatat senilai US$195,9 miliar, kontraksi tipis 0,1%. Perkembangan ini utamanya didorong oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) yang secara tahunan mencatatkan kontraksi sebesar 0,8%.
Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Adapun porsinya mencapai 79,9% dari total ULN swasta.
Ramdan melaporkan BI dan pemerintah akan memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri guna menjaga agar struktur utang tetap sehat. Para pemangku kebijakan juga terus mengoptimalkan peran utang luar negeri untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
"Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutup Ramdan. (dik)
