FOUNDER DDTC DANNY SEPTRIADI (BAGIAN 1)

Vienna bagi Danny Septriadi: Nostalgia Kota Studi

Redaksi DDTCNews
Kamis, 08 Januari 2026 | 09.00 WIB
Vienna bagi Danny Septriadi: Nostalgia Kota Studi
<p>Danny Septriadi, Founder DDTC, diapit dua profesional DDTC yang sedang menempuh studi di International Tax Law, Vienna University of Economics and Business, Dawud Abdul Qohar Lubis dan Abiyoga Sidhi Wiyanto.</p>

VIENNA, Austria ternyata bukan cuma rumah bagi Mozart, Brahms, Beethoven, dan para komposer hebat dalam sejarah musik. Kota yang dihuni sekitar 2 juta jiwa tersebut juga sempat jadi rumah bagi salah satu pendiri DDTC sekaligus Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), Danny Septriadi.

Pada 2004–2005, Danny menjalani studi master di Vienna University of Economics and Business (WU), departemen Austrian and International Tax Law. Berselang 20 tahun kemudian, tepatnya pada 31 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, ia kembali ke kota tersebut. Kepada DDTCNews, Danny merefleksikan kisah perjuangan hingga pandangannya tentang pendidikan. Berikut kutipan wawancaranya:

Apa kabar, pak? Bagaimana cuaca di Vienna?

Betul-betul berkah. Salju tipis cuma turun saat malam tahun baru. Selebihnya, cuaca cerah, jadi tetap bisa keluar walaupun lagi winter. Per hari, saya rata-rata jalan kaki 20.000 steps. Ada satu hari bahkan sampai 30.000 steps—sekitar 25 km. Sengaja jalan kaki, biar dapet vibe Eropanya. Ogah rugi pokoknya! He he he.

Setelah lulus dari program International Tax Law di Vienna University of Economics and Business (WU) tahun 2005 dan mengikuti 2nd International Conference on Taxpayers Right tahun 2017, menurut Anda, apa yang berubah dari Vienna sekarang?

Sebenarnya, saya lagi nggak fokus mencari apa yang berubah. Justru saya ingin menikmati nostalgianya. Napak tilas. Kunjungan ke Vienna kali ini, salah satu agenda utamanya reuni dengan roomate saya saat belajar 20 tahun lalu. Namanya Branimir Dokic. Dia orang Bosnia, tapi sekarang sudah warga negara Austria.

Bagaimana persahabatan itu bermula?

Mungkin agak kayak FTV, ya, ha ha ha. Tahun 2004, saya sedang cari apartemen buat tempat tinggal selama studi di WU. Habis lihat-lihat sebuah unit, tiba-tiba ada orang bilang ke saya, “Eh, tas kamu kebuka tuh! Hati-hati!” Kami lalu ngobrol sebentar. Ternyata, dia sama-sama mau studi dan ngider cari apartemen juga.

Singkat cerita, kami hunting unit bareng, lalu tinggal di apartemen daerah Kampstraße—distrik 20. Unit kami lokasinya paling atas, lantai enam. Cuma ada satu unit di lantai itu. Kami menyebutnya penthouse. Bukan karena yang paling mahal, justru karena yang biaya sewanya termurah di gedung itu. Maklum, liftnya manual.

Napak tilas Danny Septriadi (berjaket biru) ke apartemennya selama studi di Vienna University of Economics and Business (WU) tahun 2004–2005.

Ngomong-ngomong soal nostalgia, apa yang berkesan dari masa Anda kuliah di WU 20 tahun lalu?

Saya benar-benar menikmati masa studi saya di WU. Apa buktinya? Saya enggak takut salah atau gagal di kelas. Ada satu kelas yang saya sampai harus mengulang, VAT in Europe. Nggak apa-apa menurut saya. Karena kelas itu harusnya jadi tempatnya mahasiswa melakukan kesalahan. Daripada bikin kesalahannya setelah lulus apalagi saat praktik, kan?

Buat saya, perkuliahannya nggak mudah. Contoh, beberapa dosen waktu itu mengupas detail soal aturan-aturan pajak di Uni Eropa, termasuk Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Di kelas, saya sampai ngomong dalam hati, “Saya kan bakal pulang ke Indonesia dan berkarier di sana, ngapain saya pelajari hukum pajak di Austria, Jerman, UK, segala macam?”

Lantas, dengan tantangan itu, bagaimana strategi Anda menyelesaikan perkuliahan?

Saya cuma belum tahu saja. Ternyata, best practice dalam mempelajari pajak itu adalah melakukan studi komparatif. Dengan membandingkan tax law satu negara dengan negara lainnya, kita jadi tahu apa saja prinsip-prinsip pajak yang relevan atau membawa manfaat yang lebih besar dalam penerapannya.

Strategi ini sangat kepakai saat merintis DDTC di bidang Transfer Pricing bersama Pak Darussalam dan konsisten jadi tema dalam semua buku yang kami terbitkan, termasuk yang rilis di awal tahun 2025 kemarin.

Itu tantangan pertama. Tantangan keduanya adalah saya ambil master lagi di WU itu karena saya belum menemukan banyak solusi atas problem-problem perpajakan di Indonesia. Waktu itu, saya sudah jalan 10 tahun jadi praktisi pajak dan lulus master dari program Administrasi dan Kebijakan Pajak, Universitas Indonesia. Sedikit banyak, di kepala saya sudah tergambar apa saja problem-problem perpajakan di Indonesia yang mesti saya cari solusinya.

Mau tidak mau, tugas saya selama kuliah jadi dobel. Pertama, saya harus mempelajari materi pemberian dosen. Kedua, saya juga melakukan riset mandiri untuk mencari jawaban atas problem pajak di Indonesia.

Bagaimana dengan para pengajarnya?

Di WU, banyak pengajar yang top dan inspiratif. Buku dan risetnya jadi pondasi kebijakan perpajakan global. Hanya segelintir yang cara mengajarnya saya kurang cocok. Misal, ada satu profesor yang jago banget, highly respected, tapi tiap ngajar, suasana kelasnya tegang terus.

Tapi itu masih mending, lah. Yang lebih parah itu dosen yang modelnya cuma nyuruh mahasiswanya presentasi doang. Menurut saya, yang dibutuhkan student itu bukan cuma ilmu dari dosennya, tapi juga practical experience. Seperti apa sih pengalaman dia? Itu yang berharga dan perlu di-share ke mahasiswa. Tapi ini sangat sedikit di WU.

Model pengajaran ini baru efektif ketika mahasiswa di kelas punya ilmu dan pengalaman yang cukup untuk ditukarkan. Makin banyak bekalnya, akumulasi ilmu yang bisa masing-masing student peroleh kan juga makin banyak. Masalahnya, di kelas itu kebanyakan campur aduk: ada yang jam terbangnya sudah tinggi, ada yang minim pengalaman, atau fresh graduate.

Nah, karena tahu apa yang tidak saya sukai sebagai peserta ajar, maka saat menjadi pengajar, saya berusaha untuk tidak mengulanginya. Saya harus tingkatkan terus kemampuan saya dalam mengajar.

Jadi, sekalian saja, setelah dari Vienna, saya dan Ulwan Fakhri (peneliti IHIK3) akan ke Ceko, untuk ikut workshop Teaching with Humor. Mentornya Carmine Rodi dari Vice Versa Academy, Europass Teacher Academy in Prague. Workshop ini sekaligus jadi sentuhan terakhir untuk buku terbaru saya dan para penulis dari IHIK3 yang akan rilis awal tahun 2026 ini: Teaching with Humor: Ha+Ha=AHA!.

Tampilan sampul buku yang Danny Septriadi tulis bersama IHIK3 yang akan segera rilis. Buku ini akan dicetak dalam dua cover yang berbeda. Ada salah satu di antaranya yang paling Anda suka? :)

Kenapa mengajar dengan humor?

Tidak semua peserta ajar itu datang dalam kondisi yang siap untuk belajar. Ada yang fisiknya lelah, ada yang di rumah lagi ada masalah, macam-macam lah. Jadi, yang bisa pengajar bantu adalah memfasilitasi mereka untuk passionate, berhasrat buat eksplor dan belajar lagi dan lagi setelah jam kuliah selesai—enggak mungkin juga kan semua ilmu yang dosen miliki bisa tuntas dibagikan di dalam kelas doang? Nah, humor bisa memfasilitasi itu.

Tapi di sisi lain, saya bukannya mendorong pengajar itu harus bercanda terus di kelas. Pengajar bukan pelawak. Namanya saja pengajar, pastinya dia harus kompeten dulu dan punya pengalaman di bidang ilmunya. Humor di sini hanya sebagai strategi bahkan inspirasi materi dalam kegiatan belajar-mengajar.

Saya sendiri sudah beberapa kali bikin kelas yang menggabungkan pajak dengan humor. Tahun ini, saya juga akan mengajar beberapa tema, antara lain tentang resilience dan critical thinking untuk profesional pajak.

Lagian, sama sekali tidak ada ruginya loh bagi pengajar untuk meninggalkan kesan yang positif kepada peserta ajarnya. Sebab relasi dosen-mahasiswa itu sementara. Yang abadi, ya, relasi kita sebagai manusia. Saya baru baca-baca kemarin. Ternyata, di luar negeri, dosen dan mahasiswa kolaborasi di luar kelas itu biasa banget.

Pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, kolaborasi sama dosennya di Stanford, Terry Winograd dan Rajeev Motwani. Terus ada Carina Hong yang kolaborasi sama dosennya, Ken Ono, buat mengembangkan Artificial Intelligence di Axiom Math. Masih banyak lagi cerita-cerita mirip kayak gitu.

Jangan salah, DDTC sendiri lahir karena relasi dosen-mahasiswa juga. Waktu S2 di Universitas Indonesia, saya banyak konsultasi dengan Pak Darussalam terkait tesis saya. Beliau sebenarnya bukan pembimbing tesis saya, tapi saya sering diskusi sama Pak Darussalam karena cuma beliau yang waktu itu ngerti banget soal Transfer Pricing. Setelah kami berdua lulus dari studi di luar negeri, kami mendirikan DDTC.

Soal tesis ini juga lucu. Bisa dibilang, Pak Darussalam itu bantuin tesis saya nggak cuma di UI, tapi juga pas kuliah di WU. Saya kuliah di Vienna itu dalam kondisi enggak punya laptop. Akhirnya, tiap malam, saya harus ngerjain tesis di ruang komputer kampus yang buka 24 jam. Pulang dini hari bahkan menerjang hujan salju—kebetulan saya bikin tesis pas winter. Nah, pas saya sempat pulang ke Indonesia, saya pinjam laptopnya Pak Darussalam—waktu itu beliau punya dua unit. Istilahnya nih, ada kontribusi Pak Darussalam dalam penyelesaian dua tesis saya.

Selain di bidang perpajakan, Anda passionate sekali di bidang pendidikan. Bagaimana caranya biar passion Anda ini bisa menular ke yang lain?

Knowledge sharing. DDTC kan bisa bertumbuh sejauh ini karena budaya itu. Knowledge is not power, sharing knowledge is. Seperti yang barusan saya ceritakan, DDTC tidak akan berdiri kalau Pak Darussalam pelit, tidak mau berbagi knowledge soal Transfer Pricing-nya ke saya. Spirit Pak Darussalam itu terus kita bawa. Saya sendiri sekarang masih jadi pengajar di kampus. Ditambah lagi, DDTC rutin menguliahkan para profesionalnya.

Soalnya, bidang pajak ini kan sangat dinamis. Apa yang saya pelajari 20 tahun lalu itu pasti sudah banyak yang obsolete, kuno—kecuali principles-nya. Padahal, kita harus terus up to date dengan kebijakan dan praktik pajak ke depan.

Sejauh ini, DDTC sudah kirim 11 orang untuk belajar ke luar negeri. Pada tahun ajaran 2025/2026, ada dua orang yang sedang belajar International Tax Law full-time di WU: Dawud Abdul Qohar Lubis (Senior Specialist of DDTC Consulting) dan Abiyoga Sidhi Wiyanto (Specialist of DDTC Fiscal Research & Advisory).

Kita doakan supaya mereka bisa menyelesaikan studinya dengan lancar. Karena nanti begitu kelar studi, mereka akan meneruskan tradisi knowledge sharing-nya DDTC. 'Oleh-oleh' pertama yang saya, Pak Darussalam, dan DDTC tagih pasti soal ada perkembangan dan terobosan terbaru apa nih di dunia perpajakan internasional.

Tapi kalau dibawakan cokelat, saya sih enggak menolak he he he.

Danny Septriadi, Founder of DDTC (kiri), bersama dua profesional DDTC yang sedang menempuh studi di International Tax Law, Vienna University of Economics and Business, Dawud Abdul Qohar Lubis dan Abiyoga Sidhi Wiyanto.

*Pandangan Danny Septriadi soal pendidikan perpajakan seperti apa yang relevan di Indonesia hingga alasan kenapa ia mampir ke Schönbrunn Palace sampai dua kali bisa Anda simak di artikel selanjutnya.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.