JAKARTA, DDTCNews - Istana menegaskan kehadiran program makan bergizi gratis (MBG) tidak memangkas program dan anggaran pendidikan pada APBN 2026.
Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, program MBG justru bertujuan untuk meningkatkan kualitas siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan SMK dalam memperoleh pendidikan di sekolah.
"Program MBG ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia," katanya, dikutip pada Minggu (1/3/2026).
Sebagaimana diatur dalam Pasal 22 UU 17/2025 tentang APBN 2026, anggaran pendidikan pada 2026 telah ditetapkan senilai Rp769,08 triliun atau 20% dari total belanja negara yang senilai Rp3.842,72 triliun.
Dari total anggaran pendidikan tersebut, memang terdapat sebagian yang dialokasikan untuk MBG. Menurut Teddy, penggunaan anggaran pendidikan untuk MBG sudah disetujui oleh pemerintah dan DPR.
Pada Pasal 22 ayat (3) UU APBN 2026 beserta ayat penjelasnya, telah diatur anggaran pendidikan juga digunakan untuk mendanai operasional penyelenggaraan pendidikan. Pendanaan operasional penyelenggaraan pendidikan turut mencakup MBG pada lembaga pendidikan umum dan keagamaan.
"Peruntukannya itu sudah disepakati oleh pemerintah dan DPR. Semua hal itu termasuk MBG adalah pondasi awal untuk memperbaiki pendidikan ke depan," ujar Teddy.
Dalam perincian APBN 2026 yang termuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) 118/2025, pemerintah tercatat mengalokasikan anggaran pendidikan senilai Rp223,55 triliun untuk BGN.
Anggaran senilai Rp223,55 triliun tersebut adalah 29% dari total anggaran pendidikan 2026. Merujuk pada Lampiran III Perpres 118/2025, BGN akan menggunakan anggaran Rp223,55 triliun untuk penyediaan dan penyaluran MBG bagi anak sekolah di seluruh Indonesia.
Meski terdapat anggaran pendidikan yang dialokasikan untuk MBG, lanjut Teddy, tidak ada satu pun program pendidikan yang dikurangi akibat pengalokasian dimaksud.
"Apakah program MBG ini mengurangi program pendidikan? Saya jawab tidak. Faktanya tidak ada program strategis pendidikan dari periode sebelumnya yang tidak berjalan sekarang. Tak ada program dari periode sebelumnya yang dihentikan. Semuanya berjalan, bahkan ditambah," tuturnya.
Teddy menuturkan program-program lama seperti program Indonesia pintar tetap berjalan meski ada MBG. Bahkan, terdapat program pendidikan baru yang dilaksanakan oleh pemerintah, seperti sekolah rakyat, renovasi sekolah rusak, pembangunan sekolah garuda, dan lain-lain.
"Jadi, tidak ada program yang tidak dilanjutkan, semua program berjalan dan bahkan ditambah," katanya. (rig)
