Fokus
Data & Alat
Selasa, 24 Mei 2022 | 20:00 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Reportase
Perpajakan ID

Impor Mulai Naik, Surplus Necara Perdagangan Menyusut

A+
A-
0
A+
A-
0
Impor Mulai Naik, Surplus Necara Perdagangan Menyusut

Kepala BPS Suhariyanto memaparkan data kinerja neraca perdagangan. (tangkapan layar Youtube)

JAKARTA, DDTCNews – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$1,57 miliar pada Maret 2021.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus tersebut melanjutkan tren yang terjadi sejak tahun lalu. Meski demikian, surplus perdagangan pada Maret 2021 sudah lebih kecil dibandingkan dengan posisi Februari 2021 yang mencapai US$2,0 miliar karena impor naik signifikan.

"Surplus ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan surplus ada posisi bulan Maret tahun lalu maupun tahun 2019, yang pada waktu itu mengalami surplus tetapi hanya US$0,7 miliar," katanya melalui konferensi video, Kamis (15/4/2021).

Baca Juga: Ekspor CPO Dilarang, Penerimaan Bea Keluar Rp900 Miliar Bakal Hilang

Suhariyanto mengatakan surplus tersebut terjadi karena nilai ekspor pada Maret 2021 tercatat US$18,35 miliar. Capaian itu naik 20,31% dari kinerja pada Februari 2021 dan naik 30,47% dibanding dengan performa pada Maret 2020.

Sementara dari sisi impor, nilainya mencapai US$16,79 miliar. Nilai tersebut tercatat mengalami kenaikan hingga 26,55% dari posisi pada Februari 2021 dan naik 25,73% dibandingkan dengan kinerja pada Maret 2020.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari hingga Maret 2021 mencapai US$48,90 miliar atau meningkat 17,11% dibandingkan dengan kinerja periode yang sama pada 2020.

Baca Juga: Dorong Ekspor, Sri Mulyani: Eksportir Tidak Sendirian

Ekspor nonmigas pada Maret 2021 mencapai US$17,45 miliar. Nilai tersebut naik 21,21% dibandingkan dengan kinerja pada Februari 2021 dan naik 30,07% dari posisi Maret 2020. Nilai kumulatif ekspor nonmigas mencapai US$46,25 miliar atau meningkat 17,14%.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 67,90%, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada kendaraan dan bagiannya sebesar 2,06%.

Adapun menurut sektornya, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan sepanjang Januari hingga Maret 2021 naik 18,06% dibandingkan dengan periode yang sama 2020. Hal serupa juga terjadi pada ekspor hasil pertanian yang naik 14,61%, serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 12,10%.

Baca Juga: Begini Dampak Perubahan Ekonomi Makro Terhadap Penerimaan Perpajakan

Sementara dari sisi impor, impor migas pada Maret 2021 tercatat US$2,28 miliar. Capaian tersebut tercatat mengalami kenaikan 74,74% dibandingkan dengan performa pada Februari 2021 atau naik 41,87% dari posisi Maret 2020.

Impor nonmigas pada Maret 2021 senilai US$14,51 miliar. Nilai tersebut naik 21,30% dibandingkan dengan kinerja pada Februari 2021 atau naik 23,52% dari posisi Maret 2020.

Peningkatan impor barang nonmigas terbesar pada Maret 2021 terjadi pada besi dan baja sebesar 63,34%, sedangkan penurunan terbesar yakni lemak dan minyak hewan/nabati 40,97%.

Baca Juga: Ekspor Minyak Goreng Dibuka Kembali, Jokowi Pastikan Pasokan Cukup

Jika dilihat berdasarkan pada golongan penggunaan barang, Suhariyanto menyebut terjadi peningkatan nilai impor sepanjang Januari hingga Maret 2021 terhadap periode yang sama 2020, yakni pada barang konsumsi sebesar 14,62%, bahan baku/penolong 10,16%, dan barang modal 11,47%.

"Impornya naik tinggi. Naik 25,73% karena adanya kenaikan impor, baik untuk barang konsumsi, barang penolong, maupun barang modal," ujarnya.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama periode Januari hingga Maret 2021 yakni China senilai US$12,04 miliar (31,48%), Jepang US$3,13 miliar (8,19%), dan Korea Selatan US$2,34 miliar (6,12%).

Baca Juga: Apa Itu Nota Pemberitahuan Penolakan?

Suhariyanto menambahkan pergerakan ekspor dan impor yang tinggi pada Maret 2021 juga sejalan dengan beberapa indikator yang dirilis lembaga lain. Misalnya, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia oleh IHS Markit yang berada di level 53,2 atau pada fase ekspansi.

"Tentunya ini sangat bagus. Ke depan, tentunya kita berharap performa pada bulan Maret ini bisa diulang pada bulan-bulan berikutnya," imbuhnya. (kaw)

Baca Juga: Beruntun 24 Bulan, Neraca Dagang April 2022 Surplus US$7,56 Miliar
Topik : BPS, neraca perdagangan, ekspor, impor

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 27 April 2022 | 14:30 WIB
BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN

Safeguard Impor Benang Diperpanjang? Ini Kata KPPI

Selasa, 26 April 2022 | 21:11 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Larangan Ekspor RBD Palm Olein Berlaku Hingga Harga Migor Curah Segini

Selasa, 19 April 2022 | 11:00 WIB
PROVINSI MALUKU

Perbaiki Layanan, Bea Cukai Yakin Produk Perikanan Maluku Rajai Pasar

berita pilihan

Jum'at, 27 Mei 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tanda Pengenal Wajib Pajak Pakai NIK, NPWP Bakal Dihapus Bertahap

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:54 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPN Perbedaan Waktu Pengakuan Transaksi Pembelian

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Omzet Rp500 Juta Tak Kena Pajak, DJP: Bukan untuk UMKM WP Badan

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:00 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Surat Tanggapan dalam Proses Gugatan Pajak?

Jum'at, 27 Mei 2022 | 16:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Sudah Ikut PPS, Gubernur Ajak Warganya Juga Ungkapkan Hartanya

Jum'at, 27 Mei 2022 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

DJP Leburkan Kegiatan Pemeriksaan & Pengawasan, Ternyata Ini Tujuannya

Jum'at, 27 Mei 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK

Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak di e-Faktur 3.2

Jum'at, 27 Mei 2022 | 14:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Restitusi Pajak Diprediksi Meningkat, DJP: Berkat Tingginya Impor