JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat harga minyak kelapa sawit (CPO) mengalami penurunan walaupun tidak berdampak terhadap tarif bea keluar yang berlaku pada Juli 2026.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan harga referensi CPO pada Juli 2026 senilai US$1.000,90/MT atau turun 2,78% dari bulan sebelumnya. Penurunan harga referensi tersebut tidak mengubah tarif bea keluar CPO pada Juli 2026 yang senilai US$148/MT.
"Sesuai ketentuan, pemerintah menetapkan bea keluar sebesar US$148/MT dan pungutan ekspor sebesar 12,5% dari harga referensi CPO atau setara US$125,11/MT," ujarnya, dikutip pada Rabu (1/7/2026).
Tommy mengatakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor CPO dan produk turunannya mengacu pada PMK 38/2024 s.t.d.d PMK 68/2025. Pada kolom 8 Lampiran Huruf C PMK tersebut, diatur tarif bea keluar senilai US$148/MT berlaku berdasarkan harga referensi CPO pada periode 1-31 Juli 2026.
PMK 38/2024 s.t.d.d PMK 68/2025 mengatur harga referensi CPO di atas US$680/MT bakal kena bea keluar. Pengaturan tersebut bertujuan mengantisipasi perubahan harga CPO di pasar global serta mendukung kebijakan hilirisasi.
Dia menerangkan penetapan harga referensi CPO bersumber dari rata-rata harga selama periode 20 Mei–19 Juni 2026 pada Bursa CPO di Indonesia sebesar US$890,84/MT, Bursa CPO di Malaysia sebesar US$1.110,97/MT, dan harga Port CPO Rotterdam sebesar US$1.468,28/MT.
Merujuk pada Permendag 46/2022, bila terdapat perbedaan harga rata-rata pada 3 sumber harga sebesar lebih dari US$40, maka perhitungan harga referensi CPO menggunakan rata-rata dari 2 sumber harga yang menjadi median dan sumber harga terdekat dari median.
Artinya, harga referensi bersumber dari Bursa CPO di Malaysia dan Bursa CPO di Indonesia. Berdasarkan perhitungan tersebut, harga referensi CPO ditetapkan sebesar US$1.000,90/MT.
Menurutnya, penurunan harga referensi CPO mencerminkan perkembangan harga di pasar global yang menjadi acuan penetapan bea keluar dan pungutan ekspor. Penurunan harga referensi CPO dipengaruhi oleh melemahnya permintaan global, terutama dari India sebagai salah satu negara importir utama, serta penurunan harga minyak mentah dunia yang turut menekan harga minyak nabati di pasar internasional.
Sementara itu, harga referensi biji kakao periode Juli 2026 ditetapkan senilai US$3.969,56/MT atau naik 3,59% dari bulan ini. Hal itu berdampak pada kenaikan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao pada Juli 2026 menjadi US$3.646/MT atau naik 3,83% dari periode sebelumnya.
"Peningkatan harga referensi dan HPE biji kakao dipengaruhi berlanjutnya gangguan pasokan akibat cuaca buruk dan penurunan produksi di negara-negara produsen utama kakao di Afrika Barat," kata Tommy.
Bea keluar biji kakao periode Juli 2026 masih merujuk pada kolom 4 Lampiran Huruf B PMK 38/2024 s.t.d.d PMK 68/2025, yakni sebesar 7,5%. Melalui PMK 68/2025 yang terbit pada akhir 2025, pemerintah memang menurunkan tarif bea keluar untuk biji kakao.
Misal, tarif bea keluar atas ekspor biji kakao seharga lebih dari US$3.500 per ton diturunkan dari 15% menjadi hanya 7,5%.
Di sisi lain, melalui PMK 68/2025 juga ditetapkan getah pinus kini turut dikenai bea keluar. Merujuk pada lampiran PMK tersebut, getah pinus yang termasuk dalam pos tarif ex 1301.90.90 dikenai bea keluar sebesar 25%. (dik)
