Berita
Selasa, 04 Agustus 2020 | 12:08 WIB
KABUPATEN BOGOR
Selasa, 04 Agustus 2020 | 12:02 WIB
PENANAMAN MODAL
Selasa, 04 Agustus 2020 | 11:47 WIB
WEBINAR SERIES DDTC
Selasa, 04 Agustus 2020 | 11:16 WIB
INDUSTRI MANUFAKTUR
Review
Selasa, 04 Agustus 2020 | 09:19 WIB
OPINI PAJAK
Kamis, 30 Juli 2020 | 11:01 WIB
OPINI EKONOMI
Selasa, 28 Juli 2020 | 10:27 WIB
OPINI PAJAK
Rabu, 22 Juli 2020 | 11:59 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & alat
Minggu, 02 Agustus 2020 | 16:00 WIB
STATISTIK PAJAK KEKAYAAN
Jum'at, 31 Juli 2020 | 15:15 WIB
STATISTIK REZIM PAJAK
Rabu, 29 Juli 2020 | 09:35 WIB
KURS PAJAK 29 JULI-4 AGUSTUS 2020
Selasa, 28 Juli 2020 | 17:08 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PERPAJAKAN
Komunitas
Minggu, 02 Agustus 2020 | 10:30 WIB
FAQIH RUSDIANA
Sabtu, 01 Agustus 2020 | 12:01 WIB
MADONNA:
Sabtu, 01 Agustus 2020 | 09:56 WIB
KOMIK PAJAK
Rabu, 29 Juli 2020 | 11:01 WIB
DDTC PODTAX
Reportase

Waduh, OECD Proyeksi Ekonomi Indonesia Minus 3,9% Kalau Ini Terjadi

A+
A-
2
A+
A-
2
Waduh, OECD Proyeksi Ekonomi Indonesia Minus 3,9% Kalau Ini Terjadi

Ilustrasi. Pekerja menyelesaikan salah satu gedung bertingkat di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (8/6/2020). Pemerintah akan membuka dan menggerakkan kembali sejumlah sektor ekonomi dalam rangka pelaksanaan program masyarakat produktif aman Covid-19 atau dikenal sebagai normal baru di 102 kabupaten/kota. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/hp.

PARIS, DDTCNews – Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak krisis 1997-1998.

OECD menyajika dua skenario proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bila Indonesia bisa menghindari gelombang kedua penularan Covid-19, perekonomian diproyeksikan terkontraksi hingga 2,8% (yoy) pada 2020 dan akan kembali tumbuh 5,2% (yoy) pada 2021 mendatang.

Namun, bila gelombang kedua penularan Covid-19 tidak terhindarkan, kontraksi akan lebih dalam dibandingkan skenario pertama. Perekonomian Indonesia diproyeksikan terkontraksi hingga 3,9% (yoy) pada 2020. Pertumbuhan ekonomi pada 2021 pun bakal rendah karena hanya 2,6% (yoy).

Baca Juga: DJP Kirim Email untuk 174.000 Wajib Pajak Strategis, Ada Apa?

“Konsekuensi sosial-ekonomi dari resesi akan parah, terutama untuk kelompok kelas menengah ke bawah yang beresiko besar untuk jatuh kembali ke dalam kemiskinan,” demikian pernyataan OECD, seperti dikutip pada Kamis (11/6/2020).

Perlu dicatat, kedua skenario proyeksi perekonomian dari OECD ini jauh lebih rendah dibandingkan skenario pemerintah yang memproyeksikan ekonomi domestik bisa terkontraksi 0,4% (yoy) pada skenario terberat.

Proyeksi kontraksi ekonomi Indonesia dari OECD tersebut juga lebih dalam dibandingkan World Bank yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di level 0% (yoy) atau stagnan. Simak artikel ‘Bank Dunia: Ekonomi Global Resesi Terdalam, Indonesia Hanya Tumbuh 0%’.

Baca Juga: Raden Pardede: Prioritas Pemerintah Bangun Kepercayaan Masyarakat

Menurut OECD, Pandemi Covid-19 juga mengungkap kelemahan sistem bantuan sosial (bansos) yang dimiliki oleh pemerintah untuk melindungi kelompok rentan.

Meski pemerintah menambahkan anggaran untuk berbagai macam bentuk bansos dan memfokuskan bansos tersebut kepada pekerja yang di-PHK ataupun dirumahkan, langkah ini tetap saja tidak menutup kelemahan-kelemahan yang selama ini tidak tampak sebelum Covid-19.

Terlepas dari kelemahan-kelemahan tersebut, OECD mengapresiasi langkah cepat pemerintah Indonesia yang diawali dengan pelebaran defisit anggaran dan diikuti dengan berbagai stimulus mulai dari perpajakan hingga bansos.

Baca Juga: Komite Covid-19 Sebut Basis Pajak Minim Bikin Bansos Tidak Optimal

"Stimulus fiskal yang digelontorkan oleh pemerintah perlu untuk tetap dilanjutkan dan harus diimbangi dengan monitoring dalam rangka menghindari misalokasi," tulis OECD.

Kabar baiknya, OECD memproyeksikan pemulihan konsumsi swasta akan lebih cepat dibanding ekspektasi. Selain itu, harga komoditas diproyeksi berangsur pulih. Langkah pemerintah dalam menjaga likuiditas juga diproyeksikan akan segera memulihkan investasi dan meningkatkan permintaan pada barang tahan lama. (kaw)

Baca Juga: Beban Penanganan Covid-19 Pemerintah dan Wajib Pajak Harus Dibagi Adil
Topik : perekonomian indonesia, PDB, OECD, resesi, virus Corona, bansos
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 24 Juli 2020 | 15:42 WIB
PENERIMAAN PAJAK
Jum'at, 24 Juli 2020 | 12:10 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Jum'at, 24 Juli 2020 | 11:07 WIB
INSENTIF PAJAK
Kamis, 23 Juli 2020 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
berita pilihan
Selasa, 04 Agustus 2020 | 12:08 WIB
KABUPATEN BOGOR
Selasa, 04 Agustus 2020 | 12:02 WIB
PENANAMAN MODAL
Selasa, 04 Agustus 2020 | 11:47 WIB
WEBINAR SERIES DDTC
Selasa, 04 Agustus 2020 | 11:45 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Selasa, 04 Agustus 2020 | 11:16 WIB
INDUSTRI MANUFAKTUR
Selasa, 04 Agustus 2020 | 10:59 WIB
PMK 96/2020
Selasa, 04 Agustus 2020 | 10:38 WIB
PMK 96/2020
Selasa, 04 Agustus 2020 | 10:14 WIB
PANDEMI COVID-19
Selasa, 04 Agustus 2020 | 09:39 WIB
PMK 96/2020
Selasa, 04 Agustus 2020 | 09:33 WIB
RUSIA