JAKARTA, DDTCNews - Presiden Prabowo Subianto mengatakan underinvoicing menjadi salah satu sebab rendahnya gaji para guru dan ASN di Indonesia.
Prabowo mengatakan potensi penerimaan negara yang hilang akibat praktik underinvoicing dalam 34 tahun terakhir telah mencapai US$908 miliar atau kurang lebih Rp15.000 triliun.
"Kita telah rugi US$908 miliar selama 34 tahun atau Rp15.000 triliun. Mengapa gaji guru tidak bisa baik? Mengapa gaji pegawai negara tidak bisa baik? Mengapa anggaran selalu kurang? Ya karena uangnya tidak ada, diambil terus," ujar Prabowo dalam Penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Selasa (23/6/2026).
Underinvoicing dilakukan oleh pengusaha dengan memberikan laporan palsu atas komoditas yang mereka ekspor. "Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi," ujar Prabowo.
Prabowo pun mengeklaim data ini membuktikan terjadinya aliran kekayaan nasional ke luar negeri atau net outflow of national wealth.
"Kalau darah kita setiap hari keluar, di ujungnya badan kita mati. Begitu kaya republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar," ujar Prabowo.
Dalam rangka mengatasi underinvoicing tersebut, pemerintah telah menerapkan kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN ekspor bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Pada masa transisi, DSI kini menjalankan perannya sebagai perantara tunggal atas ekspor batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy yang tercakup dalam kebijakan ekspor satu pintu.
Ke depan, kebijakan ekspor satu pintu akan dilaksanakan secara penuh oleh DSI selaku pemilik produk mulai 1 Januari 2027 sesuai dengan PP 24/2026. (dik)
