Review
Minggu, 29 November 2020 | 09:01 WIB
SEKJEN ASOSIASI PERTEKSTILAN INDONESIA RIZAL TANZIL RAKHMAN:
Rabu, 25 November 2020 | 15:33 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 18 November 2020 | 16:01 WIB
KONSULTASI PAJAK
Minggu, 15 November 2020 | 08:01 WIB
KEPALA KANTOR BEA CUKAI SOEKARNO-HATTA FINARI MANAN:
Fokus
Data & alat
Jum'at, 27 November 2020 | 17:22 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
Rabu, 25 November 2020 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 25 NOVEMBER - 1 DESEMBER 2020
Rabu, 18 November 2020 | 09:35 WIB
KURS PAJAK 18 NOVEMBER - 24 NOVEMBER 2020
Sabtu, 14 November 2020 | 13:05 WIB
STATISTIK PAJAK PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Komunitas
Senin, 30 November 2020 | 10:29 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Minggu, 29 November 2020 | 11:30 WIB
AGENDA KEPABEANAN
Minggu, 29 November 2020 | 10:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Sabtu, 28 November 2020 | 15:14 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Reportase
Glosarium

Tumbuh Tipis, Investasi Masih Melambat dari Capaian Tahun Lalu

A+
A-
1
A+
A-
1
Tumbuh Tipis, Investasi Masih Melambat dari Capaian Tahun Lalu

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. 

JAKARTA, DDTCNews – Realisasi investasi pada kuartal III/2020 sudah mulai tumbuh positif setelah pada kuartal sebelumnya terkontraksi. Namun, pertumbuhan yang terjadi masih melambat sangat signifikan bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memaparkan realisasi investasi pada kuartal III/2020 tercatat senilai Rp209 triliun, tumbuh tipis 1,6% secara tahunan. Menurutnya, capaian itu menunjukkan sudah dilewatinya masa kritis realisasi investasi.

"Masa kritis realisasi investasi itu pada kuartal II/2020 dengan realisasi investasi sebesar Rp191,9 triliun yang turun -4,3%," ujar Bahlil, Jumat (23/10/2020).

Baca Juga: Kata Sri Mulyani, Ribuan Perusahaan Sudah Nikmati Insentif Pajak

Adapun capaian pada kuartal III/2019 tercatat senilai Rp205,7 triliun atau tumbuh 18,35% dibandingkan capaian periode yang sama pada 2018 senilai Rp173,8 triliun. Dengan demikian, meskipun sudah positif, realisasi kuartal III tahun ini masih melambat signifikan.

Jika diperinci, realisasi penanaman modal asing (PMA) kembali tumbuh positif setelah sempat terkontraksi pada kuartal II/2020. Realisasi PMA pada kuartal III/2020 mencapai Rp106,1 triliun atau tumbuh 1,1% secara tahunan.

Pada kuartal II/2020, realisasi PMA tertekan hingga -6,9% secara tahunan. Namun, pada kuartal III/2020, realisasi PMA tercatat senilai Rp105 triliun atau tumbuh hingga 17,85%. Dengan demikian, meskipun tumbuh, realisasinya masih lebih lambat dibandingkan tahun periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Khawatir Investor Lari, Menteri Keuangan Tolak Usulan Windfall Tax

Khusus untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), BKPM mencatat realisasinya pada kuartal III/2020 mencapai Rp102,9 triliun, tumbuh 2,1% secara tahunan. Realisasi itu memang lebih baik bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang terkontraksi -1,36% tapi melambat dari performa kuartal III/2019 yang mampu tumbuh 18,89%.

"Kuartal III/2020 adalah momentum naiknya PMA dan PMDN. Kami di BKPM memiliki key performance indicator (KPI) untuk menciptakan investasi berkualitas yang dilihat dari persebaran investasi dan sektor investasi," ujar Bahlil.

Dari sisi sebaran investasi, data BKPM menunjukkan realisasi investasi di luar Jawa kian dominan, yakni mencapai Rp110,4 triliun atau 52,8% dari total investasi pada kuartal III/2020. Investasi di luar Jawa juga tercatat tumbuh 17,9% dibandingkan capaian pada kuartal III/2019.

Baca Juga: UMKM Bakal Dapat Fasilitas PPh Final Nol Persen, Ini Kata Pemerintah

"Ini menunjukkan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah pada 5 tahun ke belakang mulai berdampak. Investor mulai mau berinvestasi di luar Jawa ketika kualitas logistik dan infrastrukturnya bagus," ujar Bahlil.

Secara sektoral, 15,3% atau senilai Rp32,1 triliun realisasi investasi pada kuartal III/2020 tertuju pada sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi. Sementara itu, 11,8% atau senilai Rp24,6 triliun diinvestasikan pada sektor industri logam dasar dan barang logam bukan mesin dan peralatannya.

Menurut Bahlil, tingginya realisasi investasi pada industri logam menunjukkan adanya peningkatan kualitas investasi mengingat sektor tersebut sangat terkait dengan sektor sekunder yang menciptakan banyak lapangan kerja baru. (kaw)

Baca Juga: Pemerintah Sebut Masih Banyak CEO yang Ingin Berinvestasi di Indonesia

Topik : investasi, BKPM, PMA, PMDN, virus Corona
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 13 November 2020 | 16:14 WIB
KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Jum'at, 13 November 2020 | 15:01 WIB
LAPORAN OECD
Jum'at, 13 November 2020 | 14:36 WIB
DANA HIBAH PARIWISATA
Jum'at, 13 November 2020 | 13:29 WIB
KTT KE-37 ASEAN
berita pilihan
Senin, 30 November 2020 | 18:20 WIB
INSENTIF PAJAK
Senin, 30 November 2020 | 18:09 WIB
PROVINSI BALI
Senin, 30 November 2020 | 17:48 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 30 November 2020 | 17:33 WIB
ROKOK ILEGAL
Senin, 30 November 2020 | 17:30 WIB
ANGGARAN PEMERINTAH DAERAH
Senin, 30 November 2020 | 17:18 WIB
INSENTIF PAJAK
Senin, 30 November 2020 | 16:55 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 30 November 2020 | 16:49 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 30 November 2020 | 16:25 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 30 November 2020 | 16:06 WIB
KEBIJAKAN PAJAK