Fokus
Data & Alat
Selasa, 24 Mei 2022 | 20:00 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Reportase
Perpajakan ID

Elon Musk Nge-Tweet Lagi, Tolak Pengenaan Pajak atas Panel Surya

A+
A-
0
A+
A-
0
Elon Musk Nge-Tweet Lagi, Tolak Pengenaan Pajak atas Panel Surya

Elon Musk. (foto: cnet1.cbsistatic.com)

SACRAMENTO, DDTCNews – Miliarder sekaligus CEO Tesla, Elon Musk, menyerukan penolakan terhadap rencana pengenaan pajak atas panel surya yang digulirkan pemerintah Negara Bagian California, Amerika Serikat (AS).

Melalui cuitannya di media sosial, orang terkaya di dunia versi Forbes itu menuding kebijakan untuk memajaki pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan (EBT) adalah hal yang aneh.

"[Kebijakan pengenaan pajak merupakan] langkah anti-lingkungan yang aneh," kata Elon Musk dilansir Foxbusiness, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga: IMF Komentari Sistem Pajak di Portugal, Ada Apa?

California saat ini memiliki proyek pengembangan energi ramah lingkungan. Melalui program California's Net Energy Metering (CNEM), sebanyak 1,3 juta keluarga memasang panel surya di atas rumah mereka. Seluruh pembangkit listrik tenaga surya yang dipasang mampu menghasilkan 10.000 Mw listrik. Angka ini diprediksi bisa mengurangi 25% kebutuhan listrik dari energi fosil pada siang hari.

Namun, pemasangan panel surya ternyata justru memunculkan biaya baru. Pemerintah setempat mengenakan biaya akses jaringan alias pajak kepada rumah tangga yang memasang PLTS di rumahnya senilai US$8 per Kw per bulan. Hanya saja, charge ini dikecualikan terhadap rumah tangga berpenghasilan rendah.

Sebagai kompensasinya, pemerintah juga menawarkan kredit transisi pasar sejumlah US$5,25 per Kw per bulan untuk keluarga berpenghasilan rendah dan US$3,59 per Kw per bulan untuk seluruh pelanggan lain di tahun pertama. Diskon ini diharapkan bisa mengurangi beban pajak masyarakat.

Baca Juga: Istana Serahkan Keputusan Pengenaan Pajak Baru Kepada Marcos

Kebijakan inilah yang diprotes Tesla. Sebagai perusahaan penyedia akses tenaga surya, Tesla memprediksi kebijakan baru California bisa menambah ongkos pelanggan sejumlah US$50 hingga US$80 per bulan, khususnya bagi konsumen perusahaan.

"Jika diadopsi, ini akan menjadi biaya energi surya tertinggi AS, bahkan di antara negara bagian yang anti-energi terbarukan," tulis Tesla dalam sebuah pernyataan di situs webnya.

Besarnya biaya tersebut dikhawatirkan akan memuat rumah tangga di California memilih tidak melakukan pemasangan panel surya di rumahnya. Hal tersebut berdampak pada upaya pengembangan energi yang ramah lingkungan di California akhirnya tidak terwujud secara optimal.

Baca Juga: Tarik Investor, Negara Ini Bebaskan PPN Transaksi Kripto Hingga 2023

Tesla lantas mendesak Gubernur California, Gavin Newsom, agar menghapuskan pembebanan biaya tersebut. Tesla menilai penambahan bebak pajak akan memengaruhi pembangunan ramah lingkungan yang sudah direncanakan.

Penolakan terhadap pembebanan biaya tambahan atas pemasangan panel surya juga disampaikan oleh Asosiasi Industri Energi Surya. Dengan kebijakan yang baru, asosiasi menilai hanya orang kaya yang mampu membeli panel surya di rumahnya.

“Keputusan ini akan menghalangi banyak warga California untuk memasang solar dan memperlambat penyebaran energi bersih dan untuk mencapai tujuan energi bersih,” tulis asosiasi. (rizki zakariya/sap)

Baca Juga: Inflasi Masih Tinggi, Negara Ini Pangkas Lagi Tarif Pajak Impor

Topik : pajak internasional, pajak energi, energi baru terbarukan, Elon Musk, Tesla, Amerika Serikat

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

berita pilihan

Sabtu, 28 Mei 2022 | 10:00 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Wah! 10 Kanwil DJP Catatkan Penerimaan Pajak di Atas Capaian Nasional

Sabtu, 28 Mei 2022 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Demi Hal Ini, Pemerintah Perlu Lanjutkan Insentif Pajak Tahun Depan

Sabtu, 28 Mei 2022 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN

DJP Incar WP Pakai Data Rekening dan Poin Ketentuan Baru Faktur Pajak

Sabtu, 28 Mei 2022 | 07:30 WIB
PORTUGAL

IMF Komentari Sistem Pajak di Portugal, Ada Apa?

Sabtu, 28 Mei 2022 | 07:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Cerita Gisel Dapat Surat Cinta dari Ditjen Pajak dan Rencana Ikut PPS

Sabtu, 28 Mei 2022 | 06:30 WIB
PENERIMAAN BEA CUKAI

Ekspor Sempat Dilarang, Penerimaan Bea Keluar CPO Tetap Bisa Tumbuh 3%

Jum'at, 27 Mei 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tanda Pengenal Wajib Pajak Pakai NIK, NPWP Bakal Dihapus Bertahap

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:54 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPN Perbedaan Waktu Pengakuan Transaksi Pembelian