JAKARTA, DDTCNews - Indonesia menjadi tuan rumah The 5th Regional Customs Laboratories Heads Meeting (RCLHM) yang dihadiri oleh perwakilan dari 5 laboratorium kepabeanan regional (Regional Customs Laboratories/RCL) kawasan Asia Pasifik.
Kasubdit Humas dan Penyuluhan Bea dan Cukai Netty Hartawati mengungkapkan bahwa salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah perkembangan narkotika dan zat psikoaktif baru (new psychoactive substances/NPS). Perkembangan tersebut membuat pemeriksaan laboratorium semakin penting.
"Perubahan jenis dan karakteristik zat yang beredar menuntut kemampuan identifikasi yang terus diperbarui. Etomidate, misalnya, turut menjadi perhatian dalam pembahasan tren NPS di kawasan," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (1/11/2026).
Netty menjelaskan bahwa pengawasan barang membutuhkan dukungan pengetahuan dan metode analisis yang memadai, terutama untuk mendeteksi dan mengidentifikasi berbagai jenis narkotika beserta karakteristiknya.
Identifikasi yang tepat diperlukan agar suatu zat dapat dikenali berdasarkan karakteristik kimianya. Dengan demikian, petugas di lapangan dapat mengetahui kandungan zat sekaligus mencegah penyalahgunaan ketika nama dagang, bentuk fisik, atau kemasan tidak cukup menggambarkan karakteristik barang tersebut.
"Melalui laboratorium, bea cukai memperoleh dukungan teknis untuk menganalisis sampel dan mengidentifikasi karakteristik barang. Dukungan ini relevan dalam pengawasan narkotika, bahan kimia berisiko, serta pengujian yang diperlukan untuk membantu penetapan klasifikasi barang berdasarkan harmonized system (HS)," papar Netty.
Sejalan dengan itu, RCLHM menjadi wadah bagi 5 RCL di kawasan Asia Pasifik untuk memaparkan perkembangan kegiatan, metode analisis, inovasi, serta pengelolaan laboratorium masing-masing. Kelima laboratorium tersebut berasal dari Indonesia, China, India, Jepang, dan Korea.
Pembahasan dalam agenda tersebut mencakup penerapan standar mutu ISO/IEC 17025:2017, keselamatan kerja, penanganan bahan kimia, pengembangan sistem informasi laboratorium, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Selain itu, para delegasi juga memperoleh pembaruan mengenai kebijakan World Customs Organization (WCO), termasuk WCO Strategic Plan 2025–2028, HS 2028, perkembangan Scientific Sub-Committee, dan WCO RCL Professional Programme.
Dalam pertemuan tersebut, para delegasi juga sepakat mengajukan permohonan bersama kepada WCO untuk menyelenggarakan Pre-Accreditation Workshop. Usulan tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan kapasitas dan jumlah tenaga ahli laboratorium kepabeanan yang terakreditasi oleh WCO.
Penyelenggaraan RCLHM memperlihatkan bahwa penguatan laboratorium kepabeanan tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi lintas negara. Perkembangan jenis barang yang diperdagangkan dan potensi penyalahgunaannya membutuhkan pertukaran informasi serta kemampuan teknis yang terus berkembang.
"Bagi masyarakat, penguatan kapasitas laboratorium mendukung upaya mengenali dan mengawasi barang yang berpotensi membahayakan kesehatan, keselamatan, dan keamanan. Sementara bagi pelaku usaha, hasil pengujian yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan membantu memberikan kepastian dalam proses klasifikasi serta perlakuan kepabeanan," kata Netty. (rig)
