Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Bank Sentral Ingatkan Risiko Resesi Jika Pajak Penjualan Tetap Naik

1
1

Yutaka Harada, Anggota Dewan Bank of Japan (BoJ). (foto: Reuters)

JAKARTA, DDTCNews – Bank sentral memperingatkan risiko terjadinya resesi jika rencana kenaikan tarif pajak penjualan (sales tax) tetap dieksekusi pada Oktober 2019.

Yutaka Harada, Anggota Dewan Bank of Japan (BoJ) yang mendukung stimulus mengatakan kenaikan pajak penjualan dapat menggagalkan pemulihan ekonomi Jepang. Apalagi, ekonomi Jepang sudah dirugikan dari sisi ekspor dan output manufaktur yang lesu.

“Dengan menaikkan pajak penjualan ketika ekonomi berada pada titik kritis, Jepang berisiko masuk ke dalam resesi,” katanya dalam konferensi pers setelah bertemu dengan para pemimpin bisnis di Nagasaki, Jepang selatan, seperti dikutip pada Kamis (23/5/2019).

Baca Juga: Otoritas Pajak Indonesia & Jepang Perkuat Kerja Sama di 3 Aspek Ini

Pengeluaran modal dan konsumsi swasta yang masih turun juga akan meningkatkan risiko. Pejabat yang selalu mendukung pelonggaran moneter ini mengatakan kondisi ekonomi yang makin buruk akan membuat pencapaian target inflasi dalam jangka panjang makin sulit.

Perlambatan ekonomi yang menghambat upaya bank sentral untuk menaikkan indeks harga (inflasi), menurutnya, harus diikuti dengan stimulus dari sisi moneter. Hal ini juga mengindikasikan bank sentral sudah kehabisan instrumen yang efektif untuk menopang inflasi.

Pelonggaran kebijakan moneter dilakukan dengan memotong suku bunga acuan, mempercepat laju pencetakan uang, atau berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan yang sangart longgar untuk jangka waktu yang lebih lama. Namun, dia menolak gagasan untuk mencetak uang tanpa batas.

Baca Juga: Pihak Oposisi Serukan Penundaan Kenaikan Pajak Penjualan

“Jika pemerintah menerbitkan utang dengan mata uangnya sendiri, itu mungkin tidak default. Namun, melakukan hal itu akan menyebabkan inflasi yang tidak terkendali, sehingga gagasan itu tidak akan berhasil. Pemerintah bisa menaikkan pajak atau memotong pengeluaran, tapi kenyataannya akan sangat sulit dilakukan,” jelasnya, seperti dilansir Business Times.

Pencetakan uang dalam jumlah besar selama bertahun-tahun oleh BOJ telah gagal untuk meningkatkan inflasi dan menghancurkan suku bunga jangka panjang mendekati nol. Hal ini menarik kritik dari lembaga keuangan karena mempersempit margin dan merusak laba mereka.

Namun, Harada menegaskan kebijakan yang sangat longgar dari BOJ telah memberi manfaat. Profitabilitas yang tidak baik dari bank, menurutnya, disebabkan oleh masalah struktural. Ini karena mereka menambah deposito di tengah sepinya peminjam. (kaw)

Baca Juga: PDB Positif, Kenaikan Pajak Penjualan Masih Dikhawatirkan, Ada Apa?

“Dengan menaikkan pajak penjualan ketika ekonomi berada pada titik kritis, Jepang berisiko masuk ke dalam resesi,” katanya dalam konferensi pers setelah bertemu dengan para pemimpin bisnis di Nagasaki, Jepang selatan, seperti dikutip pada Kamis (23/5/2019).

Baca Juga: Otoritas Pajak Indonesia & Jepang Perkuat Kerja Sama di 3 Aspek Ini

Pengeluaran modal dan konsumsi swasta yang masih turun juga akan meningkatkan risiko. Pejabat yang selalu mendukung pelonggaran moneter ini mengatakan kondisi ekonomi yang makin buruk akan membuat pencapaian target inflasi dalam jangka panjang makin sulit.

Perlambatan ekonomi yang menghambat upaya bank sentral untuk menaikkan indeks harga (inflasi), menurutnya, harus diikuti dengan stimulus dari sisi moneter. Hal ini juga mengindikasikan bank sentral sudah kehabisan instrumen yang efektif untuk menopang inflasi.

Pelonggaran kebijakan moneter dilakukan dengan memotong suku bunga acuan, mempercepat laju pencetakan uang, atau berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan yang sangart longgar untuk jangka waktu yang lebih lama. Namun, dia menolak gagasan untuk mencetak uang tanpa batas.

Baca Juga: Pihak Oposisi Serukan Penundaan Kenaikan Pajak Penjualan

“Jika pemerintah menerbitkan utang dengan mata uangnya sendiri, itu mungkin tidak default. Namun, melakukan hal itu akan menyebabkan inflasi yang tidak terkendali, sehingga gagasan itu tidak akan berhasil. Pemerintah bisa menaikkan pajak atau memotong pengeluaran, tapi kenyataannya akan sangat sulit dilakukan,” jelasnya, seperti dilansir Business Times.

Pencetakan uang dalam jumlah besar selama bertahun-tahun oleh BOJ telah gagal untuk meningkatkan inflasi dan menghancurkan suku bunga jangka panjang mendekati nol. Hal ini menarik kritik dari lembaga keuangan karena mempersempit margin dan merusak laba mereka.

Namun, Harada menegaskan kebijakan yang sangat longgar dari BOJ telah memberi manfaat. Profitabilitas yang tidak baik dari bank, menurutnya, disebabkan oleh masalah struktural. Ini karena mereka menambah deposito di tengah sepinya peminjam. (kaw)

Baca Juga: PDB Positif, Kenaikan Pajak Penjualan Masih Dikhawatirkan, Ada Apa?
Topik : Jepang, pajak penjualan, sales tax, PM Abe, BoJ
artikel terkait
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
berita pilihan
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Kamis, 06 Juli 2017 | 08:11 WIB
ETHIOPIA
Kamis, 18 Mei 2017 | 17:02 WIB
SPANYOL
Jum'at, 05 Agustus 2016 | 07:32 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 22 Maret 2017 | 15:36 WIB
INDIA
Kamis, 03 November 2016 | 07:07 WIB
KENYA
Rabu, 28 September 2016 | 17:07 WIB
PAKISTAN
Rabu, 24 Agustus 2016 | 14:11 WIB
FILIPINA