Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Wah, Ide Pencatatan Aset Global Diklaim Mampu Atasi Penggelapan Pajak

1
1

Ilustrasi. 

JAKARTA, DDTCNews – Penyakit ekonomi global – seperti ketimpangan kekayaan dan penggelapan pajak yang sistemik – dapat ditangani melalui pencatatan aset kekayaan global atau global wealth asset registry (GAR).

Ide ini diungkapkan Independent Commission for the Reform of International Corporate Taxation (ICRICT). ICRICT merupakan lembaga masyakat sipil yang didalamnya juga ada beberapa ekonom elit seperti Joseph Stiglitz dan Thomas Piketty.

Rincian skema belum ada. Namun, ide GAR yang dikembangkan sangat berbasis pada instrumen transparansi. ICRICT mencoba membangun kerangka, di mana skema pencatatan diusulkan untuk menunjukkan keterkaitan antara data kekayaan yang ada dan telah tercatat serta data kekayaan yang belum terlacak.

Baca Juga: Menkeu Sebut Loyonya Penerimaan Pajak Jadi Indikasi Lesunya Ekonomi

“Terlebih, bocornya informasi kepemilikan kekayaan di luar negeri seperti Panama Papers dan Paradise Papers sebenarnya telah menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin untuk mengumpulkan data-data tersebut,” demikian informasi yang dikutip dari Tax Notes International vol. 94 no. 2 pada Selasa (16/4/2019).

Ide ini sebelumnya juga turut dikemukakan oleh Komite Khusus Kejahatan Keuangan, Penggelapan Pajak, dan Penghindaran Pajak atau yang dikenal sebagai TAX3. TAX3 merupakan komite khusus yang terdapat pada parlemen Uni Eropa untuk membantu pembuatan kebijakan.

Laporan terakhir dari komite ini dapat mempelopori inisiatif global untuk melakukan pencatatan kepemilikan manfaat (beneficial ownership) dari publik secara terpusat. Tumbuhnya perekonomian global tanpa batasan menjadi pemicunya.

Baca Juga: Terbitkan Samurai Bonds Lagi, Pemerintah Tawarkan Tenor 20 Tahun

“Tumbuhnya perekonomian global yang saling berkaitan tanpa batasan yang jelas serta adanya digitalisasi ekonomi sangat mendesak untuk ditangani secara lebih sistematis karena mereka mempengaruhi perpajakan,” ujar Luděk Niedermayer dari TAX3.

ICRICT menyebut GAR merupakan perangkat transparansi yang sebenarnya telah tersedia. Secara sederhana, GAR dapat dengan mudah menghubungkan data pendaftaran yang melacak kepemilikan harta kekayaan seperti tanah, sekuritas, perusahaan, dan lainnya.

GAR sendiri harus memiliki dua karakteristik. Pertama, ia harus melacak data kepemilikan manfaat (beneficial ownership). Kedua,sistem pendataannya sendiri harus memiliki data yang dapat dibaca oleh mesin. Adapun karakteristik lainnya dapat dinegosiasikan seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: Penerimaan Pajak Warga Asing di Bali Bakal Dioptimalkan

Idealnya, GAR ini akan bersifat global. Namun, instrumen ini juga bisa menjadi jaringan pencatatan aset nasional yang saling berhubungan satu sama lain. Potensi pendekatan inilah yang menurut anggota parlemen Uni Eropa menjadi paling realistis. Lebih lanjut, Uni Eropa pun disebut sebagai tempat yang ideal untuk memulai uji coba program ini.

Proposal yang digagas oleh ICRICT ‘A Roadmap for A Global Asset Registry’ ini dinilai bersifat provokatif. ICRICT mengakui di tengah adanya permasalahan terkait privasi, dokumen bahwa pencatatan kekayaan global bukan merupakan utopia masa depan yang tidak mungkin.  Terlebih, hal ini sangat berkaitan dengan perluasan upaya transparansi pajak dunia sebelum terbentuknya organisasi pajak global.  

Pengembangan kerangka GAR ini dijadwalkan pada awal  bulan Juli tahun ini di Paris. ICRICT juga mengundang partisipasi publik dalam mengembangkan kerangka GAR melalui Call for Paper dengan tenggat waktu pada 15 Mei 2019 yang dapat diakses pada link berikut ini. (kaw)

Baca Juga: Realisasi 2 Pos Perpajakan Ini Tidak Capai Target

Rincian skema belum ada. Namun, ide GAR yang dikembangkan sangat berbasis pada instrumen transparansi. ICRICT mencoba membangun kerangka, di mana skema pencatatan diusulkan untuk menunjukkan keterkaitan antara data kekayaan yang ada dan telah tercatat serta data kekayaan yang belum terlacak.

Baca Juga: Menkeu Sebut Loyonya Penerimaan Pajak Jadi Indikasi Lesunya Ekonomi

“Terlebih, bocornya informasi kepemilikan kekayaan di luar negeri seperti Panama Papers dan Paradise Papers sebenarnya telah menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin untuk mengumpulkan data-data tersebut,” demikian informasi yang dikutip dari Tax Notes International vol. 94 no. 2 pada Selasa (16/4/2019).

Ide ini sebelumnya juga turut dikemukakan oleh Komite Khusus Kejahatan Keuangan, Penggelapan Pajak, dan Penghindaran Pajak atau yang dikenal sebagai TAX3. TAX3 merupakan komite khusus yang terdapat pada parlemen Uni Eropa untuk membantu pembuatan kebijakan.

Laporan terakhir dari komite ini dapat mempelopori inisiatif global untuk melakukan pencatatan kepemilikan manfaat (beneficial ownership) dari publik secara terpusat. Tumbuhnya perekonomian global tanpa batasan menjadi pemicunya.

Baca Juga: Terbitkan Samurai Bonds Lagi, Pemerintah Tawarkan Tenor 20 Tahun

“Tumbuhnya perekonomian global yang saling berkaitan tanpa batasan yang jelas serta adanya digitalisasi ekonomi sangat mendesak untuk ditangani secara lebih sistematis karena mereka mempengaruhi perpajakan,” ujar Luděk Niedermayer dari TAX3.

ICRICT menyebut GAR merupakan perangkat transparansi yang sebenarnya telah tersedia. Secara sederhana, GAR dapat dengan mudah menghubungkan data pendaftaran yang melacak kepemilikan harta kekayaan seperti tanah, sekuritas, perusahaan, dan lainnya.

GAR sendiri harus memiliki dua karakteristik. Pertama, ia harus melacak data kepemilikan manfaat (beneficial ownership). Kedua,sistem pendataannya sendiri harus memiliki data yang dapat dibaca oleh mesin. Adapun karakteristik lainnya dapat dinegosiasikan seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: Penerimaan Pajak Warga Asing di Bali Bakal Dioptimalkan

Idealnya, GAR ini akan bersifat global. Namun, instrumen ini juga bisa menjadi jaringan pencatatan aset nasional yang saling berhubungan satu sama lain. Potensi pendekatan inilah yang menurut anggota parlemen Uni Eropa menjadi paling realistis. Lebih lanjut, Uni Eropa pun disebut sebagai tempat yang ideal untuk memulai uji coba program ini.

Proposal yang digagas oleh ICRICT ‘A Roadmap for A Global Asset Registry’ ini dinilai bersifat provokatif. ICRICT mengakui di tengah adanya permasalahan terkait privasi, dokumen bahwa pencatatan kekayaan global bukan merupakan utopia masa depan yang tidak mungkin.  Terlebih, hal ini sangat berkaitan dengan perluasan upaya transparansi pajak dunia sebelum terbentuknya organisasi pajak global.  

Pengembangan kerangka GAR ini dijadwalkan pada awal  bulan Juli tahun ini di Paris. ICRICT juga mengundang partisipasi publik dalam mengembangkan kerangka GAR melalui Call for Paper dengan tenggat waktu pada 15 Mei 2019 yang dapat diakses pada link berikut ini. (kaw)

Baca Juga: Realisasi 2 Pos Perpajakan Ini Tidak Capai Target
Topik : GAR, global wealth asset registry, ICRICT, kekayaan global, TAX3
artikel terkait
Senin, 13 Mei 2019 | 13:33 WIB
FILIPINA
Kamis, 14 Juli 2016 | 11:33 WIB
INGGRIS
Jum'at, 12 April 2019 | 17:02 WIB
JERMAN
Kamis, 14 Juli 2016 | 14:26 WIB
INGGRIS
berita pilihan
Kamis, 16 Mei 2019 | 13:00 WIB
AMERIKA SERIKAT
Rabu, 15 Mei 2019 | 17:49 WIB
BELANDA
Selasa, 14 Mei 2019 | 15:21 WIB
KENYA
Senin, 13 Mei 2019 | 15:18 WIB
SELANDIA BARU