Review
Rabu, 22 September 2021 | 17:55 WIB
KONSULTASI PAJAK
Minggu, 19 September 2021 | 09:00 WIB
Dir. Kepabeanan Internasional dan Antar-Lembaga DJBC Syarif Hidayat:
Rabu, 15 September 2021 | 11:45 WIB
TAJUK
Rabu, 08 September 2021 | 18:19 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Kamis, 23 September 2021 | 13:45 WIB
SUPERTAX DEDUCTION (4)
Rabu, 22 September 2021 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Rabu, 22 September 2021 | 18:12 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 22 September 2021 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 22 September 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 22 - 28 SEPTEMBER 2021
Rabu, 15 September 2021 | 11:00 WIB
STATISTIK FISKAL DAERAH
Rabu, 15 September 2021 | 08:30 WIB
KURS PAJAK 15 - 21 SEPTEMBER 2021
Rabu, 08 September 2021 | 08:30 WIB
KURS PAJAK 8 - 14 SEPTEMBER 2021
Komunitas
Kamis, 23 September 2021 | 17:15 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021
Kamis, 23 September 2021 | 12:35 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021
Kamis, 23 September 2021 | 09:30 WIB
DEBAT PAJAK
Rabu, 22 September 2021 | 17:27 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021
Reportase
Perpajakan.id

Mengenali Alternatif Pengganti Suku Bunga LIBOR

A+
A-
3
A+
A-
3
Mengenali Alternatif Pengganti Suku Bunga LIBOR

Specialist of Transfer Pricing Services DDTC Resya Famelia Aniqoh berfoto di Kantor Inland Revenue Authority of Singapore. 

PENGGUNAAN suku bunga London Interbank Offered Rate (LIBOR) sebagai suku bunga acuan global dalam menentukan harga berbagai jenis instrumen keuangan akan berakhir pada 2021. Hal tersebut menuai kontroversi di berbagai kalangan dalam industri keuangan.

Diskusi mengenai penggunaan LIBOR dan alternatifnya menjadi salah satu materi yang dikupas dalam WU—TA Advanced Transfer Pricing Programme pada tanggal 30 September – 3 Oktober 2019 di Singapura. Penulis, Specialist of Transfer Pricing Services DDTC Resya Famelia Aniqoh, menjadi salah satu profesional DDTC yang mengikuti program tersebut.

LIBOR merupakan rata-rata indikasi suku bunga pinjaman tanpa agunan antarbank yang dilaporkan oleh bank-bank besar dunia (Corb, 2012). Seperti yang telah kita ketahui, LIBOR mendukung transaksi keuangan lebih dari US$370 triliun dalam berbagai mata uang.

Baca Juga: Pajak Karbon untuk Kepentingan Bumi, Negeri, dan Diri Sendiri

Penghentian penggunaan LIBOR pada akhir 2021 mengharuskan pelaku pasar untuk menggunakan suku bunga acuan alternatif. Regulator keuangan dunia mendorong bank maupun investor untuk mengadopsi suku bunga acuan alternatif selain LIBOR. Beberapa suku bunga alternatif telah muncul di berbagai negara dengan karakteristik yang berbeda dari LIBOR.

Di Amerika Serikat, The Federal Reserve Bank of New York (The Fed) menerbitkan Secured Overnight Financing Rate (SOFR) sebagai suku bunga alternatif pengganti LIBOR. Sebagai tingkat referensi alternatif, SOFR dapat meningkatkan transparansi di pasar keuangan karena bergantung pada data transaksional.

Chicago Mercantile Exchange (CME) sedang mengembangkan futures SOFR yang dapat berfungsi sebagai tingkat referensi untuk jangka waktu yang cocok dengan tenor LIBOR saat ini. Jangka waktu tersebut seperti tiga dan enam bulan.

Baca Juga: Intensifikasi Pemungutan PPN pada Masa Pandemi

Inggris juga telah telah memilih Sterling Overnight Index Average (SONIA). Bank of English (BOE) mengambil alih administrasi SONIA pada April 2016. Tingkat referensi ini tidak hanya mencakup transaksi overnight unsecured yang dinegosiasikan secara bilateral, tetapi juga pinjaman broker-intermediated. Satu keunggulan yang dimiliki adalah SONIA telah ada sejak 1997.

Di pasar Euro, European Central Bank (ECB) mengidentifikasi tingkat referensi European Overnight Index Average (EONIA). Suku bunga ini pertama kali diterbitkan pada 1999. Pasar Euro telah dilayani oleh LIBOR dan Euro Interbank Offered Rate (EURIBOR) selama bertahun-tahun. EONIA didasarkan pada transaksi overnight unsecured.

Sementara itu, Swiss National Bank telah menetapkan tingkat referensi alternatif untuk pasar Swiss Franc (CHF). Swiss Average Rate Overnight (SARON) awalnya diperkenalkan pada 2009 dan diadopsi secara resmi sebagai pengganti LIBOR pada Desember 2017. SARON merupakan tingkat bunga overnight secured untuk pasar repo CHF. Suku bunga dengan rentang spektrum hingga 12 bulan sudah tersedia sebagai tolok ukur untuk alternatif ini.

Baca Juga: Perlunya Antisipasi Risiko Kenaikan Tarif PPN

Tahun lalu, Jepang memilih Tokyo Overnight Average Rate (TONAR) sebagai alternatif LIBOR berbasis yen. TONAR berfungsi sebagai tingkat referensi untuk pasar pertukaran indeks overnight dalam yen Jepang. TONAR didasarkan pada transaksi overnight unsecured.

Dari beberapa alternatif pengganti LIBOR yang telah tersedia, cukup sulit bagi regulator untuk memilih salah satu dari suku bunga alternatif tersebut untuk dijadikan suku bunga acuan pengganti LIBOR. Hal tersebut didasarkan pada perbedaan tingkat referensi pada pasar, tidak seragamnya mata uang, dan transaksi secured atau unsecured.

Lebih lanjut, sebelum tarif referensi alternatif diadopsi, perlu adanya pasar suku bunga yang kuat untuk sebagian besar transaksi keuangan. Di Amerika Serikat, futures SOFR dapat diandalkan oleh pasar untuk melakukan transisi keuangan sebagai pengganti LIBOR.

Baca Juga: Kemenkeu Petakan 6 Tantangan Pungut PPN PMSE, Apa Saja?

Pada akhirnya, meskipun dokumentasi yang mengutip nilai tukar alternatif ini mulai berlaku untuk kontrak keuangan baru, merevisi bahasa untuk transaksi kontrak warisan akan menjadi salah satu tantangan paling sulit.

Namun, dari semua tantangan yang telah dijelaskan sebelumnya, hal tersebut merupakan ritual pasar keuangan yang harus dihadapi ketika terjadi transisi dari tingkat referensi yang ditetapkan seperti LIBOR. Berita baiknya adalah industri keuangan dan regulator secara global telah menunjukkan komitmen mereka untuk mengatasi hambatan pada industri keuangan.*

Baca Juga: Ibarat Vaksin, Kepatuhan Pajak Tingkatkan Daya Tahan Keuangan Negara
Topik : LIBOR, transfer pricing, suku bunga acuan, HRDP, DDTC, Singapura, reportase

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 15 September 2021 | 10:15 WIB
DESENTRALISASI FISKAL

Mau Reformasi Pajak Daerah? Perhatikan Aspek Penting Ini

Rabu, 15 September 2021 | 08:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Momentum Reformasi Pajak itu Sekarang, Ini Alasannya

Selasa, 14 September 2021 | 16:19 WIB
DDTC WORKING PAPER

Waduh, Ketimpangan Horizontal Pajak Daerah Masih Besar

Selasa, 14 September 2021 | 15:39 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021

Panduan Meningkatkan Kepatuhan Pajak Orang Kaya

berita pilihan

Kamis, 23 September 2021 | 18:00 WIB
EKONOMI DIGITAL

Transaksi e-Commerce Diprediksi Tembus Rp395 T, UMKM Berperan Penting

Kamis, 23 September 2021 | 17:37 WIB
KINERJA FISKAL

Rokok Ilegal Digempur Terus, Realisasi Cukai Tumbuh 17,8%

Kamis, 23 September 2021 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Hingga Agustus 2021, Pembeli Mobil Serap Insentif Pajak Rp1,73 Triliun

Kamis, 23 September 2021 | 17:15 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021

Pajak Karbon untuk Kepentingan Bumi, Negeri, dan Diri Sendiri

Kamis, 23 September 2021 | 17:00 WIB
ANGGARAN PEMERINTAH

Sri Mulyani Minta Belanja APBD untuk Perlindungan Sosial Dipacu

Kamis, 23 September 2021 | 16:30 WIB
INGGRIS

Perusahaan Untung Besar, Pengenaan Pajak Tambahan Dipertimbangkan

Kamis, 23 September 2021 | 16:15 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Sri Mulyani Antisipasi Imbas Gagal Bayar Evergrande ke Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 16:00 WIB
SIPRUS

Otoritas Perpanjang Jatuh Tempo Pelaporan Pajak Lintas Yurisdiksi

Kamis, 23 September 2021 | 16:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

Dokumen Pajak Bocor, Trump Gugat Ponakannya Sendiri dan The Times

Kamis, 23 September 2021 | 15:30 WIB
FILIPINA

DPR Akhirnya Setujui Produk Digital Dikenai PPN 12%