APBN 2026

Jamin APBN Kuat, Purbaya: Tak Ada Perubahan Subsidi dan Harga BBM

Aurora K. M. Simanjuntak
Rabu, 25 Maret 2026 | 20.30 WIB
Jamin APBN Kuat, Purbaya: Tak Ada Perubahan Subsidi dan Harga BBM
<p>Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.</p>

JAKARTA, DDTCNews - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN 2026 tetap kuat dan stabil menghadapi dampak dari kenaikan harga minyak dunia yang kini mencapai US$74 per barel.

Lantaran APBN dinilai masih mampu untuk menanggung beban kenaikan harga minyak dunia, Purbaya mengatakan pemerintah tidak berencana menambah pagu untuk subsidi BBM atau menaikkan harga BBM.

"APBN kita 'kan masih tahan. Saya enggak akan ubah APBN atau besaran subsidi [BBM] yang ada sampai titik yang mungkin nanti harga minyak tinggi sekali. Tapi sekarang sampai akhir tahun dengan harga sekarang kita masih tahan APBN-nya, tergantung keputusan pemimpinan nantinya," ujarnya kepada awak media di Kantor Kemenkeu, Rabu (25/3/2026).

Purbaya optimistis defisit APBN tidak serta merta melebar hingga tembus 3% PDB jika harga minyak dunia naik ke level US$74 per barel. Harga tersebut hanya naik US$4 dari asumsi ekonomi makro dalam APBN 2026 yang ditetapkan senilai US$70 per barel.

Berdasarkan kalkulasinya, defisit bisa melebihi 3% PDB jika harga minyak dunia mencapai US$97 per barel sepanjang tahun dan pemerintah tidak melakukan intervensi apa pun. Dia menjamin akan terus meninjau kondisi global yang akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia, sehingga defisit bisa dijaga di bawah 3% PDB.

"Kita sudah simulasi sampai US$97 sepanjang tahun, harganya lebih tinggi dari sekarang kan yang baru US$74, itu kita hitung berapa defisit dan segala macam, sudah kita antisipasi. Kalau perlu, langkah apa yang kita ambil dan akan diambil segera. Kalau cuma naik US$4 pasti masih ada ruang tanpa mengubah apa-apa," papar Purbaya.

Dia juga mengaku tidak khawatir perang di Timur Tengah akan berdampak buruk bagi APBN karena ada berbagai instrumen untuk menjaga defisit anggaran.

Adapun instrumen yang dimaksud antara lain meningkatkan pendapatan negara, melakukan efisiensi belanja kementerian dan lembaga, serta menerapkan pungutan ekspor ketika harga komoditas di pasar dunia sedang tinggi.

"Semua probability atau peluang kita hitung. Mungkin kalau enggak sial sekali semuanya sudah masuk dalam hitungan. Sial ini artinya ada kejadian tak terduga yang kita tidak antisipasi sebelumnya. Tapi kalau sekarang sih cushion atau bantalan kita masih cukup," tutup Purbaya. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.