PEREKONOMIAN INDONESIA

BPS Catat Inflasi Februari 2026 Capai 4,76 Persen

Aurora K. M. Simanjuntak
Senin, 02 Maret 2026 | 12.45 WIB
BPS Catat Inflasi Februari 2026 Capai 4,76 Persen
<p>Ilustrasi.&nbsp;Sejumlah warga mengantre untuk membeli sembako saat pasar murah Ramadhan 2026 di Kecamatan Gedongtengen, Yogyakarta, Jumat (20/2/2026). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/nym.</p>

JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Februari 2026 mencapai 4,76% secara tahunan (year on year/yoy).

Angka inflasi tahunan pada Februari 2026 berbanding terbalik ketimbang Februari 2025 yang mengalami deflasi sebesar 0,09%. Selain itu, inflasi Februari 2026 juga lebih tinggi ketimbang Januari 2026 sebesar 3,55%.

"Pada Februari 2026, terjadi inflasi 4,76%. Indeks harga konsumen (IHK) dari 105,48 pada Februari 2025 menjadi 110,50 pada Februari 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Senin (2/3/2026).

Ateng menerangkan inflasi yang meningkat pada Februari 2026 dipengaruhi oleh low base effect atau basis perhitungan yang rendah pada tahun sebelumnya. Sebagai informasi, pada Februari 2025, tarif listrik sempat diberikan diskon sehingga menekan IHK.

"Tentunya ini [insentif] mendorong tekanan inflasi Januari 2025, dan bahkan menyebabkan deflasi pada Januari-Februari 2025. Penurunan IHK itu menyebabkan level harga pada Januari dan Februari 2025 berada di bawah pola tren normalnya," tuturnya.

Lebih lanjut, BPS memerinci angka inflasi berdasarkan kelompok pengeluarannya. Inflasi pada Februari 2026 utamanya didorong perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang inflasi 16,19%. Kelompok memberikan andil 2,26% terhadap keseluruhan inflasi.

Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok pengeluaran itu ialah tarif listrik. Disusul, komoditas berupa biaya sewa rumah, biaya kontrak rumah, bahan bakar rumah tangga, tarif tukang bukan mandor, tarif air minum PDAM.

Sementara itu, perawatan pribadi dan jasa lainnya mencetak inflasi 16,66% dan memberikan andil 1,12% terhadap keseluruhan inflasi. Adapun komoditas utama yang menyumbang inflasi adalah emas perhiasan, disusul oleh pasta gigi, sabun mandi dan sampo.

Kemudian, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,51% dengan andil 1,05% terhadap total inflasi. Penyumbang inflasi pada kelompok ini antara lain ikan segar, daging ayam ras, bawang merah, beras, sigaret kretek mesin (SKM) dan telur ayam ras.

Selain itu, BPS juga mencatat barang-barang yang harganya diatur pemerintah (administered price) pada Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 12,66%. Kelompok ini memberikan andil inflasi terbesar, yakni 2,26%.

"Komoditas dominan yang memberikan andil inflasi pada harga yang diatur pemerintah, yaitu tarif listrik akibat low base effect, SKM, dan sigaret kretek tangan atau SKT," tutur Ateng.

Kemudian, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,63% dengan andil sebesar 1,72% terhadap total inflasi. Adapun komoditas yang menyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, biaya akademi atau perguruan tinggi, mobil, sewa rumah, dan nasi dengan lauk.

Terakhir, komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 4,64%, dan memberikan andil 0,78% terhadap total inflasi. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen bergejolak antara lain daging ayam ras, beras, bawang merah dan telur ayam ras. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.