USAI melakukan napak tilas masa-masa studi di Vienna 20 tahun lalu pada 31 Desember 2025 sampai 4 Januari 2026, Danny Septriadi melanjutkan agendanya ke Praha, Ceko. Ada agenda khusus yang menunggu salah satu Founder DDTC dan Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) itu, yakni pelatihan. Bukan tentang pajak, melainkan pelatihan untuk mengajar dengan humor.
Adakah hubungannya dengan kepakaran Danny di bidang pajak?
Simak petikan wawancara redaksi DDTCNews dengan Danny Septriadi, Founder of DDTC, di tengah perjalanannya ke Austria dan Ceko. Artikel wawancara terbagi ke dalam 3 bagian. Anda bisa membaca bagian pertama dan kedua wawacara terlebih dulu. Berikut petikan wawancara bagian ketiganya.
Jadi, setelah beberapa hari di Vienna, Anda langsung berangkat ke Praha?
Menginap semalam dulu di Bratislava, Slovakia. Ternyata beda banget dengan Vienna, ya. Bratislava jauh lebih lengang. Saya juga enggak expect, nyaman juga jalan-jalan di sekitar kota tuanya Bratislava yang enggak seramai Stephansplatz atau Mariahilfer Straße.
Wah, target steps harian enggak tercapai, dong?
Oh tetap, tetap dapat—meskipun enggak sampai 20.000 steps seperti kemarin, sih. Anggap saja yang over kemarin itu nabung steps lah, ya. Jadi kalau setelahnya nggak sebanyak itu enggak apa-apa juga. He he he. Justru sebenarnya yang susah buat mencapai target steps harian itu di Praha.
Karena?
Hujan salju! Mana lebat lagi! Wah, menantang pokoknya. Ternyata di Eropa, winter kali ini kondisinya terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Di Belanda, bahkan bandara sempat lumpuh. Kalau di Ceko, suhunya kemarin feels like minus 12 derajat Celcius. Warlok [warga lokal] pada bilang ini musim dingin yang terparah.
Total tiga hari durasi workshop (8–10 Januari 2026), dua di antaranya turun salju terus hampir sepanjang hari. Malamnya sih saya tetap jalan kaki menyusuri Praha sekalian dinner. Tapi ya nggak jalan jauh banget jadinya.
Lantas, seperti apa workshop yang Anda ikuti di Praha, Ceko, itu?
Workshop ini judul lengkapnya Teaching with Humour and Kindness: Use It Responsibly. Lembaga yang mengadakan Vice Versa Academy, Europass Teacher Academy in Prague. Europass Teacher Academy ini adalah tempat kursus buat para pengajar di Eropa. Course yang disediakan banyak: ada artificial intelligence, creativity, leadership, macam-macam. Nah, salah satunya penggunaan humor untuk mengajar itu.
Sebenarnya, saya dan Ulwan Fakhri (peneliti IHIK3) dari awal 2025 sudah mendaftar. Cuma, kelasnya enggak dibuka-buka karena pesertanya kurang terus. Syukurlah kemarin jadi juga diadain. Apalagi fasilitatornya Director Europass Teacher Academy cabang Ceko langsung: Carmine Rodi.

Danny Septriadi (kanan) dan Ulwan Fakhri mengapit Carmine Rodi, fasilitator kursus yang mereka ikuti sekaligus Director of Vice Versa Academy, Europass Teacher Academy in Prague.
Carmine ini unik: orang Italia, tapi sudah 10 tahunan tinggal di Ceko. Background utamanya pengajar, kemudian dia nyambi jadi stand-up comedian dan psikoterapis berlisensi. Ini yang saya rasa jadi nilai tambah dia. Fokus di kelas Carmine bukan bikin joke atau melucu. Humor 'cuma' jadi tool untuk mendukung expertise kita sebagai pengajar. 'Tinggal' disinkronkan saja dengan materi yang kita ajarkan, entah itu dalam bentuk ice breaking, slide presentasi, atau kemasan pengajarannya.
Terus, dia juga tahu problem-problem psikologis yang ada di kelas, sehingga dia juga kasih tips dan trik supaya humor dalam pengajaran tidak sampai jadi bullying. Saya diingatkan lagi kalau humor dalam pengajaran perlu didasari niat baik. Soalnya, mental dosen maupun mahasiswa harus sama-sama sehat.
Sebelum kami berangkat ke Praha, saya dan Ulwan juga sempat Zoom Meeting dengan Carmine. Kami ceritakan apa motivasi dan ekspektasi kami mengikuti kelas dia. Dari obrolan itu kami sama-sama sepakat, pendidik perlu punya ragam strategi buat mengajar. Soalnya, tidak semua mahasiswa itu siap menghadapi perkuliahan.
Di salah satu perguruan tinggi negeri favorit saja, 60 persen mahasiswa baru sudah depresi, padahal perkuliahan belum dimulai. Kebetulan, kami punya beragam referensi di library yang menunjukkan kalau humor itu cocok jadi salah satu strategi pembelajaran.
Saya dan para penulis dari IHIK3 lalu meriset buku-buku kajian humor yang ada di DDTC Library. Kami susun argumen dan inspirasi buat dosen dari berbagai disiplin ilmu supaya terpacu untuk menggabungkan bidang ilmunya dengan humor saat mengajar, baik yang dari humaniora maupun eksakta. Jadilah buku Teaching with Humor: Ha+Ha=AHA!.

Buku yang Danny Septriadi tulis bersama IHIK3 telah dirilis dalam dua cover yang berbeda. Pre-order buku ini di sini.
Apa bagian paling menyenangkan di workshop itu?
Dapat kesempatan untuk latihan dan langsung mendapat feedback bagian mana yang masih kurang atau bisa diperbaiki. Saya coba demonstrasikan slide yang pernah saya bawakan di kelas dan course komunikasi dan negosiasi pajak. Walaupun sudah saya bawakan lebih dari tiga kali dan terus saya update, ternyata masih ada masukan bagus buat memperkaya pembahasan dan slide saya.

Danny Septriadi mendapatkan feedback dari fasilitator kursus, Carmine Rodi, setelah mendemonstrasikan materi pengajaran pajaknya yang dikombinasikan dengan humor.
Saya juga dapat banyak ide baru untuk diaplikasikan di kelas pajak saya. Beberapa di antaranya mau saya coba di course “Humor dalam Manajemen Stress Praktisi Pajak: The Show Must Go On!”, deh.
Itu termasuk materi pendidikan pajak yang Anda inovasikan dengan humor?
Betul. Saya juga terinspirasi dari profesor University of Hawaii, John Barkai, yang menulis buku Humor and Negotiations in ADR.
Selain itu, saya juga sedang mengadvokasi supaya profesional pajak di Indonesia mengiringi kompetensi teknikalnya dengan life skills, misalnya berkomunikasi, berpikir kritis dan kreatif, dan resiliensi diri.
Apalagi, resiliensi itu penting banget. Saya tahu persis bahwa profesional pajak itu challenge-nya beragam. Sudah deadline-nya ketat banget, harus akurat—kalau tidak bisa kena denda, terus masih harus beradaptasi dengan aturan yang sangat dinamis. Transisi ke sistem administrasi baru juga tidak mudah. Bukan cuma buat taxpayer, tax authorities juga punya tantangannya sendiri.
Salah satu yang stressful adalah target penerimaan pajak yang terus meningkat dan memicu potensi sengketa. Beberapa alasan itulah yang bikin saya yakin: profesional pajak di Indonesia harus tangguh. Harus kuat. Kalau enggak kuat, enggak mungkin bertahan di profesi ini.
Nah, buat yang masih struggling bagaimana? Saya anjurkan untuk belajar resiliensi, yang bisa diasah lewat pendekatan humor.
Dengan cara?
Seperti yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan sertifikasi Certified Humor Professional tahun 2023 dari Association for Applied and Therapeutic Humor (AATH): group therapy. Saya bukan psikolog, tetapi group therapy ini pendekatan yang universal. Saya dan Ulwan baca berbagai jurnal, lalu mengonsep sebuah forum bagi petugas dan wajib pajak untuk saling bercerita. Ya semacam 'sesi curhat nasional' begitu, lah.
Kenapa ini efektif? Simpelnya karena yang bercerita bisa lebih lega dan didengarkan. Bagi yang mendengarkan pun bisa muncul bibit-bibit empatinya. Win-win bagi kedua belah pihak.
Ini pendekatan baru, inovasi dari DDTC buat perpajakan di Indonesia. Mentor-mentor saya di AATH yang kebanyakan dari Amerika Serikat pun bilang, 'IRS saja belum pernah melakukan ini'.
Saya juga ingin profesional pajak di Indonesia punya critical thinking yang bagus. Mudah sekali ditemukan logical fallacy di bidang ini. Tahun ini, saya juga akan mengajarkan berpikir kritis yang asyik buat profesional pajak di Indonesia lewat kartun-kartun. Saya yakin sih, metode ini relevan buat mengilustrasikan apa yang sedang terjadi di perpajakan Indonesia sekaligus memancing ide-ide perbaikan buat ke depannya.
Banyak yang akan Bapak perbarui, kalau yang akan dipertahankan ada atau tidak?
Ada. Kelas-kelas saya nanti selalu saya batasi jumlah pesertanya. Malahan harus terbatas. Soalnya, saya mau di kelas saya semua peserta punya kesempatan untuk praktik dan mencoba. 25 orang per kelas saya rasa sudah paling banyak itu sebenarnya.
Patut dinantikan!
Thank you.
