AMERIKA SERIKAT

AS Bakal Naikkan Bea Masuk Mobil Listrik China hingga 4 Kali Lipat

Muhamad Wildan
Senin, 13 Mei 2024 | 18.30 WIB
AS Bakal Naikkan Bea Masuk Mobil Listrik China hingga 4 Kali Lipat

Ilustrasi. Pengunjung memperhatikan kendaraan listrik yang dipajang dalam Pameran otomotif Periklindo Electric Vehicles Show (PEVS) 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (1/5/2024). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/tom.

WASHINGTON D.C., DDTCNews - Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana meningkatkan tarif bea masuk atas impor mobil listrik pabrikan China dari saat ini sebesar 25% menjadi 100%.

Pejabat di internal pemerintahan AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat ini.

"Pemerintahan Presiden Joe Biden akan memberlakukan tarif bea masuk baru atas mobil listrik, semikonduktor, panel surya, dan peralatan medis," ungkap pejabat tersebut seperti dilansir apnews.com, dikutip pada Senin (13/5/2024).

Kebijakan menaikkan tarif bea masuk ini diambil di tengah kekhawatiran potensi pasar AS dibanjiri dengan mobil listrik murah dari China.

Pemerintah AS menilai impor mobil listrik China mengancam keberlangsungan industri mobil AS. Sebab, China mampu memproduksi mobil listrik dengan harga amat murah dan pabrikan mobil listrik AS dipandang tidak akan mampu bersaing.

Contoh, Chevrolet Bolt dijual di AS dengan harga $29.000 per unit, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Dongfeng Nammi 01 yang memiliki harga jual sejumlah US$11.000 per unit.

Tak hanya itu, mobil listrik dari China juga dikhawatirkan bakal mengurangi efektivitas dari insentif-insentif mobil listrik dan insentif terkait dengan teknologi ramah lingkungan yang telah diberikan oleh pemerintah melalui Inflation Reduction Act (IRA).

Melalui IRA, pemerintah memberikan insentif berupa kredit pajak maksimal senilai US$7.500 bagi pembeli mobil listrik. Insentif diberikan sepanjang komponen baterai dari mobil listrik itu berasal dari AS ataupun negara-negara mitra yang memiliki FTA dengan AS.

Sebagai informasi, China tidak termasuk dalam daftar negara mitra tersebut. Namun, China bersama Rusia, Iran, dan Korea Utara justru dikategorikan sebagai foreign entities of concern (FEOC). Wajib pajak tidak mendapatkan fasilitas kredit pajak jika membeli mobil listrik yang komponennya berasal dari negara FEOC.

Selain faktor ekonomi, rencana menaikkan tarif bea masuk mobil listrik China dari 25% menjadi sebesar 100% juga ditengarai dilatarbelakangi oleh kepentingan politik elektoral.

Sebab, Biden selaku petahana akan kembali berkompetisi melawan Donald Trump dalam Pilpres AS 2024 yang diselenggarakan pada 5 November 2024. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.