Fokus
Literasi
Jum'at, 26 Februari 2021 | 18:01 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 26 Februari 2021 | 17:38 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 17:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Kamis, 25 Februari 2021 | 17:36 WIB
CUKAI (2)
Data & Alat
Rabu, 24 Februari 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 24 FEBRUARI - 2 MARET 2021
Minggu, 21 Februari 2021 | 09:00 WIB
STATISTIK MUTUAL AGREEMENT PROCEDURE
Rabu, 17 Februari 2021 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 FEBRUARI - 23 FEBRUARI 2021
Senin, 15 Februari 2021 | 11:38 WIB
STATISTIK RASIO PAJAK
Reportase
Perpajakan.id

Apa Itu Retribusi Perizinan Tertentu?

A+
A-
5
A+
A-
5
Apa Itu Retribusi Perizinan Tertentu?

RETRIBUSI daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah (pemda) untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Berdasarkan Pasal 108 ayat (1) UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), retribusi digolongkan menjadi 3 golongan, salah satunya retribusi perizinan tertentu. Selanjutnya, Pasal 141 menyatakan retribusi perizinan tertentu terklasifikasi menjadi 5 jenis.

Namun, UU Cipta Kerja telah merevisi jenis retribusi perizinan tertentu. Hal ini membuat jenis retribusi perizinan tertentu dalam UU PDRD menyusut dari 5 jenis menjadi 4 jenis retribusi. Lantas, bagaimana sebenarnya maksud dari setiap jenis retribusi perizinan tertentu?

Baca Juga: Duh, Penipuan Pajak di Kota Ini Masih Banyak

Definisi
MERUJUK Pasal 1 angka 68 UU PDRD, retribusi perizinan tertentu adalah pungutan atas:

“Kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan."

Selanjutnya, sesuai dengan Pasal 141 UU PDRD, retribusi perizinan tertentu terklasifikasi menjadi 5 jenis yang perinciannya diatur dalam Pasal 142 sampai dengan Pasal 146.

Baca Juga: Genjot PAD, Ratusan Petugas Pajak Daerah Dibekali Pelatihan

Pertama, retribusi izin mendirikan bangunan (IMB). Retribusi ini merupakan pungutan atas pelayanan pemberian izin untuk mendirikan suatu bangunan, yang meliputi kegiatan peninjauan desain dan pemantauan pelaksanaan pembangunannya agar tetap sesuai dengan rencana teknis bangunan dan rencana tata ruang.

Pemberian izin itu dilakukan dengan tetap memperhatikan koefisien dasar bangunan, luas bangunan, dan ketinggian bangunan. Selain itu, pengawasan penggunaan bangunan yang meliputi pemeriksaan dalam rangka memenuhi syarat keselamatan bagi yang menempati bangunan tersebut juga turut diperhatikan.

Namun, pemberian izin untuk bangunan milik pemerintah atau pemda tidak termasuk objek retribusi IMB. Selain itu, melalui UU Cipta Kerja pemerintah mengubah retribusi izin IMB menjadi retribusi persetujuan bangunan gedung.

Baca Juga: Pengawasan dan Penagihan Aktif Pajak Dioptimalkan

Kedua, retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol. Retribusi ini adalah pungutan atas pelayanan pemberian izin untuk melakukan penjualan minuman beralkohol di suatu tempat tertentu.

Ketiga, retribusi izin gangguan. Retribusi ini adalah pungutan atas pelayanan pemberian izin tempat usaha/kegiatan di lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian atau gangguan. Namun, tempat usaha/kegiatan yang ditentukan pemerintah atau pemda tidak dikenakan retribusi ini.

Izin gangguan tersebut termasuk pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha secara terus-menerus untuk mencegah terjadinya gangguan ketertiban, keselamatan, atau kesehatan umum, memelihara ketertiban lingkungan, serta memenuhi norma keselamatan dan kesehatan kerja.

Baca Juga: Apa Itu Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas?

Namun, melalui UU Cipta Kerja pemerintah mencabut jenis retribusi izin gangguan. Pencabutan itu merupakan tindak lanjut Permendagri No. 19/2017 yang mengatur pencabutan Permendagri No. 27/2009 tentang Pedoman Penetapan Izin Undang-Undang Gangguan di Daerah.

Sejalan dengan aturan tersebut, Kemendagri melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 500/3231/SJ telah mengamanatkan agar pemda segera mencabut peraturan daerah yang terkait dengan undang-undang gangguan/izin gangguan atau biasa disebut Hinder Ordonnantie (HO).

SE tersebut dikeluarkan sebagai upaya meningkatkan kemudahan berusaha di daerah. Melalui aturan itu, penerbitan izin tidak lagi mempersyaratkan HO atau surat izin tempat usaha (SITU) atau surat keterangan domisili usaha (SKDU).

Baca Juga: Sebulan Lagi Pemutihan Pajak Bumi dan Bangunan Berakhir

Penghapusan retribusi izin gangguan ini juga berkaitan dengan diterbitkannya PP No. 24/2018 tentang Online Single Submission (OSS). Pada Pasal 62 PP 24/2018, izin gangguan dilebur dalam penyusunan dokumen Amdal atau Upaya Pengelolaan Lingkungan – Upaya Pemantauan Lingkungan.

Hal ini berarti retribusi izin gangguan juga tidak termasuk lagi dalam jenis dan objek retribusi perizinan tertentu. Dengan demikian, retribusi izin gangguan yang terdapat dalam Pasal 141 UU PDRD sudah tidak dapat dipungut lagi.

Keempat, retribusi izin trayek. Retribusi jenis ini adalah pungutan atas pelayanan pemberian izin usaha untuk penyediaan pelayanan angkutan penumpang umum pada satu atau beberapa trayek tertentu.

Baca Juga: DBH Paling Rendah Se-Kecamatan, Kades: Banyak Perusahaan Nunggak Pajak

Kelima, retribusi izin usaha perikanan. Retribusi ini merupakan pungutan atau pemberian izin untuk melakukan kegiatan usaha penangkapan dan pembudidayaan ikan.

Lebih lanjut, Pasal 150 UU PDRD memungkinkan penetapan jenis retribusi perizinan tertentu selain yang telah dipaparkan di atas. Namun, jenis retribusi perizinan tertentu tersebut harus memenuhi 3 kriteria.

Pertama, perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintah yang diserahkan kepada daerah dalam rangka asas desentralisasi. Kedua, perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna kepentingan umum.

Baca Juga: Patuh Bayar Pajak, WP Dapat Penghargaan dari Pemda

Ketiga, biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan.

Selain itu, PP No. 97/2012 telah menambahkan jenis retribusi perpanjangan izin mempekerjakan tenaga kerja asing (IMTA). Merujuk Pasal 1 angka 3, retribusi IMTA adalah pungutan atas pemberian perpanjangan IMTA kepada pemberi kerja tenaga kerja asing.

Adapun pemanfaatan hasil penerimaan dari setiap jenis retribusi perizinan tertentu diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan jenis layanan bersangkutan. Ketentuan pengalokasian dari hasil penerimaan retribusi tersebut ditetapkan dengan perda dari masing-masing daerah.

Baca Juga: DBH Pajak Tak Kunjung Cair, Wakil Wali Kota Minta Kejelasan

Simpulan
INTINYA retribusi perizinan tertentu adalah pungutan atas pemberian izin dari pemda kepada orang pribadi atau badan.

Pungutan tersebut dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelumnya, retribusi perizinan tertentu terklasifikasi menjadi 5 jenis. Namun, UU Cipta Kerja merevisi jenis retribusi perizinan tertentu menjadi 4 jenis retribusi. Selain itu, PP 97/2012 telah menambahkan 1 jenis retribusi perizinan tertentu.

Baca Juga: Parkir Liar di DKI Marak, Setoran Pajak Makin Tergerus

Dengan demikian, saat ini terdapat 4 jenis retribusi perizinan tertentu dalam UU PDRD, yaitu retribusi persetujuan bangunan gedung, izin tempat penjualan minuman beralkohol, izin trayek, dan izin usaha perikanan. Ada pula izin mempekerjakan tenaga kerja asing berdasarkan PP 97/2012. (Bsi)

Topik : retribusi pelayanan tertentu, definisi, kamus pajak, pajak daerah
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Senin, 22 Februari 2021 | 17:47 WIB
KABUPATEN BOJONEGORO
Senin, 22 Februari 2021 | 16:00 WIB
PP 10/2021
Senin, 22 Februari 2021 | 15:15 WIB
PP 10/2021
Senin, 22 Februari 2021 | 13:30 WIB
PP 10/2021
berita pilihan
Minggu, 28 Februari 2021 | 15:01 WIB
KOREA SELATAN
Minggu, 28 Februari 2021 | 14:01 WIB
KABUPATEN SERANG
Minggu, 28 Februari 2021 | 13:01 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Minggu, 28 Februari 2021 | 12:01 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Minggu, 28 Februari 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 28 Februari 2021 | 10:01 WIB
UNI EROPA
Minggu, 28 Februari 2021 | 09:01 WIB
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Minggu, 28 Februari 2021 | 08:01 WIB
MOHAMAD FERIADI:
Minggu, 28 Februari 2021 | 07:01 WIB
AFRIKA SELATAN