JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah tidak kunjung menerapkan bea keluar atas ekspor komoditas batu bara hingga saat ini.
Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengungkapkan salah satu alasan pemerintah belum menerapkan pungutan bea keluar, yakni karena komoditas batu bara sedang mengalami lonjakan harga di pasar global. Pemerintah akan memanfaatkan peluang tersebut untuk meraup penerimaan, baik dari pajak, royalti, dividen maupun PNBP.
"Memang menjadi concern dan urgensi bagi pemerintah untuk melihat, bagaimana supaya selalu bisa memanfaatkan [situasi], kalau terjadi sisi kenaikan harga, tentunya penerimaan negara juga harus ikut naik," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (11/3/2026).
Dengan kata lain, pemerintah sedang menjaga daya saing ekspor batu bara Indonesia ketika harga komoditas relatif tinggi. Bila ada tambahan beban ekspor melalui bea keluar, khawatirnya volume dan nilai ekspor justru menurun karena perusahaan mengurangi ekspornya.
Lebih lanjut, Febrio menerangkan konflik perang yang terjadi di Timur Tengah memicu gejolak harga komoditas energi. Harga batu bara bahkan mencapai level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, yakni senilai US$107,5 per ton.
Sebagai informasi, harga batu bara tercatat melonjak tajam sebesar 28% sejak awal tahun (year to date/ytd), atau tumbuh sebesar 4,1% secara tahunan (year on year/yoy).
"Harga komoditas kan lagi naik ya, dan itu sering kita lihat terjadi kalau ada gejolak di global, terutama ketika harga minyak naik, maka harga komoditas lain juga biasanya ikut naik. Contoh, batu bara itu tumbuh secara year to date 28%," papar Febrio.
Meski pemerintah terkesan menunda karena memanfaatkan harga ekspor yang sedang tinggi, Febrio menjamin diskusi antar kementerian dan lembaga perihal pungutan bea keluar atas ekspor batu bara tetap berlanjut dan segera dirampungkan.
"Ini sedang kami finalkan, beberapa pembahasan masih terus berlanjut, dan nanti akan diumumkan persisnya seperti apa. Tapi kami harapkan ini juga akan berkontribusi bagi penerimaan negara, khususnya ketika harganya juga sedang meningkat," tuturnya. (rig)
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.