Berita
Rabu, 01 Februari 2023 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PERDAGANGAN
Rabu, 01 Februari 2023 | 15:30 WIB
KPP PRATAMA TOLITOLI
Rabu, 01 Februari 2023 | 15:07 WIB
KANWIL DJP JAKARTA TIMUR
Rabu, 01 Februari 2023 | 14:43 WIB
KEBIJAKAN PERDAGANGAN
Review
Rabu, 01 Februari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (4)
Selasa, 31 Januari 2023 | 11:45 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 31 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (3)
Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB
TAJUK PERPAJAKAN
Fokus
Literasi
Senin, 30 Januari 2023 | 14:24 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 30 Januari 2023 | 10:45 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 27 Januari 2023 | 17:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 01 Februari 2023 | 10:00 WIB
KMK 6/2023
Rabu, 01 Februari 2023 | 09:31 WIB
KURS PAJAK 1 FEBRUARI - 7 FEBRUARI 2023
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Reportase

Begini Aturan Penyusutan untuk Bangunan yang Masih Proses Pengerjaan

A+
A-
5
A+
A-
5
Begini Aturan Penyusutan untuk Bangunan yang Masih Proses Pengerjaan

Ilustrasi.

JAKARTA, DDTCNews - Wajib pajak perlu memahami bahwa ada perbedaan ketentuan tentang waktu dimulainya penyusutan untuk bangunan yang masih dalam proses pengerjaan.

Sesuai dengan Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) s.t.d.t.d UU 7/2021 Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP), penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. Namun, terdapat pengecualian untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan.

“Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut,” bunyi Pasal 11 ayat (3) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, dikutip Sabtu (12/11/2022).

Baca Juga: Apa Kriteria Suatu Produk Termasuk Barang Kena Cukai? DJBC Bilang Ini

Agar lebih jelas, terdapat contoh kasus untuk ketentuan penyusutan tersebut yang dipaparkan dalam Penjelasan Pasal 11 ayat (3) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP.

Sebagai contoh, ada sebuah gedung mulai dibangun sejak bulan Oktober 2009. Sejak dimulai pembangunan gedung tersebut, sudah terdapat pengeluaran sebesar Rp1 miliar. Pembangunan gedung tersebut baru selesai dilakukan dan siap digunakan pada Maret 2010.

Mengacu pada ketentuan penyusutan secara fiskal yang diatur, atas gedung yang masih dalam proses pembangunan tersebut penyusutannya baru akan dimulai pada saat bulan selesainya pengerjaan bangunan tersebut, yakni pada Maret 2010. Meskipun, sejak Oktober 2009 telah dilakukan pengeluaran.

Baca Juga: Pengaturan Valuasi untuk Menentukan Dasar Pengenaan Pajak Natura

Kemudian, diatur pula terdapat ketentuan masa manfaat penyusutan secara fiskal untuk 2 jenis kelompok bangunan. Untuk kelompok bangunan permanen, masa manfaatnya selama 20 tahun. Sementara itu, untuk kelompok bangunan tidak permanen, masa manfaatnya selama 10 tahun.

Adapun yang dimaksud dengan bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun. Contohnya seperti barak atau asrama yang dibuat dari kayu untuk karyawan.

Selain itu, melalui UU HPP, terdapat penambahan ketentuan masa manfaat secara fiskal untuk bangunan permanen yang memiliki masa manfaat lebih dari 20 tahun. Ketentuan ini hanya berlaku untuk bangunan permanen yang selesai dibangun pada tahun pajak 2022 atau setelahnya.

Baca Juga: Hibah Bukan Objek PPh, Ini Maksud Tak Ada Hubungan Usaha dan Pekerjaan

Wajib pajak dapat memilih untuk menyusutkan bangunan permanen sesuai dengan ketentuan yang ada, yakni dengan masa manfaat selama 20 tahun atau dapat juga memilih untuk menyusutkan sesuai dengan masa manfaat bangunan permanen yang sebenarnya. (Fauzara Pawa Pambika/sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : UU HPP, penyusutan, aset, pengeluaran, UU PPh

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 25 Januari 2023 | 14:21 WIB
LAYANAN PAJAK

Ada Fitur Pelaporan Penyusutan dan Amortisasi di DJP Online

Rabu, 25 Januari 2023 | 10:40 WIB
KONSULTASI PAJAK

Sumbangan Sosial Hasil Produksi Sendiri, Kena PPN?

Rabu, 25 Januari 2023 | 10:30 WIB
KABUPATEN MALANG

Bupati Ajak Warga Validasi NIK Menjadi NPWP Sebelum Akhir 2023

berita pilihan

Rabu, 01 Februari 2023 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PERDAGANGAN

Hilirisasi Mineral Jalan Terus, Jokowi Tak Gentar dengan Gugatan WTO

Rabu, 01 Februari 2023 | 15:50 WIB
AGENDA PAJAK

Luncurkan e-Book Pedoman Perpajakan Indonesia, DDTC Gelar Talk Show

Rabu, 01 Februari 2023 | 15:30 WIB
KPP PRATAMA TOLITOLI

Imbau WP Segera Validasi NIK, Kantor Pajak Ini Kirim WA Blast

Rabu, 01 Februari 2023 | 15:07 WIB
KANWIL DJP JAKARTA TIMUR

Wah! DJP Telusuri Jaringan Penerbit Faktur Pajak Fiktif di Jakarta

Rabu, 01 Februari 2023 | 14:43 WIB
KEBIJAKAN PERDAGANGAN

Jokowi Bakal Setop Ekspor Konsentrat Tembaga Tahun Ini

Rabu, 01 Februari 2023 | 14:15 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Selepas Natal dan Tahun Baru, Tingkat Inflasi Masih Tembus 5%

Rabu, 01 Februari 2023 | 14:07 WIB
BINCANG ACADEMY

Mengejar Penyusunan Kebijakan Keuangan Daerah sebagai Turunan UU HKPD

Rabu, 01 Februari 2023 | 13:14 WIB
UNIVERSITAS TRILOGI

Penerapan CRM dan Teknologi Berpeluang Wujudkan Kepatuhan Kooperatif

Rabu, 01 Februari 2023 | 12:45 WIB
SELEKSI HAKIM AGUNG

Seleksi CHA: Triyono Martanto Ingin Pangkas Backlog Sengketa Pajak