Review
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:14 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 17:13 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 07 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & alat
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:02 WIB
STATISTIK SISTEM PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 09:24 WIB
KURS PAJAK 21 OKTOBER - 27 OKTOBER 2020
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 15:24 WIB
MATRIKS AREA KEBIJAKAN
Rabu, 14 Oktober 2020 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 14 OKTOBER - 20 OKTOBER 2020
Komunitas
Kamis, 22 Oktober 2020 | 14:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 | 09:54 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:39 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:35 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Kolaborasi
Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:10 WIB
KONSULTASI
Selasa, 20 Oktober 2020 | 09:45 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 14:13 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 11:54 WIB
KONSULTASI
Reportase

'Setiap Beringin Besar akan Tumbang'

A+
A-
1
A+
A-
1
'Setiap Beringin Besar akan Tumbang'

Patung Kapitan Pattimura di Taman Pattimura, Uritetu, Sirimau, Ambon, Maluku. (Foto: Pemprov Maluku)

AMBON, akhir abad ke-18. Beberapa kapal Inggris tiba-tiba merapat ke pelabuhan. Ratusan serdadu di dalamnya bergegas turun, masuk ke Benteng Victoria, yang hanya beberapa tindak dari bibir pantai. Penduduk Ambon hanya melihat, tak berani bertanya, apalagi mencegah.

Segera setelah itu, bendera Belanda yang terpasang di halaman depan benteng diturunkan. Sebagai gantinya, bendera Inggris Union Jack dinaikkan. Sebagian serdadu yang lain, dengan senjata lengkap, menyebar ke penjuru kota. Mereka bersiaga.

Tidak ada perlawanan. Beberapa hari sebelum Inggris tiba, serdadu Belanda sudah menyingkir, dan hanya menyisakan segelintir. Rupanya waktu itu terjadi pergantian kekuasaan yang damai antara Belanda dan Inggris di Ambon, Maluku.

Baca Juga: 'Tidak Ada Uang Negara, yang Ada Uang Pembayar Pajak'

Perang yang berkecamuk di Eropa telah memaksa Raja Belanda Willem V lari dan bersembunyi dari kejaran Prancis di Kew, Inggris. Raja Willem yang dilindungi Inggris lalu memerintahkan bawahannya menyerahkan koloninya di Afrika dan Asia ke tangan Inggris.

Inggris sendiri sudah lama memantau Ambon. Sejak abad ke 17, Inggris sudah masuk ke Pulau Banda untuk membeli cengkeh dan pala. Maklum, permintaan rempah-rempah di Eropa kelewat tinggi. Keduanya juga beberapa kali berperang, bahkan saling bertukar pulau untuk berdamai.

Seabad lebih Belanda dan Inggris berebut Ambon, menggantikan 2 negara Eropa sebelumnya, Kastilia Spanyol dan Portugis. Namun, Spanyol dan Portugis menyepakati Perjanjian Zaragosa, hingga Spanyol menyingkir ke Filipina, sebelum Belanda akhirnya mengusir Portugis di Ambon.

Baca Juga: 'Kalau Saya Nakal, Boleh Dihukum'

Pada mulanya, masyarakat Ambon menganggap kedatangan Inggris pada akhir abad ke 18 itu sama dengan Belanda. Mereka sama-sama kulit putih, penjajah, yang datang untuk menghisap bumi dan kekayaan alam Maluku. Namun kemudian, di bawah Inggris, perlahan keadaan menjadi lebih baik.

Tidak ada lagi Pelayaran Hongi yang membakar pohon pala dan cengkeh. Tidak ada lagi monopoli perdagangan rempah-rempah. Pemindahan paksa para pekerja ke Jawa, juga perbudakan, disudahi. Beberapa pajak seperti pajak pasar dihapuskan, dan orang bebas berdagang dengan siapa saja.

Saat situasi mulai membaik itulah, Pemerintah Inggris merekruit serdadu dari warga Ambon. Janjinya, para serdadu itu tidak dikirim ke Jawa, tetapi bertahan di Maluku untuk mengamankan Maluku dari serbuan warga asing. Karena itu, seorang pemuda Ambon pun tertarik mendaftar.

Baca Juga: 'Saya Minta Maaf atas Ketidakadilan Pajak'

Namanya Thomas Matulesia (1783-1817). “Ia tinggi, kurus dan sangat gelap. Tampaknya tidak terlalu cerdas. Dia orang Saparua, anggota Gereja Reformasi,” catat Komodor Ver Huell, kapten kapal perang Belanda di Maluku, yang juga menggambar skesta Matulesia di kapalnya. (Noldus, 1984)

Matulesia lalu dilatih serdadu Inggris. Saat Pangeran Diponegoro dan pasukannya di Jawa belum memanggul tombak dan menggenggam keris, ia sudah mahir menggunakan senapan. Maklum, 6 tahun ia jadi tentara Inggris di Ambon, lalu memimpinnya. Pangkat terakhirnya sersan mayor.

Namun, itu tidak lama. Beberapa tahun berselang, di Eropa, Napoleon kalah perang. Belanda yang terbebas dari Prancis kemudian mengadakan perjanjian dengan Inggris. Mereka menyepakati Traktat London, yang mewajibkan Inggris mengembalikan semua koloni Belanda yang dikuasai.

Baca Juga: 'Pajak Membantu Membentuk Negara'

Setelah itu, Belanda datang lagi ke Ambon dan kembali menerapkan pola penjajahannya. Monopoli kembali diterapkan. Pajak tanah diperkenalkan, juga perbudakan dan pemindahan paksa penduduk. Traktat London yang membebaskan serdadu Inggris jadi serdadu Belanda atau keluar, diabaikan.

Di situlah ketidakpuasan Matulesia bermula. Ia melihat bagaimana Maluku kembali terperosok ke liang penderitaan. Tak tahan, ia mulai mengorganisir perlawanan. Pada 14 Mei 1817, ia merancang Proklamasi Haria bersama 21 raja, dan tetua adat. Mereka mengangkatnya sebagai panglima perang.

Keeseokan harinya, pemberontakan dimulai. Bermula dari Saparua, lalu ke Hanimoa, Haruku, Nusa Laut, Ambon, dan Seram. Empat hari kemudian, Matulesia juga menghabisi pasukan Belanda yang dikirim untuk merebut kembali Benteng Duurstede, di bibir pantai Pulau Saparua. (Nanulaita, 1985)

Baca Juga: 'Uang Pajak Judi Ini untuk Pendidikan'

“Kami sudah sangat tertekan untuk merawat cengkeh dan kopi, tetapi kami juga diperintahkan menjaga perkebunan pala. Ini membuat kami, yang harus bekerja berat untuk Hindia Belanda, mengalami nasib yang semakin pahit,” katanya. (Noldus, 1984)

Namun, sejarah berkata lain. Kapitan Pattimura dikhianati. Dalam gelap malam 11 November 1817, ia ditangkap, lalu dihukum gantung di halaman Benteng Victoria. “Saya adalah beringin besar, dan setiap beringin besar akan tumbang. Tapi beringin lain akan menggantikan,” katanya. (Bsi)

Baca Juga: 'Menerima Pemberian Pertama Itu Seperti Menaruh Kuman di Lengan'
Topik : kutipan pajak, pattimura
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

Cikal Restu Syiffawidiyana

Sabtu, 05 September 2020 | 20:19 WIB
Sejarah adalah bagian penting dari revolusi kehidupan. Dari setiap cerita mengenai penderitaan, selalu lahir manusia yang melegenda. Dari situ, keberanian akan hari esok muncul dan berakar. Satu tumbang, seribu berkembang. Satu tokoh di satu masa adalah sebuah bukti nyata bahwa setiap manusia bisa b ... Baca lebih lanjut
1
artikel terkait
Selasa, 16 Oktober 2018 | 11:46 WIB
PANGERAN DIPONEGORO:
Jum'at, 28 September 2018 | 20:15 WIB
EDUARD DOUWES DEKKER:
Senin, 03 September 2018 | 15:16 WIB
IBNU KHALDUN:
Rabu, 01 Agustus 2018 | 19:37 WIB
ALI WARDHANA:
berita pilihan
Kamis, 22 Oktober 2020 | 17:34 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Kamis, 22 Oktober 2020 | 17:18 WIB
PENGADAAN BARANG DAN JASA
Kamis, 22 Oktober 2020 | 17:05 WIB
PMK 156/2020
Kamis, 22 Oktober 2020 | 17:00 WIB
KINERJA PENERIMAAN BEA DAN CUKAI
Kamis, 22 Oktober 2020 | 16:35 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Kamis, 22 Oktober 2020 | 16:30 WIB
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Kamis, 22 Oktober 2020 | 16:15 WIB
PAJAK DAERAH (21)
Kamis, 22 Oktober 2020 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Kamis, 22 Oktober 2020 | 15:28 WIB
PROVINSI LAMPUNG