Academy_TP FMCG 2026
Perpajakan - Update Notif & Dekstop Sept 2026
[News] Banner Whatsapp Channel
JERMAN

Mobil Listrik Marak, Penerimaan Pajak BBM di Negara Ini Merosot

[DDTCNews] Redaksi
Selasa, 22 September 2026 | 17.30 WIB
Mobil Listrik Marak, Penerimaan Pajak BBM di Negara Ini Merosot
<table style="width:100%"> <tbody> <tr> <td> <p>Ilustrasi.</p> </td> </tr> </tbody> </table>

BERLIN, DDTCNews - Peralihan masyarakat Jerman ke kendaraan listrik mulai berdampak terhadap penerimaan pajak bahan bakar minyak (BBM) di Jerman.

Pakar pajak dan transportasi dari Kiel Institute for the World Economy (IfW) Jens Boysen-Hogrefe mengatakan makin banyak orang yang beralih menggunakan kendaraan listrik. Selain ramah lingkungan, kendaraan listrik juga dianggap lebih murah di tengah kenaikan harga minyak dunia.

"Ledakan mobil listrik yang dipicu oleh harga bahan bakar yang tinggi mempercepat transisi yang memang sudah direncanakan," katanya, dikutip pada Selasa (22/9/2026).

Data Badan Statistik Federal Jerman menunjukkan penerimaan pajak energi atas solar dan bensin turun dari €37 miliar atau Rp756,39 triliun pada 2016 menjadi €33 miliar atau Rp674,62 triliun pada 2025.

Penurunan penerimaan tersebut diperkirakan makin besar apabila peralihan ke kendaraan listrik terus berlangsung.

Komite penasihat ilmiah Kementerian Transportasi Jerman dalam laporan pada 2022 bahkan memproyeksikan penerimaan pajak energi dapat turun hingga sekitar €5 miliar atau Rp102,21 triliun pada 2050.

"Peralihan ke kendaraan listrik memiliki implikasi fiskal yang sejauh ini belum banyak dibahas," bunyi laporan tersebut.

Laporan itu juga menyebut potensi kekurangan penerimaan pajak akan menambah tekanan terhadap anggaran, terutama karena pemerintah masih memberikan berbagai dukungan untuk mendorong transisi kendaraan listrik.

Jerman telah menghapus insentif pembelian kendaraan listrik yang nilainya mencapai ribuan euro per kendaraan pada akhir 2023. Namun, kendaraan listrik masih mendapatkan pembebasan pajak kendaraan hingga 2035.

Perusahaan yang berinvestasi pada kendaraan listrik juga masih memperoleh sejumlah fasilitas pajak.

Penjualan kendaraan listrik yang terus meningkat membuat konsumsi bensin dan diesel di Jerman berpotensi menurun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah Jerman mencari sumber penerimaan baru untuk membiayai jalan dan infrastruktur transportasi.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), penjualan kendaraan listrik di Eropa pada kuartal I/2025 meningkat hampir 30% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Norwegia menjadi salah satu negara dengan penggunaan kendaraan listrik tertinggi. Penjualan kendaraan listrik mencapai sekitar 95% dari seluruh mobil baru yang terdaftar di negara tersebut.

IEA dalam laporan Global EV Outlook 2026 juga mencatat pertumbuhan kendaraan listrik yang signifikan di sejumlah kawasan lain. Di negara-negara Asia Pasifik di luar China, pertumbuhan penjualan kendaraan listrik di sejumlah wilayah mencapai hingga 80%. Sementara itu, pertumbuhan di Amerika Latin sekitar 75%.

Peralihan ke kendaraan listrik menjadi tantangan fiskal bagi Jerman karena kendaraan listrik tidak dikenai pajak energi atas pengisian daya, sementara pajak listrik yang dikenakan relatif kecil.

Saat ini, setiap liter solar di Jerman dikenai pajak energi sebesar €0,4704, sedangkan bensin dikenai €0,6545. Selain pajak energi, terdapat pungutan karbon dan PPN sebesar 19%.

Menurut klub otomotif ADAC, ketika harga bensin mencapai €2,10 per liter, sekitar €1,14 dari harga tersebut merupakan pajak dan pungutan. Artinya, lebih dari separuh harga bensin di tingkat konsumen masuk ke pemerintah dalam bentuk pajak.

Boysen-Hogrefe mengatakan sistem penerimaan yang bertumpu pada bahan bakar fosil selama ini memberikan penerimaan yang besar bagi pemerintah melalui pajak energi, tarif kendaraan berat, dan pajak karbon.

"Menteri keuangan tidak banyak mendapat keuntungan ketika orang-orang mengendarai mobil listrik. Justru sebaliknya," ujarnya dilansir dw.com. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.