Review
Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:00 WIB
Kepala KPP Madya Dua Jakarta Selatan II Kurniawan:
Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:30 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 11 Oktober 2021 | 14:19 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:29 WIB
PROFIL PERPAJAKAN LIECHTENSTEIN
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:45 WIB
SUPERTAX DEDUCTION (7)
Data & Alat
Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 13 OKTOBER - 19 OKTOBER 2021
Rabu, 06 Oktober 2021 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 6-12 OKTOBER 2021
Rabu, 22 September 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 22 - 28 SEPTEMBER 2021
Rabu, 15 September 2021 | 11:00 WIB
STATISTIK FISKAL DAERAH
Komunitas
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 14:42 WIB
HASIL SURVEI PAJAK KARBON
Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:15 WIB
HASIL DEBAT 23 SEPTEMBER - 11 OKTOBER 2021
Senin, 11 Oktober 2021 | 11:05 WIB
AGENDA PAJAK
Minggu, 10 Oktober 2021 | 09:00 WIB
KETUA GPBSI DJONNY SYAFRUDDIN
Reportase
Perpajakan.id

'Seperti Menaruh Kuman di Lengan'

A+
A-
5
A+
A-
5
'Seperti Menaruh Kuman di Lengan'

Hoegeng Iman Santoso. (Tangkapan Youtube Metro TV)

SEJAK lahir ia berdarah ningrat. Keluarganya berkerabat dengan keluarga R.A. Kardinah, pendiri Rumah Sakit Kardinah Tegal, istri Bupati Tegal sekaligus kakak R.A. Kartini di Rembang, Jawa Tengah. Lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921, ia menikmati masa kecilnya tanpa kekurangan.

Maklum, ayahnya, Soekarjo Kario Hatmodjo, adalah Kepala Kejaksaan Karesidenan Pekalongan. Sewaktu lahir Soekarjo memberinya nama Iman Santoso. Namun, ia sering dipanggil Boegel (gemuk), kemudian berubah menjadi Boegeng, dan akhirnya berubah menjadi Hoegeng.

Pada usia 6 tahun, Hoegeng dimasukkan ke sekolah dasar Belanda/Hollandsch-Inlandsche School, kemudian berlanjut ke SMP (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di masa SMP inilah ia membentuk band Hawaian bernama Herrie Trappers—bahasa Belanda yang artinya tukang recok.

Baca Juga: Tidak Bisa Lagi Pakai PPh Final? WP Badan UMKM Dapat Manfaatkan Ini

Band ini sesekali pentas di Societiet Delectatio, salah satu klub elit di Pekalongan, untuk mengiringi dansa-dansi para Indo dan warga Belanda. Kelak, setelah pensiun, ia kembali melanjutkan karir bermusik yang dipendamnya ini. Di masa SMP ini pula bakatnya yang lain, melukis, mulai terasah.

Di Pekalongan, ayahnya bersahabat dengan Soeprapto dan Ating Natadikusumah. Hoegeng sering melihat keduanya berkunjung ke rumah. Soeprapto Kepala Pengadilan Karesidenan Pekalongan yang kelak jadi Jaksa Agung, sedangkan Ating Kepala Kepolisian Karesidenan Pekalongan.

Ketiganya kompak dalam usaha penegakan hukum yang jujur dan profesional. Ketiganya mendirikan panti asuhan, panti jompo, dan balai pelatihan di Pekalongan bernama Balai Cintraka Mulya. “Mereka gagah, suka menolong banyak orang dan banyak teman,” kata Hoegeng. (Santoso, 2009)

Baca Juga: Siapkan Rp8 Triliun, Program Relaksasi Pajak Berlanjut Tahun Depan

Setelah lulus SMP, Hoegeng hijrah ke Yogyakarta melanjutkan ke SMA (Algemeene Middelbare School) A Bagian Klasik Barat, yang dipersiapkan untuk siswa yang tertarik belajar hukum. Begitu lulus, pada usia 19 tahun ia bertolak ke Batavia untuk belajar hukum di RHS (Rechts Hoge School).

Sayang, Jepang kemudian masuk hingga RHS terpaksa tutup. Hoegeng pun tidak bisa menyelesaikan belajarnya. Lalu ia pulang ke Pekalongan, masuk kursus polisi, dan bekerja di Kepolisian Karesidenan Pekalongan. Pada 1952, ia lulus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Angkatan I di Jakarta.

Pada 1961, Menko Pertahanan dan Keamanan A.H. Nasution menarik Hoegeng menjadi Kepala Djawatan Imigrasi di Jakarta. Hoegeng, yang mengetahui dirinya bakal dilantik, langsung meminta istrinya, Merry, segera menutup toko kembangnya di Menteng.

Baca Juga: AS Mulai Desak Negara Lain Agar Cabut Pajak Digital

Ketika ditanya Merry hubungan antara jabatan Dirjen Imigrasi dan toko kembangnya, Hoegeng menjawab, ”Nanti semua yang berurusan dengan Imigrasi akan memesan kembang ke toko Ibu dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya,” kata Hoegeng. (Key Timu, 2004)

Selama bertugas di Imigrasi, Hoegeng tetap mengenakan seragam polisi, karena dia hanya mengambil gaji dari kepolisian, tidak dari Imigrasi. Ia juga menolak mobil dinas Imigrasi dan upaya merenovasi rumahnya. Hoegeng beralasan, apa yang didapatkan dari kepolisian sudah cukup.

Pada 1965, atas rekomendasi Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hamengkubuwono IX, Bung Karno mengangkat Hoegeng sebagai Menteri Iuran Negara dalam Kabinet 100 Menteri atau Kabinet Dwikora. Ia membawahi Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai, dan Ditjen Pajak Tanah.

Baca Juga: Pancing Ekspatriat, Tarif Pajak Penghasilan Bakal Dipatok 17%

Saat itu, Setneg memintanya pindah dari rumah di Jalan M. Yamin, Menteng, ke rumah lebih besar. Namun, Hoegeng menolak karena selain rumah itu masih layak, negara tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuknya. Justru, ia bertugas mencari uang untuk negara, bukan sebaliknya.

Pola kerjanya di Imigrasi tetap berlanjut di posisi yang baru. Saat menjabat, datang calon pegawai Bea dan Cukai membawa surat sakti Waperdam II Leimena. Tujuannya meminta diberi kemudahan. Hoegeng lalu mengirim surat ke Leimena dan meminta maaf karena tidak bisa membantu.

Setahun sebagai Menteri Iuran Negara dan sempat ke Setkab, Hoegeng kembali ditarik ke Kepolisian dan menjadi Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian. Meski itu berarti turun pangkat dari menteri menjadi Wakil Kapolri, Hoegeng menerimanya karena ia merasa kembali ke habitatnya.

Baca Juga: Tidak Bakal Ditunda Lagi, Pajak Cryptocurrency Berlaku Mulai 2022

Dua tahun berikutnya ia dilantik sebagai Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri). Setiap ada perjalanan dinas ke luar negeri, Hoegeng selalu pergi sendiri tanpa istri atau anak. Ia juga menolak pembangunan gardu jaga di rumahnya dan menolak diberi pengawalan secara berlebihan.

“Menerima pemberian pertama itu seperti menaruh kuman di lengan, lalu terasa sedikit gatal. Kita akan menggaruknya pelan-pelan. Wuah, nikmatnya luar biasa. Makin sering dan makin banyak yang diterima, gatal itu akan semakin intens dan menggaruknya pun akan semakin keras pula,” katanya.

Pada Oktober 1971, setelah menuntaskan kasus penyelundupan mobil Robby Tjahjadi dan investigasinya dalam kasus Sum Kuning dihentikan, Presiden Soeharto memberhentikan Hoegeng dengan alasan peremajaan. Padahal, usia Kapolri penggantinya lebih tua dari dirinya.

Baca Juga: DJP Lelang Mobil Sitaan Pajak, Dilego Mulai Rp45 Juta

Lalu apa kata Hoegeng? Ia menerima pemberhentian itu seraya menolak jabatan Dubes Belgia. "Di Indonesia ini hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disuap. Pertama, Hoegeng, kedua, patung polisi, ketiga polisi tidur,” kata Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid dalam satu diskusi, Agustus 2006. (Bsi)

Topik : kutipan pajak, hoegeng, pajak, menteri iuran negara

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

adang83

Kamis, 25 Juni 2020 | 07:32 WIB
Salam.hormat untuk bapak hoegeng
1

ARTIKEL TERKAIT

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 14:00 WIB
AUSTRALIA

Negara Ini Kukuh Tolak Pajak Karbon, Pilih Cara Lain Tekan Emisi

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 13:00 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

​​​​​​​Tren Covid Turun, Kinerja PAD Bakal Membaik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 12:30 WIB
KONSENSUS PAJAK GLOBAL

Ini Alasan Kenya Enggan Setujui Konsensus Pajak Global

berita pilihan

Senin, 18 Oktober 2021 | 08:14 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

Tidak Bisa Lagi Pakai PPh Final? WP Badan UMKM Dapat Manfaatkan Ini

Minggu, 17 Oktober 2021 | 15:00 WIB
IRLANDIA

Siapkan Rp8 Triliun, Program Relaksasi Pajak Berlanjut Tahun Depan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 14:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

AS Mulai Desak Negara Lain Agar Cabut Pajak Digital

Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:00 WIB
THAILAND

Pancing Ekspatriat, Tarif Pajak Penghasilan Bakal Dipatok 17%

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

BUMN Go Global, Jokowi Minta Adaptasi Teknologi Dipercepat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:00 WIB
KOREA SELATAN

Tidak Bakal Ditunda Lagi, Pajak Cryptocurrency Berlaku Mulai 2022

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:30 WIB
LELANG KENDARAAN

DJP Lelang Mobil Sitaan Pajak, Dilego Mulai Rp45 Juta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Besaran Sanksi Ultimum Remedium atas Pidana Cukai di UU HPP

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:30 WIB
KABUPATEN BERAU

Banyak Warga Menunggak Pajak, Pemda Siapkan Insentif