VIENNA, Austria ternyata bukan cuma rumah bagi Mozart, Brahms, Beethoven, dan para komposer hebat dalam sejarah musik. Kota yang dihuni sekitar 2 juta jiwa tersebut juga sempat jadi rumah bagi salah satu pendiri DDTC sekaligus Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), Danny Septriadi.
Pada 2004–2005, Danny menjalani studi master di Vienna University of Economics and Business (WU), departemen Austrian and International Tax Law. Berselang 20 tahun kemudian, tepatnya pada 31 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, ia kembali ke kota tersebut. Kepada DDTCNews, Danny merefleksikan kisah perjuangan hingga pandangannya tentang pendidikan.
Petikan wawancara bagian pertama, bisa disimak di sini. Berikut bagian kedua dari petikan wawancara lengkap tersebut.
Lumayan banyak tempat yang saya ampiri. Apalagi transportasi umumnya sangat memudahkan warga lokal maupun wisatawan. Jalan-jalan bersama Branimir Dokic [roomate Danny Septriadi saat studi di Vienna, red] saja saya sudah dapat tiga titik: bianglala tertua di Vienna Wiener Riesenrad, Sungai Danube, dan Schönbrunn Palace. Terus di hari terakhir, sebelum geser ke Ceko, saya sempat mampir juga ke Circus & Clown Museum.
Khusus Schönbrunn Palace, saya sampai dua kali mampir. Pertama dengan Branimir, besoknya saya balik lagi bersama Dawud dan Abiyoga [dua profesional DDTC yang sedang studi di International Tax Law, Vienna University of Economics and Business, Dawud Abdul Qohar Lubis dan Abiyoga Sidhi Wiyanto, red].
Lagi-lagi alasannya nostalgia. 20 tahun lalu, saya mampir ke Schönbrunn Palace, pas suasana Christmas market—yang hanya ada saat winter. Sayang, tidak ada kenang-kenangannya karena file foto di kamera teman saya hilang. Ya maklum lah. Jangankan kamera, laptop saja yang penting buat mengerjakan tesis saya belum punya. Karena pas jalan bersama Branimir masih siang, saya besok malamnya ke sana lagi, minta difotoin Dawud dan Abiyoga buat mengenang vibe 20 tahun lalu.

Dokumentasi Danny Septriadi saat mengunjungi winter market di Schönbrunn Palace
Kami ngomongin dosen-dosen di kampus: “Sudah ikut kelas profesor A belum? Apa saja paparan terbaru di kelasnya profesor B?” dan lain-lain. Saya tanya juga rencana tesis mereka berdua. Saya rasa relevan ya dengan kebutuhan DDTC dan perpajakan di Indonesia ke depan.
Enggak ada. Lebih ke memberi semangat dan doa saja. Saya percaya dengan kemampuan Dawud dan Abiyoga. Apalagi, sejauh yang saya lihat, tesis di luar negeri itu umumnya tidak terlalu memusingkan metode penelitian. Lebih unik lagi ternyata metode penelitian kuantitatif itu justru jarang yang melakukan.
Biasanya, yang melakukan itu student yang punya resource berupa budget atau tim yang dedicated untuk bantuin. Kalau yang resource-nya terbatas, biasanya riset kualitatif. Namun bukan berarti penelitian kualitatif itu kualitasnya rendah. Justru di situlah peluang interaksi perpajakan yang interdisipliner.
Karena perpajakan itu sangat kompleks. Transfer Pricing, misalnya, isunya global dan tidak mengenal batas yurisdiksi pajak. Untuk memahaminya, praktisi dan akademisi pajak perlu juga untuk belajar disiplin ilmu lainnya: ekonomi mikro dan makro, manajemen keuangan, hukum, matematika, statistika, sampai business strategy.
Di Indonesia, umumnya ilmu-ilmu itu belum akur. Ego masing-masingnya masih terasa. Contoh saja, tidak semua ahli ekonomi yang menekuni pajak menguasai hukum pajak. Sisi lainnya juga sama, tidak semua ahli hukum yang menekuni pajak menguasai soal akuntansi pajak.
Praktisi dan akademisi pajak juga perlu bergaul dan kolaborasi dengan ilmu lain. Dengan itu, kita bisa mengungkap banyak misteri, kayak kenapa orang tidak mau patuh bayar pajak dari tinjauan psikologis atau sosiologis.
Setahu saya ada dua cara. Pertama, dari passion masing-masing individu. Waktu kuliah di Vienna University of Economics and Business (WU), saya jadi hobi melakukan riset mandiri. Soalnya, sangat gampang sekali untuk mengakses fasilitas berbagai buku dan jurnal. Nggak habis-habis rasanya bahan yang menarik untuk digali.
Akhirnya, setelah merasakan sendiri nikmatnya fasilitas itu, DDTC commit untuk subscribe jurnal-jurnal dan beli terus buku-buku perpajakan terbaru. Wajar lah DDTC Library sampai jadi satu-satunya perpustakaan pajak yang terlengkap di Indonesia. Koleksinya banyak juga tentang praktik perpajakan di berbagai negara, recent & future of tax development, serta pendekatan disiplin ilmu. Mau nggak mau, ya akhirnya harus begitu.
Nah, belakangan ini passion saya adalah menggabungkan praktik dan ilmu pajak dengan humor studies. DDTC Library yang di lantai 2 Menara DDTC itu kan isinya dua perpustakaan sebenarnya. Mayoritasnya memang buku-buku pajak, tapi ada juga buku-buku kajian humor. Namanya The Library of Humor Studies.
Saya sangat berterima kasih karena Pak Darussalam mau mendukung dan memberikan space buat library humor di kantor. Karena support itulah akhirnya saya juga semangat untuk berinovasi. Saya buktikan dengan bikin materi dan mengeksekusi mata kuliah sekaligus pelatihan tentang Menghadapi Pemeriksaan serta Negosiasi Pajak dengan Kreativitas, Empati, dan Humor.
Oh ya, ngomong-ngomong soal library, di Vienna saya sempat mampir juga ke sebuah toko buku berbahasa Inggris yang ada di dalam Museum Quartier. Ketemunya secara enggak sengaja, tapi tetap saja bawa beberapa buku untuk dijadikan koleksi baru di Library. Namanya Walther Koenig Books. He he he.

Danny Septriadi di area Walther Koenig Books, Vienna, Austria.
Tahun 2026 ini, saya juga akan mengembangkan dua materi baru hasil perkawinan pajak dan humor: “Humor dalam Manajemen Stress Praktisi Pajak: The Show Must Go On!” dan “Critical Thinking dalam Argumentasi Pajak dengan Pendekatan Humor”. Kedua materi itu saya konsep karena ada kebutuhan bahwa praktisi pajak itu sebenarnya enggak cukup menguasai technical skills saja. Perlu life skills seperti berkomunikasi dan resiliensi diri biar tetap bisa berkarya.
Kemudian selain lewat passion, semangat buat belajar pajak secara interdisipliner biasanya datang ketika ada kebutuhan—ketemu sama klien dan deadline. He he he.
Perlu diketahui kalau beasiswa HRDP ini inisiatifnya Pak Darussalam yang mendorong supaya kompetensi profesional DDTC terus meningkat. Beliau yang pastikan supaya kesempatan HRDP itu terus ada dan terbuka buat siapa saja di DDTC, baik itu untuk kuliah dalam maupun luar negeri, sertifikasi, atau kursus.
Apa tujuannya? Pertama, dengan menyekolahkan atau mengkursuskan para profesionalnya, DDTC maupun pribadi yang bersangkutan pasti akan mendapatkan pengetahuan terbaru. Pengetahuan, terutama di bidang perpajakan, itu perkembangannya cukup cepat. Tidak ada excuse, kita harus terus update soal itu; salah satunya melalui kuliah dan kursus formal.
Kemudian dengan belajar di luar negeri, mereka pasti juga akan merasakan sendiri framework belajar yang sifatnya komparatif dan prinsipiel. Itu dua rangka berpikir yang sangat penting dan dibutuhkan di industri ini. Ketika nanti mereka mengajar, framework itu juga akan ikut teraplikasikan.
Kedua, tujuan DDTC menyekolahkan para profesionalnya juga untuk giving back pada klien. Kan klien DDTC sudah membantu DDTC berkembang. Jadi, DDTC membalas kebaikan tersebut dengan meningkatkan kualitas profesionalnya, sehingga bisa memberikan jasa yang terus meningkat.
Ketiga, meng-upgrade staf kita merupakan bagian dari mimpi besar DDTC supaya literasi perpajakan buat masyarakat Indonesia makin bagus. Soalnya, penerima HRDP juga akan memberikan lagi apa yang mereka dapat selama studi. Di sinilah kami bisa terus memberikan dampak baik.
Jangan salah lho, membagikan ilmu itu justru akan menguntungkan kita sendiri. Kalau mengikuti formula persuasi alias cara meyakinkan orang versi Aristoteles, kan ada tiga unsur tuh: logos, pathos, dan ethos. Ethos ini yang saya maksud di sini. Profesional pajak itu harus punya dan membangun kredibilitas profesional. Tunjukkan apa keahlian kita, dari mana dan siapa saja kita belajar, apa saja buku atau karya kita, dan seterusnya.
Pak Darussalam menurut saya malah lebih ekstrem lagi. Beliau menuntut praktisi pajak di era digital harus terus menulis supaya kredensialnya bagus. Bahkan kalau bisa, buah pikiran kita harus ikut muncul di halaman pertama saat nama kita di-google.
Lantas, bagaimana pengalaman Danny Septriadi mengikuti pelatihan Teaching with Humor di Praha, Republik Ceko? Simaklah bagian terakhir dari wawancara ini!
