PEREKONOMIAN INDONESIA

RI Catat Surplus Neraca Perdagangan US$950 Juta pada Awal 2026

Aurora K. M. Simanjuntak
Senin, 02 Maret 2026 | 11.45 WIB
RI Catat Surplus Neraca Perdagangan US$950 Juta pada Awal 2026
<p>Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).</p>

JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 senilai US$950 juta.

Angka surplus neraca perdagangan awal tahun ini lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni mencapai US$3,49 miliar. Selain itu, surplus neraca perdagangan itu juga lebih rendah ketimbang Desember 2025 yang sebesar US$2,51 miliar.

"Pada Januari 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Neraca perdagangan tersebut surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Senin (2/3/2026).

Surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 ini terjadi karena ekspor yang mencapai US$22,15 miliar, sedangkan impornya US$21,20 miliar. Kinerja ekspor tersebut mampu tumbuh 3,39% dibandingkan dengan Januari 2025, sedangkan impornya meningkat 18,21%.

Lebih lanjut, Ateng menyampaikan surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$3,22 miliar. Komoditas penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sementara itu, neraca komoditas migas tercatat defisit sebesar US$2,27 miliar. Adapun komoditas penyumbang defisit terutama minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Berikutnya, Ateng melaporkan berdasarkan negara mitra dagang, ada 3 negara penyumbang surplus untuk neraca perdagangan Indonesia. Ketiga negara tersebut meliputi Amerika Serikat (AS) dengan total surplus US$1,55 miliar, India sebesar US$1,07 miliar, dan Filipina sebesar US$690 juta.

Di samping itu, negara mitra dagang yang menyumbang defisit neraca perdagangan utamanya China dengan defisit sebesar US$2,47 miliar. Lalu disusul Australia dengan defisit senilai US$960 juta, dan Prancis senilai US$470 juta. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.