Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Antara Biaya Pemasaran & Royalti Merek

4
4

Pertanyaan:

SAYA ingin bertanya tentang pembayaran royalti atas merek dagang dan trademark. Apakah jika suatu perusahaan mengeluarkan biaya pemasaran yang besar maka perusahaan tersebut tidak diperbolehkan untuk melakukan pembayaran royalti atas merek dagang dan trademark tersebut ke afiliasinya?

Mahmud, Jakarta

 

Jawaban:

TERIMA kasih Bapak Mahmud atas pertanyaannya. Merek dagang dan trademark merupakan bagian dari marketing intangible. Marketing intangible merupakan suatu simbol dapat berupa merek, trademark, tradename, yang digunakan untuk mempromosikan produk atau jasa yang dijual.

Marketing intangible tersebut dilisensikan oleh penerima lisensi (licensee) dengan harapan bahwa penggunaannya dapat meningkatkan penjualan atau laba perusahaan. Terkait dengan hubungan antara pembayaran royalti dengan biaya pemasaran yang masih harus dikeluarkan perusahaan, banyak menjadi perdebatan di berbagai negara.

Beberapa kasus yang sering dijadikan referensi terkait dengan hal ini adalah kasus Maruti-Suzuki di India, dan DHL di Amerika Serikat. Efek koreksi dari kasus seperti ini dapat berupa pengurangan nilai pembayaran royalti atau koreksi atas biaya pemasaran tersebut.

Secara garis besar analisis transfer pricing dilakukan dengan melihat dari sudut pandang pihak independen, apakah pihak independen mau membayarkan royalti sejenis namun masih harus mengeluarkan biaya pemasaran?

Biaya pemasaran suatu produk, baik produk tersebut mengandung suatu marketing intangible atau tidak, tetap harus dikeluarkan oleh perusahaan. Bukan berarti bahwa dengan melisensi suatu marketing intangible suatu perusahaan tidak perlu lagi melakukan aktivitas pemasaran dalam menjual produknya.

Salah satu nilai tambah yang diterima oleh licensee dari penggunaan marketing intangible tersebut dapat berupa peningkatan penjualan yang disebabkan oleh penggunaan marketing intangible tersebut, meminimalisasi risiko produk yang dijual tidak diterima oleh pasar, dan lain sebagainya.

Yang menjadi persoalan adalah seberapa besar biaya pemasaran yang wajar untuk dikeluarkan oleh licensee yang sudah membayar royalti atas marketing intangible tersebut. Karena apabila licensee mengeluarkan biaya pemasaran yang terlalu besar, hal tersebut disinyalir dapat meningkatkan nilai dari marketing intangible itu sendiri, sehingga menimbulkan manfaat kepada pemilik marketing intangible tersebut (licensor).

Analisis ambang batas biaya pemasaran yang wajar dapat dilakukan dengan metode brightline test yaitu dengan membandingkan biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh perusahaan pembanding independen.

Apabila jumlah biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh perusahaan lebih besar dari pembanding, maka kelebihannya dapat dijadikan pengurang pembayaran royalti, ditagihkan ke licensor, atau dianggap sebagai non-deductible expense oleh pemeriksa pajak.

Demikian jawaban kami. Salam.* (Disclaimer)

Topik : pajak royalti, biaya pemasaran, merek
artikel terkait
Senin, 05 November 2018 | 06:58 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Rabu, 31 Oktober 2018 | 06:05 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Kamis, 01 November 2018 | 08:01 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Kamis, 29 November 2018 | 06:14 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
berita pilihan
Senin, 26 September 2016 | 10:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 15 Oktober 2018 | 09:00 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 21 April 2017 | 11:45 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 13 Agustus 2018 | 14:55 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 26 Juni 2017 | 11:02 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 15 Agustus 2016 | 11:31 WIB
KONSULTASI PAJAK
Kamis, 01 November 2018 | 08:01 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Rabu, 17 Oktober 2018 | 06:41 WIB
KONSULTASI
Rabu, 06 Februari 2019 | 14:25 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 21 Januari 2019 | 16:11 WIB
KONSULTASI PAJAK