Review
Selasa, 04 Oktober 2022 | 10:44 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 29 September 2022 | 16:16 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Fokus
Literasi
Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 17:11 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 03 Oktober 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 05 Oktober 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 5 OKTOBER - 11 OKTOBER 2022
Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:15 WIB
KMK 50/2022
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Reportase

Pembeli Pemusatan PPN di KPP BKM, Bagaimana Pengisian Alamatnya?

A+
A-
10
A+
A-
10
Pembeli Pemusatan PPN di KPP BKM, Bagaimana Pengisian Alamatnya?

Pertanyaan:
PERKENALKAN, saya Andi. Perusahaan tempat saya bekerja mendapatkan pembeli yang berasal dari Surabaya. Setelah ditelusuri, pembeli tersebut merupakan kantor cabang. Sementara itu, kantor pusat pembeli berada di Jakarta dan terdaftar sebagai wajib pajak KPP Madya.

Dalam menjalankan kewajiban pajak pertambahan nilai (PPN), pembeli diketahui melakukan pemusatan PPN dengan kantor pusat. Pertanyaan saya, bagaimana penulisan alamat pembeli dalam faktur pajak yang akan kami buat? Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih.

Jawaban:
TERIMA kasih atas pertanyaannya, Bapak Andi. Untuk menjawab pertanyaan Bapak Andi, kita dapat mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022 tentang Faktur Pajak (PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022).

PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022 memuat ketentuan terkait dengan pencantuman alamat pembeli yang melakukan pemusatan PPN. Secara spesifik, pembeli yang dimaksud ialah pembeli yang melakukan pemusatan PPN terutang kepada KPP di lingkungan Kanwil DJP Wajib Pajak Besar, KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya (KPP BKM).

Ketentuan ini tertulis dalam Pasal 6 ayat (7) PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022 yang berbunyi:

“(7) Pemusatan tempat PPN atau PPN dan PPnBM terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) yaitu pemusatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak mengenai tempat pendaftaran Wajib Pajak dan pelaku usaha melalui sistem elektronik dan/atau tempat pelaporan usaha PKP pada kantor pelayanan pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, kantor pelayanan pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, dan kantor pelayanan pajak madya.

Sesuai dengan pernyataan Bapak Andi, pembeli yang diceritakan merupakan pembeli yang melakukan pemusatan PPN di KPP Madya. Dengan demikian, telah memenuhi kriteria yang dimaksud dari ketentuan PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022.

Setelah mengidentifikasi bahwa pembeli melakukan pemusatan PPN di KPP BKM, Bapak Andi perlu menentukan tempat penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP). Alasannya dapat kita lihat pada Pasal 6 ayat (6) PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022, yaitu sebagai berikut.

“(6) Dalam hal penyerahan BKP dan/atau JKP dilakukan kepada Pembeli BKP dan/atau Penerima JKP yang melakukan pemusatan tempat PPN atau PPN dan PPnBM terutang, tetapi BKP dan/atau JKP dimaksud dikirimkan atau diserahkan ke tempat PPN atau PPN dan PPnBM terutang yang dipusatkan yang berada di kawasan tertentu atau tempat tertentu yang mendapat fasilitas PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut, serta penyerahan BKP dan/atau JKP dimaksud merupakan penyerahan yang mendapat fasilitas PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut, berlaku ketentuan sebagai berikut:

  1. nama dan NPWP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yaitu nama dan NPWP PKP tempat dilakukannya pemusatan PPN atau PPN dan PPnBM terutang; dan
  2. alamat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yaitu alamat tempat PPN atau PPN dan PPnBM terutang yang dipusatkan yang menerima BKP dan/atau JKP yang berada di kawasan tertentu atau tempat tertentu yang mendapat fasilitas PPN atau PPN dan PPnBM tidak dipungut dimaksud.”

Berdasarkan pada muatan materi tersebut, jika BKP dan/atau JKP diserahkan ke tempat yang dipusatkan dan berada di kawasan tertentu maka alamat yang digunakan adalah alamat cabang. Lalu, nama dan NPWP PKP pembeli yang dicatumkan dalam faktur pajak ialah nama dan NPWP pusat.

Perlu diketahui pula, kawasan tertentu yang dimaksud ialah tempat penimbunan berikat, kawasan ekonomi khusus (KEK), dan kawasan tertentu lainnya di dalam daerah pabean yang menerima fasilitas PPN atau PPN dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tidak dipungut. Aturan ini tertulis dalam Pasal 6 ayat (7a) PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022.

Dalam kasus Bapak Andi, belum disebutkan terkait apakah pembeli berada pada kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (7a) PER-03/PJ/2022 s.t.d.d PER-11/PJ/2022 atau tidak.

Jika berada di kawasan tertentu maka faktur pajak yang dibuat menggunakan alamat cabang dengan nama dan NPWP pusat. Sementara itu, jika tidak berada di kawasan tertentu maka penulisan alamat dapat merujuk pada ketentuan umum.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga membantu.

Sebagai informasi, artikel Konsultasi UU HPP akan hadir setiap Selasa guna menjawab pertanyaan terkait UU HPP beserta peraturan turunannya yang diajukan ke email [email protected]. Bagi Anda yang ingin mengajukan pertanyaan, silakan langsung mengirimkannya ke alamat email tersebut.

(Disclaimer)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : Konsultasi UU HPP, DDTC Fiscal Research & Advisory, konsultasi pajak, pajak, UU HPP, faktur pajak

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 05 Oktober 2022 | 08:33 WIB
SELEKSI HAKIM AGUNG

8 Calon Hakim Agung TUN Khusus Pajak Ini Lulus Seleksi Administrasi

Selasa, 04 Oktober 2022 | 18:04 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Penyelenggara e-Commerce Jadi Pemungut Pajak? Ini Kata Pemerintah

Selasa, 04 Oktober 2022 | 17:36 WIB
KERJA SAMA PERPAJAKAN

Wah, Ditjen Pajak dan Korlantas Polri Teken Kerja Sama Pertukaran Data

Selasa, 04 Oktober 2022 | 17:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Ditjen Pajak Sebut Ada 2.422 Peserta PPS yang Harus Repatriasi Harta

berita pilihan

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:40 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Perseroan Perorangan Pakai PPh Final, DJP: Ada Kewajiban Pelaporan

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Anjak Piutang dalam Perpajakan?

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Inflasi Capai 5,95 Persen, BKF: Lebih Rendah dari Proyeksi Pemerintah

Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Masih Proses, Integrasi CRM Bikin Peta Kepatuhan WP Lebih Komprehensif

Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:15 WIB
DDTC ACADEMY

Ketahui Aspek Transfer Pricing Pertambangan Batu Bara pada Kelas Ini

Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:30 WIB
KPP PRATAMA BINTAN

Adakan KPDL, Petugas Pajak Temukan Perusahaan Belum Punya NPWP

Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Banyak Temuan BPK Soal Insentif Pajak, Begini Update Tindak Lanjut DJP

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:30 WIB
OPERASI JARING SRIWIJAYA 2022

DJBC Gagalkan Penyelundupan Barang Rp244 M di Perairan Indonesia Barat

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:10 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022

Mengantisipasi Risiko Hilangnya Potensi Pajak dari Sharing Economy