Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Tingkat Pengangguran Inggris Merosot Tajam

0
0

LONDON, DDTCNews – Tingkat pengangguran Inggris, untuk pertama kalinya dalam 11 tahun sejarahnya turun di bawah 5% seiring dengan menguatnya pasar tenaga kerja menjelang referendum pada bulan lalu.

Data ini diungkapkan pemerintah Inggris pada Rabu (20/7) lalu. Kantor Statistik Nasional (ONS) juga menambahkan bahwa total pengangguran turun menjadi 1,65 juta untuk periode Maret sampai dengan Mei. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 54 ribu dari kuartal sebelumnya.

“Tingkat pengangguran turun menjadi 4,9% untuk periode triwulan mulai dari Maret hingga Mei 2016,ini adalah angka terenda sejak Juli 2005,” ungkap data resmi yang dirilis pemerintah Inggris.

Baca Juga: Bersaing dengan Toko Online, Peritel Minta Insentif

Meski demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa tren positif ini sepertinya tidak akan berlangsung lama. “Voting Brexit pastinya menyebabkan beberapa perusahaan menahan keputusan mereka untuk mempekerjakan karyawan lebih banyak lagi,” kata Paul Hollingsworth, ekonom Inggris di Capital Economics.

Sejalan dengan para pengamat ekonomi dan analis, pembuat kebijakan Bank of England mengatakan pihaknya akan mengawasi reaksi pasar tenaga kerja Inggris dengan cermat. Mereka juga memperingatkan akan ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan cenderung menghasilkan inflasi yang lebih tinggi.

Selain itu, tingkat upah terus meningkat menjelang referendum seperti yang diperkirakan. Upah yang diterima para pekerja termasuk bonus naik sebanyak 2,3% dalam 3 bulan hingga Mei 2016, kenaikan terbesar sejak Oktober 2015.

Baca Juga: Muncul Desakan Penerapan Pajak atas Kalori

Sementara itu, sebagaimana dilansir BBC News, jumlah pekerjaan melonjak ke angka 55 ribu dari bulan Maret. Peningkatan jumlah lapangan pekerjaan ini sebesar 74,4%, rekor tertinggi di levelnya.

Para ekonom pun melihat penurunan angka pengangguran sebagai tanda bahwa kekuatan ekonomi mulai bangkit. Jika kondisi ini berlangsung stabil maka hal ini akan memaksa Bank of England untuk menaikkan suku bunga setidaknya di tahun depan. (Amu)

Baca Juga: Setelah Prancis, Giliran Inggris yang Diancam AS

“Tingkat pengangguran turun menjadi 4,9% untuk periode triwulan mulai dari Maret hingga Mei 2016,ini adalah angka terenda sejak Juli 2005,” ungkap data resmi yang dirilis pemerintah Inggris.

Baca Juga: Bersaing dengan Toko Online, Peritel Minta Insentif

Meski demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa tren positif ini sepertinya tidak akan berlangsung lama. “Voting Brexit pastinya menyebabkan beberapa perusahaan menahan keputusan mereka untuk mempekerjakan karyawan lebih banyak lagi,” kata Paul Hollingsworth, ekonom Inggris di Capital Economics.

Sejalan dengan para pengamat ekonomi dan analis, pembuat kebijakan Bank of England mengatakan pihaknya akan mengawasi reaksi pasar tenaga kerja Inggris dengan cermat. Mereka juga memperingatkan akan ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan cenderung menghasilkan inflasi yang lebih tinggi.

Selain itu, tingkat upah terus meningkat menjelang referendum seperti yang diperkirakan. Upah yang diterima para pekerja termasuk bonus naik sebanyak 2,3% dalam 3 bulan hingga Mei 2016, kenaikan terbesar sejak Oktober 2015.

Baca Juga: Muncul Desakan Penerapan Pajak atas Kalori

Sementara itu, sebagaimana dilansir BBC News, jumlah pekerjaan melonjak ke angka 55 ribu dari bulan Maret. Peningkatan jumlah lapangan pekerjaan ini sebesar 74,4%, rekor tertinggi di levelnya.

Para ekonom pun melihat penurunan angka pengangguran sebagai tanda bahwa kekuatan ekonomi mulai bangkit. Jika kondisi ini berlangsung stabil maka hal ini akan memaksa Bank of England untuk menaikkan suku bunga setidaknya di tahun depan. (Amu)

Baca Juga: Setelah Prancis, Giliran Inggris yang Diancam AS
Topik : berita internasional, brexit, inggris
Komentar
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Senin, 13 Mei 2019 | 13:33 WIB
FILIPINA
Kamis, 14 Juli 2016 | 11:33 WIB
INGGRIS
Jum'at, 12 April 2019 | 17:02 WIB
JERMAN
Kamis, 14 Juli 2016 | 14:26 WIB
INGGRIS
berita pilihan
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
Kamis, 08 Juni 2017 | 16:55 WIB
BANGLADESH
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 12:01 WIB
ITALIA
Kamis, 30 Maret 2017 | 11:35 WIB
INDIA
Jum'at, 14 Juli 2017 | 09:33 WIB
PRANCIS
Kamis, 08 Juni 2017 | 18:36 WIB
UNI EMIRAT ARAB
Jum'at, 05 Mei 2017 | 11:39 WIB
ITALIA