Review
Jum'at, 23 Juli 2021 | 09:15 WIB
OPINI PAJAK
Kamis, 15 Juli 2021 | 15:09 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 14 Juli 2021 | 10:30 WIB
DIREKTUR PENYULUHAN, PELAYANAN, DAN HUMAS DJP NEILMALDRIN NOOR:
Rabu, 14 Juli 2021 | 09:20 WIB
PERSPEKTIF
Fokus
Data & Alat
Rabu, 21 Juli 2021 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 21 JULI 2021-27 JULI 2021
Kamis, 15 Juli 2021 | 18:15 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 14 Juli 2021 | 13:30 WIB
KURS PAJAK 14 JULI 2021-20 JULI 2021
Rabu, 07 Juli 2021 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 7 JULI 2021-13 JULI 2021
Reportase
Perpajakan.id

'In the Long Run, We Are All Dead'

A+
A-
0
A+
A-
0
'In the Long Run, We Are All Dead'

John Maynard Keynes (1883-1946)

SEORANG gay yang penuh dengan joke nakal tetapi punya banyak pengikut seperti John Maynard Keynes sering punya kalimat yang tak mudah dilupakan. Tapi mungkin karena itu kadang-kadang ia disalahmengertikan, dan yang terparah, menjadi bahan kritik dan olok-olok.

Banyak politisi dan analis mengutip“In the long run, we are all dead,” yang ditulisnya pada 1923 untuk menyugesti bahwa ia tak peduli dengan masa depan, alias lebih memikirkan manfaat jangka pendek yang temporer meski dengan kenaikan utang dan kerusakan generasi mendatang.

“Dicekoki Keynes,” kata Bung Karno tahun 1957. “Faktanya memang Keynes tak punya anak karena dia gay,” kata Niall Ferguson, sebelum akhirnya meminta maaf setelah mengetahui Keynes pernah menikah dengan seorang perempuan balerina Rusia yang mengalami keguguran.

Baca Juga: Ada PPKM Darurat, ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi 4,1%

Seorang profesor dari Harvard seperti Ferguson tentu bisa salah, apalagi ketika berbicara tentang sesuatu yang tak dipahaminya. Ia mungkin lupa apa sebenarnya yang hendak disampaikan Keynes dalam risalah berjudul The Tract on Monetary Reform, sumber dari kutipan populer itu.

Sebab dalam risalah tersebut, Keynes jelas-jelas menggunakan kalimatnya untuk mengkritik pandangan para ekonom mainstream yang dalam situasi depresi besar ketika itu masih bisa berkata dengan tenang dan percaya diri, bahwa setelah badai berlalu, laut akan tenang kembali.

“The long run is a misleading guide to current affairs. In the long run we are all dead. Economists set themselves too easy, too useless a task if in tempestuous seasons they can only tell us that when the storm is past the ocean is flat again.”

Baca Juga: Sri Mulyani Bakal Lapor Perkembangan Pajak Ekonomi Digital kepada DPR

Sebetulnya sudah jelas bagaimana Keynes tidak berargumen bahwa masyarakat harus tetap menikmati manfaat masa kini dan membiarkan masa depan mengalir begitu saja, dan karena itu, masa depan menjadi sesuatu yang tak penting untuk menyelesaikan persoalan hari ini.

Sebaliknya, ia menyerang mayoritas ekonom berpengaruh saat itu, yang percaya bahwa ekonomi adalah sebuah sistem ekuilibrium yang secara otomatis akan terus kembali ke titik imbangnya sendiri selama negara sabar duduk menunggu tanpa melakukan intervensi.

Keyakinan para ekonom neoklasik terhadap ‘tangan tak terlihat’ yang akan membuat ‘badai pasti berlalu’ itulah yang kemudian ditantangnya secara lebih terbuka dan serius, melalui sebuah risalah yang terbit 12 tahun kemudian, The General Theory of Employment, Interest and Money.

Baca Juga: Jaga Rupiah, BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5%

Inilah risalah di mana ia meyakini bahwa perekonomian bisa terperosok ke dalam sistem ekuilibrium di mana angka pengangguran melambung tinggi dan terus bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lama—kecuali negara melakukan intervensi kebijakan untuk menyelamatkannya.

Tapi benarkah pemikiran itu? Jitukah resep yang ia perkenalkan? Yakinkah Keynes dengan teorinya sendiri? “It is better to be roughly right than precisely wrong,” katanya setelah era depresi besar berakhir. “But when somebody persuades me I am wrong, I change my mind.” (Bsi)

Baca Juga: Kesetaraan Pelaporan Pajak Digital
Topik : kutipan pajak, ekonomi, keynes

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Sabtu, 10 Juli 2021 | 19:46 WIB
EKONOMI DIGITAL

Indonesia Pastikan Dukung Pelaksanaan Konsensus Global Pajak Digital

Selasa, 06 Juli 2021 | 14:20 WIB
KEM-PPKF 2022

DPR dan Pemerintah Sepakat Ubah Sejumlah Rentang Asumsi Makro 2022

Selasa, 06 Juli 2021 | 09:24 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Ada Corona Varian Delta, Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dipangkas

Minggu, 04 Juli 2021 | 10:30 WIB
AGENDA PAJAK

Ada Webinar Internasional Kebijakan Pajak Ekonomi Digital, Tertarik?

berita pilihan

Selasa, 27 Juli 2021 | 18:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Awasi Kinerja Keuangan Daerah, Kemendagri Bikin Aplikasi Khusus

Selasa, 27 Juli 2021 | 18:13 WIB
PELAYANAN PAJAK

DJP: 3 Layanan Elektronik Ini Tidak Dapat Diakses Sementara

Selasa, 27 Juli 2021 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN BEA MASUK

Ekspor Produk Kayu Ini Bebas Bea Masuk Antidumping ke India

Selasa, 27 Juli 2021 | 17:54 WIB
CHINA

China Tolak Rencana Pengenaan Carbon Border Tax

Selasa, 27 Juli 2021 | 16:36 WIB
KOTA BALIKPAPAN

Mulai Bulan Depan, Penagihan Pajak Digencarkan

Selasa, 27 Juli 2021 | 16:30 WIB
KANWIL DJP BALI

Kemplang Pajak Lewat Bitcoin, Pengusaha Dihukum 2,5 Tahun Penjara

Selasa, 27 Juli 2021 | 16:00 WIB
KABUPATEN MALANG

Apresiasi Pembayar Pajak, Pemkot Adakan Acara Bagi-Bagi Hadiah

Selasa, 27 Juli 2021 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Atasi Perubahan Iklim, Sri Mulyani Paparkan Sederet Kebijakan Pajak