Review
Senin, 30 Maret 2020 | 17:10 WIB
RESPONS KEBIJAKAN PAJAK PERANGI DAMPAK VIRUS CORONA (2)
Senin, 30 Maret 2020 | 16:56 WIB
MEMO PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 30 Maret 2020 | 15:32 WIB
RESPONS KEBIJAKAN PAJAK PERANGI DAMPAK VIRUS CORONA (1)
Senin, 30 Maret 2020 | 15:01 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Data & alat
Rabu, 25 Maret 2020 | 07:34 WIB
KURS PAJAK 25 MARET-31 MARET 2020
Rabu, 18 Maret 2020 | 09:17 WIB
KURS PAJAK 18 MARET-24 MARET 2020
Rabu, 11 Maret 2020 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 11 MARET-17 MARET 2020
Rabu, 04 Maret 2020 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 4 MARET-10 MARET 2020
Komunitas
Senin, 30 Maret 2020 | 17:29 WIB
UNIVERSITAS PANCASILA
Senin, 30 Maret 2020 | 16:19 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Senin, 30 Maret 2020 | 15:23 WIB
KELUARGA KERAJAAN INGGRIS
Senin, 23 Maret 2020 | 15:13 WIB
ANEKDOT AKUNTAN
Reportase
DDTC Indonesia
GET
x

Ini Realisasi Terbaru Penerimaan Bea Cukai

A+
A-
1
A+
A-
1
Ini Realisasi Terbaru Penerimaan Bea Cukai
Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi.

LABUAN BAJO, DDTCNews – Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) merilis data realisasi penerimaan yang dikumpulkan hingga 12 November 2019. Setoran cukai hasil tembakau (CHT) masih menjadi andalan penerimaan otoritas kepabeanan dan cukai.

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan hingga 12 November 2019 realisasi penerimaan yang menjadi tanggung jawab DJBC mencapai Rp165,4 triliun. Capaian tersebut memenuhi 79,2% dari target dalam APBN tahun ini yang sebesar Rp208,8 triliun.

“Capaian penerimaan kita tumbuh 9% dan mayoritas dominan didorong penerimaan cukai yang tumbuhnya 16,6%,” katanya dalam Press Tour, Rabu (13/11/2019).

Baca Juga: Pengajuan Percepatan Impor Alat Kesehatan Kini Bisa Online Via INSW

Penerimaan cukai mencapai Rp131,06 triliun atau memenuhi 79,19% dari target APBN yang senilai Rp165,5 triliun. Dari jumlah tersebut, setoran CHT menjadi penyumbang tertinggi yang mencapai Rp125 triliun atau 78,7% dari target yang ditetapkan sebesar Rp158,8 triliun.

Sementara penerimaan cukai dari etil alkohol (EA) sebesar Rp106 miliar. Realisasi penerimaan tersebut memenuhi 67,3% dari target Rp158 miliar. Kemudian, setoran cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) senilai Rp5,8 triliun atau 97,8% dari target APBN yang senilai Rp5,9 triliun.

“Cukai masih bagus karena CHT itu masih ada carry over tahun kemarin [2018] yang kebijakannya dilakukan pada 2019,” paparnya.

Baca Juga: Ini Ketentuan Insentif Pembebasan PPh Pasal 22 Impor Efek Virus Corona

Adapun realisasi penerimaan sektor kepabeanan, baik bea masuk dan bea keluar tetap tertekan hingga penghujung tahun ini. Adapun kontraksi terbesar terjadi untuk penerimaan pos bea keluar.

Hingga 12 November 2019, realisasi penerimaan bea keluar senilai Rp2,9 triliun atau memenuhi 67,6% dari target APBN yang senilai Rp4,4 triliun. Kinerja bea keluar mencatat pertumbuhan negatif hingga 49,3% dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kinerja realisasi penerimaan bea masuk hingga 12 November 2019 mencapai Rp31,4 triliun atau memenuhi 80,7% dari target APBN yang senilai Rp38,8 triliun. Capaian tersebut mencatat kontraksi sebesar 5,85% dari periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Penerimaan PPh Migas Tidak Terdongkak, Ini Alasannya

Heru menyebutkan penurunan setoran dari ranah kepabeanan tidak lepas dari lesunya aktivitas perdagangan baik ekspor maupun impor. Harga komoditas yang turun kemudian membuat kinerja bea keluar semakin tertekan terutama dari sektor ekspor mineral.

“Dari bea masuk, kita tahu kondisi global saat ini tengah mengalami penurunan dan ditambah beberapa pos tarif yang sudah pada angka 0% serta Free Trade Agreement (FTA) yang semakin meningkat. Kemudian bea keluar yang kontributor utamanya dari sektor mineral juga belum menunjukan recovery yang harganya masih jauh dari tahun lalu,” jelas Heru. (kaw)

Baca Juga: Apa Bedanya Cukai Rokok dan Pajak Rokok? Simak di Sini

“Capaian penerimaan kita tumbuh 9% dan mayoritas dominan didorong penerimaan cukai yang tumbuhnya 16,6%,” katanya dalam Press Tour, Rabu (13/11/2019).

Baca Juga: Pengajuan Percepatan Impor Alat Kesehatan Kini Bisa Online Via INSW

Penerimaan cukai mencapai Rp131,06 triliun atau memenuhi 79,19% dari target APBN yang senilai Rp165,5 triliun. Dari jumlah tersebut, setoran CHT menjadi penyumbang tertinggi yang mencapai Rp125 triliun atau 78,7% dari target yang ditetapkan sebesar Rp158,8 triliun.

Sementara penerimaan cukai dari etil alkohol (EA) sebesar Rp106 miliar. Realisasi penerimaan tersebut memenuhi 67,3% dari target Rp158 miliar. Kemudian, setoran cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) senilai Rp5,8 triliun atau 97,8% dari target APBN yang senilai Rp5,9 triliun.

“Cukai masih bagus karena CHT itu masih ada carry over tahun kemarin [2018] yang kebijakannya dilakukan pada 2019,” paparnya.

Baca Juga: Ini Ketentuan Insentif Pembebasan PPh Pasal 22 Impor Efek Virus Corona

Adapun realisasi penerimaan sektor kepabeanan, baik bea masuk dan bea keluar tetap tertekan hingga penghujung tahun ini. Adapun kontraksi terbesar terjadi untuk penerimaan pos bea keluar.

Hingga 12 November 2019, realisasi penerimaan bea keluar senilai Rp2,9 triliun atau memenuhi 67,6% dari target APBN yang senilai Rp4,4 triliun. Kinerja bea keluar mencatat pertumbuhan negatif hingga 49,3% dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kinerja realisasi penerimaan bea masuk hingga 12 November 2019 mencapai Rp31,4 triliun atau memenuhi 80,7% dari target APBN yang senilai Rp38,8 triliun. Capaian tersebut mencatat kontraksi sebesar 5,85% dari periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Penerimaan PPh Migas Tidak Terdongkak, Ini Alasannya

Heru menyebutkan penurunan setoran dari ranah kepabeanan tidak lepas dari lesunya aktivitas perdagangan baik ekspor maupun impor. Harga komoditas yang turun kemudian membuat kinerja bea keluar semakin tertekan terutama dari sektor ekspor mineral.

“Dari bea masuk, kita tahu kondisi global saat ini tengah mengalami penurunan dan ditambah beberapa pos tarif yang sudah pada angka 0% serta Free Trade Agreement (FTA) yang semakin meningkat. Kemudian bea keluar yang kontributor utamanya dari sektor mineral juga belum menunjukan recovery yang harganya masih jauh dari tahun lalu,” jelas Heru. (kaw)

Baca Juga: Apa Bedanya Cukai Rokok dan Pajak Rokok? Simak di Sini
Topik : cukai, cukai hasil tembakau, cukai rokok, DJBC, penerimaan negara
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Selasa, 10 Maret 2020 | 13:48 WIB
VIRUS CORONA
Senin, 09 Maret 2020 | 18:46 WIB
BARANG MILIK NEGARA
Senin, 09 Maret 2020 | 15:45 WIB
KAMUS PERPAJAKAN
Minggu, 08 Maret 2020 | 11:00 WIB
PENERIMAAN BEA
berita pilihan
Senin, 30 Maret 2020 | 18:11 WIB
PMK 22/2020
Senin, 30 Maret 2020 | 17:53 WIB
PAJAK INTERNASIONAL
Senin, 30 Maret 2020 | 17:41 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Senin, 30 Maret 2020 | 17:29 WIB
UNIVERSITAS PANCASILA
Senin, 30 Maret 2020 | 17:25 WIB
AMERIKA SERIKAT
Senin, 30 Maret 2020 | 17:10 WIB
RESPONS KEBIJAKAN PAJAK PERANGI DAMPAK VIRUS CORONA (2)
Senin, 30 Maret 2020 | 16:56 WIB
MEMO PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 30 Maret 2020 | 16:50 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 30 Maret 2020 | 16:20 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Senin, 30 Maret 2020 | 16:19 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA