Fokus
Data & Alat
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Selasa, 10 Mei 2022 | 14:30 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Reportase
Perpajakan ID

Rupiah Melemah, BI: Hanya Jangka Pendek

A+
A-
1
A+
A-
1
Rupiah Melemah, BI: Hanya Jangka Pendek

Ilustrasi BI. 

JAKARTA, DDTCNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah dalam dua pekan terakhir. Otoritas moneter menyebut hal tersebut bersifat jangka pendek.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan faktor eksternal memainkan peran utama atas depresiasi tersebut. Ada dua isu yang membuat rupiah loyo. Pertama, penyataan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.

“The Fed memberi sinyal tidak akan menaikkan atau menurunkan suku bunga, sedangkan ekspektasi pasar adalah The Fed menurunkan suku bunga kebijakannya,” katanya di Kantor BI, Senin (6/5/2019).

Baca Juga: Perhatian! DJP Evaluasi e-Bupot, Ada Klasifikasi Jumlah Bukti Potong

Kedua, penyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali memanaskan perang dagang dengan China. Pernyataan itu terkait dengan rencana AS yang akan mengenakan bea impor terhadap berbagai produk China senilai US$200 miliar pada pekan ini.

Berkat kedua isu tersebut, posisi dolar AS berbalik menguat terhadap beberapa mata uang negara di kawasan Asia Pasifik. Tidak tanggung-tanggung, pasar saham China tercatat mengalami koreksi hingga 5% akibat pernyataan tersebut.

“Dinamika seperti ini, yang disebabkan oleh statement, biasanya hanya jangka pendek dan dalam waktu singkat bisa berbalik arah,” paparnya.

Baca Juga: Pangkas Tarif Cukai BBM, Setoran ke Negara Ini Hilang Rp188 Triliun

Sementara itu, faktor domestik relatif tidak yang terlalu dirisaukan bank sentral. Stabilitas dan pertumbuhan ekonomi diklaim tetap terjaga baik pada kuartal I/2019. Satu-satunya isu domestik adalah meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) pada kuartal II tahun ini.

“Pola musiman kuartal II ikut memengaruhi yakni permintaan valas yang meningkat untuk kebutuhan pembayaran deviden dan juga impor,” imbuh Nanang. (kaw)

Baca Juga: Pemerintah Fokus Lakukan Konsolidasi Fiskal, Ternyata Ini Alasannya
Topik : BI, rupiah, The Fed, Donald Trump, perang dagang

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 11 Mei 2022 | 14:30 WIB
PERPRES 74/2022

Insentif Pajak untuk Industri Bakal Terintegrasi ke dalam SIINas

Rabu, 11 Mei 2022 | 13:30 WIB
PERPRES 74/2022

Minim Sosialisasi, Fasilitas Fiskal untuk Manufaktur Tak Maksimal

Rabu, 11 Mei 2022 | 12:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Tak Ada Eror, Ini Tips DJP Jika WP Kesulitan Akses e-Bupot Unifikasi

berita pilihan

Senin, 23 Mei 2022 | 18:25 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Catat! DJP Makin Gencar Kirim Email Imbauan PPS Berbasis Data Rekening

Senin, 23 Mei 2022 | 18:09 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Perhatian! DJP Evaluasi e-Bupot, Ada Klasifikasi Jumlah Bukti Potong

Senin, 23 Mei 2022 | 18:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu PPFTZ 01, PPFTZ 02, dan PPFTZ 03?

Senin, 23 Mei 2022 | 17:39 WIB
KINERJA FISKAL

APBN Surplus Rp103,1 Triliun Per April 2022, Begini Kata Sri Mulyani

Senin, 23 Mei 2022 | 17:25 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Batas Akhir SPT Tahunan, Penerimaan PPh Badan April 2022 Tumbuh 105,3%

Senin, 23 Mei 2022 | 17:11 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Penerimaan Pajak Tumbuh 51,49% di April 2022, Sri Mulyani: Sangat Kuat

Senin, 23 Mei 2022 | 17:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

Yellen Dukung Relaksasi Bea Masuk atas Barang-Barang Asal China

Senin, 23 Mei 2022 | 16:45 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Sri Mulyani Sebut Inflasi April 2022 Tertinggi dalam 2 Tahun Terakhir