Fokus
Literasi
Jum'at, 18 Juni 2021 | 19:00 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 18 Juni 2021 | 17:01 WIB
KAMUS PAJAK PENGHASILAN
Jum'at, 18 Juni 2021 | 16:01 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 17 Juni 2021 | 18:11 WIB
CUKAI (18)
Data & Alat
Kamis, 17 Juni 2021 | 18:50 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Rabu, 16 Juni 2021 | 08:55 WIB
KURS PAJAK 16 JUNI 2021-22 JUNI 2021
Rabu, 09 Juni 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 9 JUNI 2021-15 JUNI 2021
Selasa, 08 Juni 2021 | 18:33 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Komunitas
Rabu, 16 Juni 2021 | 15:00 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 16 Juni 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Senin, 14 Juni 2021 | 14:11 WIB
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA
Sabtu, 12 Juni 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Reportase
Perpajakan.id

'Setiap Beringin Besar akan Tumbang'

A+
A-
1
A+
A-
1
'Setiap Beringin Besar akan Tumbang'

Patung Kapitan Pattimura di Taman Pattimura, Uritetu, Sirimau, Ambon, Maluku. (Foto: Pemprov Maluku)

AMBON, akhir abad ke-18. Beberapa kapal Inggris tiba-tiba merapat ke pelabuhan. Ratusan serdadu di dalamnya bergegas turun, masuk ke Benteng Victoria, yang hanya beberapa tindak dari bibir pantai. Penduduk Ambon hanya melihat, tak berani bertanya, apalagi mencegah.

Segera setelah itu, bendera Belanda yang terpasang di halaman depan benteng diturunkan. Sebagai gantinya, bendera Inggris Union Jack dinaikkan. Sebagian serdadu yang lain, dengan senjata lengkap, menyebar ke penjuru kota. Mereka bersiaga.

Tidak ada perlawanan. Beberapa hari sebelum Inggris tiba, serdadu Belanda sudah menyingkir, dan hanya menyisakan segelintir. Rupanya waktu itu terjadi pergantian kekuasaan yang damai antara Belanda dan Inggris di Ambon, Maluku.

Baca Juga: 'Belanda Tidak Punya Hak Lagi atas Indonesia'

Perang yang berkecamuk di Eropa telah memaksa Raja Belanda Willem V lari dan bersembunyi dari kejaran Prancis di Kew, Inggris. Raja Willem yang dilindungi Inggris lalu memerintahkan bawahannya menyerahkan koloninya di Afrika dan Asia ke tangan Inggris.

Inggris sendiri sudah lama memantau Ambon. Sejak abad ke 17, Inggris sudah masuk ke Pulau Banda untuk membeli cengkeh dan pala. Maklum, permintaan rempah-rempah di Eropa kelewat tinggi. Keduanya juga beberapa kali berperang, bahkan saling bertukar pulau untuk berdamai.

Seabad lebih Belanda dan Inggris berebut Ambon, menggantikan 2 negara Eropa sebelumnya, Kastilia Spanyol dan Portugis. Namun, Spanyol dan Portugis menyepakati Perjanjian Zaragosa, hingga Spanyol menyingkir ke Filipina, sebelum Belanda akhirnya mengusir Portugis di Ambon.

Baca Juga: Apa yang Membuat Orang Jawa Begitu Miskin?

Pada mulanya, masyarakat Ambon menganggap kedatangan Inggris pada akhir abad ke 18 itu sama dengan Belanda. Mereka sama-sama kulit putih, penjajah, yang datang untuk menghisap bumi dan kekayaan alam Maluku. Namun kemudian, di bawah Inggris, perlahan keadaan menjadi lebih baik.

Tidak ada lagi Pelayaran Hongi yang membakar pohon pala dan cengkeh. Tidak ada lagi monopoli perdagangan rempah-rempah. Pemindahan paksa para pekerja ke Jawa, juga perbudakan, disudahi. Beberapa pajak seperti pajak pasar dihapuskan, dan orang bebas berdagang dengan siapa saja.

Saat situasi mulai membaik itulah, Pemerintah Inggris merekruit serdadu dari warga Ambon. Janjinya, para serdadu itu tidak dikirim ke Jawa, tetapi bertahan di Maluku untuk mengamankan Maluku dari serbuan warga asing. Karena itu, seorang pemuda Ambon pun tertarik mendaftar.

Baca Juga: 'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

Namanya Thomas Matulesia (1783-1817). “Ia tinggi, kurus dan sangat gelap. Tampaknya tidak terlalu cerdas. Dia orang Saparua, anggota Gereja Reformasi,” catat Komodor Ver Huell, kapten kapal perang Belanda di Maluku, yang juga menggambar skesta Matulesia di kapalnya. (Noldus, 1984)

Matulesia lalu dilatih serdadu Inggris. Saat Pangeran Diponegoro dan pasukannya di Jawa belum memanggul tombak dan menggenggam keris, ia sudah mahir menggunakan senapan. Maklum, 6 tahun ia jadi tentara Inggris di Ambon, lalu memimpinnya. Pangkat terakhirnya sersan mayor.

Namun, itu tidak lama. Beberapa tahun berselang, di Eropa, Napoleon kalah perang. Belanda yang terbebas dari Prancis kemudian mengadakan perjanjian dengan Inggris. Mereka menyepakati Traktat London, yang mewajibkan Inggris mengembalikan semua koloni Belanda yang dikuasai.

Baca Juga: 'Saya Harus Memberi Contoh Demokrasi'

Setelah itu, Belanda datang lagi ke Ambon dan kembali menerapkan pola penjajahannya. Monopoli kembali diterapkan. Pajak tanah diperkenalkan, juga perbudakan dan pemindahan paksa penduduk. Traktat London yang membebaskan serdadu Inggris jadi serdadu Belanda atau keluar, diabaikan.

Di situlah ketidakpuasan Matulesia bermula. Ia melihat bagaimana Maluku kembali terperosok ke liang penderitaan. Tak tahan, ia mulai mengorganisir perlawanan. Pada 14 Mei 1817, ia merancang Proklamasi Haria bersama 21 raja, dan tetua adat. Mereka mengangkatnya sebagai panglima perang.

Keeseokan harinya, pemberontakan dimulai. Bermula dari Saparua, lalu ke Hanimoa, Haruku, Nusa Laut, Ambon, dan Seram. Empat hari kemudian, Matulesia juga menghabisi pasukan Belanda yang dikirim untuk merebut kembali Benteng Duurstede, di bibir pantai Pulau Saparua. (Nanulaita, 1985)

Baca Juga: 'Pajak dalam Bentuk Barang Hanyalah Transisi'

“Kami sudah sangat tertekan untuk merawat cengkeh dan kopi, tetapi kami juga diperintahkan menjaga perkebunan pala. Ini membuat kami, yang harus bekerja berat untuk Hindia Belanda, mengalami nasib yang semakin pahit,” katanya. (Noldus, 1984)

Namun, sejarah berkata lain. Kapitan Pattimura dikhianati. Dalam gelap malam 11 November 1817, ia ditangkap, lalu dihukum gantung di halaman Benteng Victoria. “Saya adalah beringin besar, dan setiap beringin besar akan tumbang. Tapi beringin lain akan menggantikan,” katanya. (Bsi)

Baca Juga: 'Pada Malam Hari Pemerintah Tidur'
Topik : kutipan pajak, pattimura
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

Cikal Restu Syiffawidiyana

Sabtu, 05 September 2020 | 20:19 WIB
Sejarah adalah bagian penting dari revolusi kehidupan. Dari setiap cerita mengenai penderitaan, selalu lahir manusia yang melegenda. Dari situ, keberanian akan hari esok muncul dan berakar. Satu tumbang, seribu berkembang. Satu tokoh di satu masa adalah sebuah bukti nyata bahwa setiap manusia bisa b ... Baca lebih lanjut
1
artikel terkait
Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:
Selasa, 26 Maret 2019 | 15:07 WIB
JEAN-BAPTISTE COLBERT:
Selasa, 12 Februari 2019 | 14:32 WIB
HAJI WASID:
Senin, 21 Januari 2019 | 18:34 WIB
ABU YUSUF:
berita pilihan
Jum'at, 18 Juni 2021 | 19:00 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 18 Juni 2021 | 18:30 WIB
PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Jum'at, 18 Juni 2021 | 18:18 WIB
DDTC NEWSLETTER
Jum'at, 18 Juni 2021 | 17:55 WIB
KEKAYAAN NEGARA
Jum'at, 18 Juni 2021 | 17:48 WIB
LAYANAN PAJAK
Jum'at, 18 Juni 2021 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 18 Juni 2021 | 17:07 WIB
PMK 56/2021
Jum'at, 18 Juni 2021 | 17:01 WIB
KAMUS PAJAK PENGHASILAN
Jum'at, 18 Juni 2021 | 16:05 WIB
EFEK VIRUS CORONA