Review
Kamis, 02 Februari 2023 | 17:05 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 Februari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (4)
Selasa, 31 Januari 2023 | 11:45 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 31 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (3)
Fokus
Data & Alat
Rabu, 01 Februari 2023 | 10:00 WIB
KMK 6/2023
Rabu, 01 Februari 2023 | 09:31 WIB
KURS PAJAK 1 FEBRUARI - 7 FEBRUARI 2023
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Reportase

Pemda Wajib Anggarkan Belanja Sosial, Kemenkeu: Datanya Harus Valid

A+
A-
1
A+
A-
1
Pemda Wajib Anggarkan Belanja Sosial, Kemenkeu: Datanya Harus Valid

Warga antre untuk mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) pengalihan subsidi BBM tahap pertama di Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (2/9/2022). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Keuangan menerbitkan PMK 134/2022 yang mewajibkan pemda menganggarkan belanja wajib perlindungan sosial berupa bantuan sosial (bansos) untuk pengemudi ojek, pelaku UMKM, dan nelayan; belanja penciptaan lapangan kerja; dan subsidi angkutan umum di daerah.

Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu Astera Primanto Bhakti mengatakan belanja wajib tersebut harus dianggarkan sebesar 2% dari Dana Transfer Umum (DTU) selain Dana Bagi Hasil (DBH) yang sudah ditentukan penggunaannya.

"Melalui earmarking DTU, pemda diberikan kewenangan untuk membuat program, sehingga dampak dari inflasi tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan tentunya ini juga menggunakan data-data yang telah teruji sebelumnya," ujar Prima, Kamis (8/9/2022).

Baca Juga: Petinju Daud 'Cino' Yordan Titip Pesan ke Wajib Pajak, Apa Isinya?

PMK 134/2022 juga mengatur besaran DTU yang di-earmarking sebagai belanja wajib perlindungan sosial adalah sebesar penyaluran dana alokasi umum (DAU) Oktober hingga Desember 2022 dan penyaluran DBH kuartal IV/2022. Belanja wajib perlindungan sosial tidak termasuk belanja wajib 25% dari DTU yang telah dianggarkan pada APBD 2022.

Belanja wajib perlindungan sosial wajib dianggarkan melalui perubahan peraturan kepala daerah tentang APBD 2022 dan selanjutnya harus dicantumkan dalam perda perubahan APBD 2022.

Bila pemda tidak melakukan perubahan APBD 2022 atau telah melakukan perubahan APBD 2022 sebelum PMK 134/2022 terbit, belanja wajib perlindungan sosial harus dilaporkan dalam laporan realisasi APBD.

Baca Juga: Jokowi Minta Pemda Turun Tangan Kendalikan Inflasi

Kemudian, beleid ini mengatur bahwa laporan mengenai penganggaran belanja wajib harus disampaikan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan dan juga Dirjen Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri paling lambat pada 15 September 2022.

Laporan penganggaran akan menjadi dokumen persyaratan pencairan DAU Oktober 2022 dan DBH PPh Pasal 25/29 kuartal III/2022 bagi daerah yang tidak mendapatkan DAU.

Laporan realisasi belanja wajib juga harus disampaikan kepada pemerintah pusat pada bulan-bulan selanjutnya paling lambat tanggal 15. Laporan realisasi belanja wajib menjadi syarat pencairan DAU bulan berikutnya dan DBH PPh Pasal 25/29 kuartal IV/2022 bagi daerah yang tidak memiliki alokasi DAU.

Baca Juga: BI Prediksi Inflasi akan Kembali Normal pada Semester II/2023

Belanja perlindungan sosial oleh pusat dan daerah diharapkan dapat meringankan dampak inflasi yang dirasakan oleh masyarakat.

"Efektivitas atas pelaksanaan bansos juga sangat diperlukan. Untuk itu, pengelolaan dan pemantauan atas pelaksanaan belanja wajib dilaksanakan oleh kepala daerah dan juga diawasi pelaporannya oleh aparat pengawas internal pemda," tulis Kementerian Keuangan dalam keterangan resminya. (sap)

Baca Juga: Sri Mulyani Beri Pesan Ini ke Bupati Soal Pengelolaan DBH CHT

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : bantuan sosial, subsidi gaji, subsidi upah, bansos, BSU, BBM, DAU, DBH, Kemenkeu, PMK 134/2022

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 09 Januari 2023 | 16:51 WIB
RPP KUPDRD

Bagaimana Progres Harmonisasi RPP KUPDRD? Kemenkumham Buka Suara

Senin, 09 Januari 2023 | 12:15 WIB
KINERJA FISKAL

Defisit APBN 2022 Cuma 2,38% PDB, Sri Mulyani Jelaskan Disiplin Fiskal

Senin, 09 Januari 2023 | 10:15 WIB
PMK 205/2022

Sri Mulyani Perbaiki Aturan Whistleblowing, Pelapor Lebih Dilindungi

Minggu, 08 Januari 2023 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Belanja Tax Holiday di KEK Masih Nol Rupiah, Ini Kata BKF

berita pilihan

Sabtu, 04 Februari 2023 | 15:00 WIB
KOTA BANDUNG

Inflasi Masih Tinggi, Bandung Pertimbangkan Relaksasi PBB

Sabtu, 04 Februari 2023 | 14:45 WIB
PP 4/2023

Simak Penjelasan Aturan Pengenaan Pajak atas Konsumsi Tenaga Listrik

Sabtu, 04 Februari 2023 | 14:00 WIB
KOTA MEDAN

Wah! Bos CV Ini Ditangkap karena Nekat Jualan Faktur Pajak Fiktif

Sabtu, 04 Februari 2023 | 13:30 WIB
PP 4/2023

Wah! Khusus Wajib Pajak Ini, Kewajiban Pajaknya Dibayar Pemerintah

Sabtu, 04 Februari 2023 | 13:00 WIB
PER-30/PJ/2009

Musim SPT Tahunan, Jangan Lupa Laporkan Harta Warisan Meski Bebas PPh

Sabtu, 04 Februari 2023 | 12:00 WIB
PP 55/2022

Begini Kriteria WP UMKM Bebas PPh Saat Terima Hibah atau Sumbangan

Sabtu, 04 Februari 2023 | 11:30 WIB
PER-02/PJ/2019

Pakai Jasa Konsultan Pajak, Lapor SPT Tahunan Hanya Bisa Elektronik

Sabtu, 04 Februari 2023 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Kriteria Jasa Angkutan Udara Dalam Negeri yang Dibebaskan dari PPN

Sabtu, 04 Februari 2023 | 10:30 WIB
SELEBRITAS

Petinju Daud 'Cino' Yordan Titip Pesan ke Wajib Pajak, Apa Isinya?

Sabtu, 04 Februari 2023 | 10:00 WIB
KP2KP KASONGAN

Giliran Kepala Sekolah Jadi Sasaran Sosialisasi Validasi NIK-NPWP