Review
Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:00 WIB
Kepala KPP Madya Dua Jakarta Selatan II Kurniawan:
Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:30 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 11 Oktober 2021 | 14:19 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:29 WIB
PROFIL PERPAJAKAN LIECHTENSTEIN
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:45 WIB
SUPERTAX DEDUCTION (7)
Data & Alat
Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 13 OKTOBER - 19 OKTOBER 2021
Rabu, 06 Oktober 2021 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 6-12 OKTOBER 2021
Rabu, 22 September 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 22 - 28 SEPTEMBER 2021
Rabu, 15 September 2021 | 11:00 WIB
STATISTIK FISKAL DAERAH
Komunitas
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 14:42 WIB
HASIL SURVEI PAJAK KARBON
Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:15 WIB
HASIL DEBAT 23 SEPTEMBER - 11 OKTOBER 2021
Senin, 11 Oktober 2021 | 11:05 WIB
AGENDA PAJAK
Minggu, 10 Oktober 2021 | 09:00 WIB
KETUA GPBSI DJONNY SYAFRUDDIN
Reportase
Perpajakan.id

'Ekonomi Itu Organisme yang Sangat Sensitif'

A+
A-
3
A+
A-
3
'Ekonomi Itu Organisme yang Sangat Sensitif'

Hjalmar Schacht (kanan) bersama pemimpin Partai Nazi Adolf Hitler

11 MEI, 1931. Hari itu depresi besar menghantam Eropa. Credit Anstalt, satu bank investasi besar yang berbasis di Wina, baru saja bangkrut. Investor yang gugup mulai menarik uang jangka pendek. Tingkat pengangguran pun sudah melampaui 20%. Pemerintah mulai gamang.

Di Berlin, dampak kejatuhan Ansalt segera terasa. 17 Juni 1931, nasabah mulai menyerbu The Darmstädter und Nationalbank (Danat-Bank), hingga bangkrut sebulan kemudian. Keruntuhan Danatbank, bank terbesar kedua di Weimar, menggerus kepercayaan pada sistem perbankan.

Gelombang penarikan uang pun melanda Weimar. Krisis perbankan dimulai. Bank sentral Weimar, Reichsbank, kehilangan RM150 juta pada pekan pertama Juni, RM450 juta pada pekan kedua, dan RM150 juta dalam 19-20 Juni 1931. Pemerintah lalu meliburkan bank pada 13 Juli.

Baca Juga: 'Belanda Tidak Punya Hak Lagi atas Indonesia'

Perekonomian Weimar yang ditopang utang Amerika Serikat sejak Dawes Plan pada 1924 terbukti gagap menghadapi krisis. Respons kebijakan Kanselir Heinrich Brüning sejak 1930 yang memangkas belanja publik dan meningkatkan tarif pajak malah kian memperburuk masalah.

Kekurangan likuiditas yang melumpuhkan bank itu juga dipicu utang dan kebangkrutan peminjamnya. Dengan pengangguran yang mendekati 30%, kalangan menengah dan atas, terutama penganggur dan warga berpenghasilan rendah, mulai berharap pada Partai Nazi.

Terbukti, pada Pemilu Juli 1932, Partai Nazi pun menang dan meraih 230 kursi setara dengan 38% kursi di parlemen. Sejak itu, pemimpin Partai Nazi Adolf Hitler pun menjadi tokoh politik terkuat di Republik Weimar. Ia menjadi pertaruhan warga yang kehilangan kepercayaan.

Baca Juga: Tunggak Pajak Rp130 Miliar, Anak Mantan PM Ini Divonis Pailit

Hitler lalu mengembalikan jabatan Hjalmar Schacht (1877-1970) sebagai Presiden Reichsbank, lantas menggesernya sebagai Menteri Ekonomi. Hitler memintanya memperbaiki ekonomi. Permintaan ini dijawab dengan Program Reinhardt, kenaikan belanja infrastruktur dan militer.

Program Reinhardt, yang meminjam nama Sekjen Kementerian Keuangan Jerman Nazi ini, memberi pinjaman perbaikan rumah, pabrik, dan mesin. Belanja infrastruktur dimulai dari proyek jalan, autobahn. Reichsbank meminjami Reinhardt RM1 miliar, dan RM600 juta ke autobahn.

Kedua langkah itu diambil dengan menggabungkan insentif pajak dan investasi. Begitu pula di bidang konstruksi. Hasilnya, pekerjaan konstruksi meningkat pesat. Mobil dan transportasi motor jadi kian menarik. Industri motor pun meledak, dan Jerman Nazi meraup lebih banyak pajak.

Baca Juga: Apa yang Membuat Orang Jawa Begitu Miskin?

Untuk belanja militer, Schacht menciptakan skema pembiayaan melalui surat utang Metallugirsche Forschungsgesellschaft (Mefo). Itu perusahaan yang dibentuk untuk merilis obligasi, Mefo Bills. Melalui obligasi inilah, Jerman Nazi memborong senjata dan alat perang.

Pasalnya, pembelian itu dilakukan atas nama pemerintah, dibayar Mefo Bills berkupon 4% dan tenor 6 bulan yang bisa diperpanjang sampai 5 tahun. Obligasi tersebut juga bisa jadi alat tukar dan dikonversikan menjadi kas melalui bank-bank, yang lalu dirediskontokan ke Reichsbank.

Dengan Mefo Bills, tagihan surat utang tidak muncul pada APBN Jerman Nazi. Hal ini juga menyiasati kredit dariReichsbank ke pemerintah yang dibatasi RM100 juta. Tapi dampaknya, perusahaan manufaktur senjata mendapatkan banyak order setelah sekian lama menganggur.

Baca Juga: 'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

“Ketika sistem Mefo Bills diperkenalkan, saya sepenuhnya berharap bahwa revitalisasi ekonomi akan meningkatkan pendapatan dan investasi, dan itu akan menghasilkan penerimaan pajak yang memungkinkan pelunasan pinjaman,” kata Schacht dalam The Magic of Money (1967).

Tingkat pengangguran Jerman Nazi pun akhirnya susut dari 28,1% pada 1932 menjadi 13,8% pada 1934. Ini penurunan tercepat sekaligus terbesar di negara mana pun selama Depresi Besar. Laju pertumbuhan ekonomi stabil 8—10% selama 6 tahun dengan inflasi relatif rendah.

Pada 1936, setelah bertahun-tahun pembatasan yang diberlakukan akibat Perjanjian Versailles, belanja militer Jerman Nazi pun naik menjadi 10% dari Produk Domestik Bruto. Porsi ini jauh lebih tinggi dari negara Eropa lain. Tahun berikutnya, belanja militer dipompa kembali.

Baca Juga: 'Saya Harus Memberi Contoh Demokrasi'

Schacht mengkritik opsi itu. Situasi rentan, karena merediskonto Mefo Bills dalam jumlah besar akan memicu inflasi yang tak terkontrol. Apalagi, order barang yang tak diimbangi kapasitas produksi jelas mengerek harga. Pemerintah kian sulit membayar utang saat jatuh tempo.

Akhirnya, ia menyerukan pengurangan belanja. Setahun berikutnya, Schacht menunda emisi Mefo Bill ketika nilai edarnya sudah RM12 miliar. Akhirnya, pada 1939, Jerman Nazi pun didera gagal bayar, tapi Hitler nekat menambah order senjata, hingga Reichsbank menyetop kreditnya.

Hitler lalu memecat Schacht, dan memerintahkan Reichsbank menyediakan semua kredit yang diperlukan. Sementara itu, Mefo Bills yang jatuh tempo dilunasi melalui percetakan uang. Akibatnya, Jerman Nazi pun mengalami inflasi besar-besaran sebelum memulai Perang Dunia II.

Baca Juga: 'Pajak dalam Bentuk Barang Hanyalah Transisi'

Pada 1944, Jerman Nazi mengirim Schacht ke kamp konsentrasi karena didiuga terlibat dengan kelompok perlawanan yang merencanakan pembunuhan Hitler. Setelah setahun kemudian Hitler kalah perang, di Pengadilan Militer Internasional Nurenberg, Schacht dibebaskan.

Namun, Pengadilan Denazifikasi Jerman menghukumnya 8 tahun. Schacht bebas pada 1948. Ia lalu mendirikan bank dan jadi advisor ekonomi sejumlah negara. “Ekonomi itu organisme yang sangat sensitif. Setiap gangguan dari arah mana pun akan jadi pasir dalam mesinnya,” katanya. (Bsi)

Baca Juga: 'Pada Malam Hari Pemerintah Tidur'
Topik : kutipan pajak, Hjalmar Schacht, Keynes, Nazi, Adolf Hitler

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 12 Juli 2019 | 15:43 WIB
RADJIMAN WEDYODININGRAT:

'Pajak Harus Diatur Hukum'

Kamis, 13 Juni 2019 | 16:22 WIB
TAN MALAKA:

'Pajak dalam Teori atau Praktik, Semuanya Pencurian'

Senin, 13 Mei 2019 | 16:57 WIB
WINSTON CHURCHILL:

'Seperti Berdiri di Ember dan Mengangkat Diri dengan Gagangnya'

Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:

'Pajak Ini Menyalahi Adat'

berita pilihan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 15:00 WIB
IRLANDIA

Siapkan Rp8 Triliun, Program Relaksasi Pajak Berlanjut Tahun Depan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 14:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

AS Mulai Desak Negara Lain Agar Cabut Pajak Digital

Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:00 WIB
THAILAND

Pancing Ekspatriat, Tarif Pajak Penghasilan Bakal Dipatok 17%

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

BUMN Go Global, Jokowi Minta Adaptasi Teknologi Dipercepat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:00 WIB
KOREA SELATAN

Tidak Bakal Ditunda Lagi, Pajak Cryptocurrency Berlaku Mulai 2022

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:30 WIB
LELANG KENDARAAN

DJP Lelang Mobil Sitaan Pajak, Dilego Mulai Rp45 Juta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Besaran Sanksi Ultimum Remedium atas Pidana Cukai di UU HPP

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:30 WIB
KABUPATEN BERAU

Banyak Warga Menunggak Pajak, Pemda Siapkan Insentif

Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:30 WIB
KOTA BOGOR

Ada Pemutihan Pajak, Pemkot Harap Target Pendapatan Tercapai