JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah akan meningkatkan volume produksi batu bara tahun ini guna menjaga pasokan energi sekaligus meredam gejolak harga bahan bakar minyak (BBM) akibat perang di Timur Tengah.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peningkatan kuota produksi batu bara merupakan salah satu upaya untuk menjaga defisit APBN di bawah 3% dari PDB. Sejalan dengan itu, pemerintah akan segera menyusun ulang rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.
"Bapak Presiden juga meminta agar volume produksi batu bara bisa ditingkatkan, berarti akan ada perbaikan RKAB," ujarnya, dikutip pada Sabtu (21/3/2026).
Tidak hanya mengerek kuota produksi batu bara, pemerintah juga sedang mengalkulasi rencana penerapan bea keluar atas ekspor batu bara di tengah kenaikan harga komoditas dunia. Idealnya, ketika produksi batu bara dalam negeri ditingkatkan, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri tetap aman, dan selebihnya bisa diekspor.
Airlangga menerangkan jika pemerintah menerapkan bea keluar atas batu bara yang dijual ke luar negeri, maka semakin besar potensi penerimaan yang dihimpun negara. Terlebih, saat ini berbagai komoditas sedang mengalami lonjakan harga di pasar global.
"Batu bara juga akan dihitung terkait pajak ekspornya, dan besaran tarifnya nanti akan dikaji oleh tim. Harapannya, pendapatan pemerintah juga naik dengan adanya windfall profit itu," katanya.
Sebagai informasi, penyusunan RKAB atas komoditas energi merupakan kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Rencana mengerek volume produksi batu bara ditengarai menganulir kebijakan Kementerian ESDM yang ingin memangkas produksi dalam RKAB 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pemangkasan itu bertujuan untuk menyelaraskan suplai dan permintaan serta menjaga stabilitas harga batu bara. Di samping itu, penyesuaian produksi batu bara dalam RKAB 2026 juga bermaksud untuk mencegah kelebihan pasokan akibat eksploitasi dan produksi batu bara secara berlebih.
"Kalau memang belum laku dengan harga baik, jangan dulu kita produksi secara masif, kasihan anak cucu kita ini. Suatu saat kita meninggal, mereka ini yang melanjutkan perjuangan negara ini. Jangan di saat mereka memimpin barang sudah habis karena kelakuan kita, sudah gitu jual murah lagi," kata Bahlil. (rig)
