Berita
Minggu, 12 Juli 2020 | 15:01 WIB
PROVINSI SULAWESI UTARA
Minggu, 12 Juli 2020 | 14:01 WIB
PERJANJIAN DAGANG
Minggu, 12 Juli 2020 | 10:01 WIB
PERIZINAN
Minggu, 12 Juli 2020 | 09:01 WIB
DAMPAK KENAIKAN PPN
Review
Sabtu, 11 Juli 2020 | 10:32 WIB
PERSPEKTIF
Rabu, 08 Juli 2020 | 06:06 WIB
PERSPEKTIF
Selasa, 07 Juli 2020 | 10:28 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 07 Juli 2020 | 09:06 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Data & alat
Minggu, 12 Juli 2020 | 14:15 WIB
STATISTIK PERTUKARAN INFORMASI
Rabu, 08 Juli 2020 | 15:37 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 08 Juli 2020 | 08:29 WIB
KURS PAJAK 8 JULI - 14 JULI 2020
Minggu, 05 Juli 2020 | 14:31 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Reportase

Kasus Penipuan Atas Nama DJBC Makin Marak, Begini Modus dan Solusinya

A+
A-
1
A+
A-
1
Kasus Penipuan Atas Nama DJBC Makin Marak, Begini Modus dan Solusinya

Ilustrasi.

JAKARTA, DDTCNews—Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) meminta masyarakat mewaspadai praktik-praktik penipuan yang mengatasnamakan institusi tersebut. Pasalnya, jumlah kasus penipuan yang mengatasnamakan DJBC mengalami tren peningkatan.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga DJBC Syarif Hidayat mengatakan laporan kasus penipuan sudah mencapai 283 kasus sepanjang Januari 2020. Jumlah itu sekitar 19% dari total kasus penipuan sepanjang 2019 sebanyak 1.501 kasus.

“Mereka relatif profesional. Ini sindikat, karena datangnya dari berbagai daerah. Mereka bisa di-track tapi sulit untuk dihilangkan. Saya khawatir jumlah kasus tahun ini bakal dobel dari tahun lalu,” katanya di Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Baca Juga: Operasi Laut, DJBC Sita Ratusan Kilogram Sabu-Sabu Hingga Rokok Ilegal

Syarif mengatakan DJBC selama ini kesulitan memblokir nomor telepon maupun nomor rekening pelaku penipuan tersebut. Jika pemblokiran dilakukan pun, nantinya akan segera bermunculan nomor yang baru.

Menurutnya, jenis penipuan yang mengatasnamakan DJBC via nomor telepon itu juga bermacam-macam, mulai dari lelang barang dengan harga murah, penjualan online, meminta pembayaran pajak via chat pribadi.

Tak hanya itu, modus penipuan berkedok barang kiriman dari luar negeri juga sempat terjadi. Korbannya pun berasal dari berbagai kalangan. Namun demikian, lanjut Syarif, mayoritas korban merupakan perempuan.

Baca Juga: Pegawai WFH Perlu Dapat Insentif Pajak, Ini Usulan Senat

Kebanyakan kasus penipuan itu juga bermula dari media sosial. Misal, muncul penawaran barang berharga murah. Penipu biasanya menggunakan foto pejabat DJBC untuk meyakinkan korban.

Untuk lebih meyakinkan lagi para korban, barang yang ditawarkan penipu umumnya disertai embel-embel ‘sitaan Bea Cukai’, ‘barang black market’, atau ‘diskon cuci gudang’ sehingga dijual dengan harga murah.

“Jika melihat ada yang menjual barang seperti itu, sudah dapat dipastikan penipuan. Karena lelang yang dilakukan oleh Bea Cukai, prosesnya akan diumumkan melalui situs resmi,” tutur Syarif.

Baca Juga: Bank Sentral Minta Pemerintah Setop Buat Insentif Pajak Baru

Pada barang kiriman dari luar negeri, pelaku umumnya menjual dengan harga murah yang tidak wajar dengan alasan bahwa barang itu tertahan di pelabuhan atau bandara saat melewati pemeriksaan Bea Cukai.

Setelah itu, akan ada pelaku lainnya yang mengaku sebagai petugas Bea Cukai dan meminta korban mentransfer uang untuk menebus barang tersebut.

Pelaku tersebut juga kerap mengancam korban dengan menyatakan korban terlibat dalam perdagangan ilegal dan akan dilaporkan kepada polisi.

Baca Juga: Kembangkan Judi Online, Rezim Perpajakan Direformasi

Syarif pun mengimbau masyarakat lebih mewaspadai kasus penipuan itu karena modusnya selalu berulang. Menurutnya, ada tiga cara yang bisa dipakai untuk menghindari penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai.

Pertama, mewaspadai nomor rekening pribadi karena pembayaran bea masuk dan pajak impor harus melalui rekening penerimaan negara menggunakan dokumen Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP).

Kedua, warga bisa memanfaatkan laman pengecekan di www.beacukai.go.id/barangkiriman untuk mengetahui keberadaan kiriman dari luar negeri. Ketiga, menanyakan keaslian informasi dari penipu melalui contact center DJBC atau media sosial.

Baca Juga: Kinerja Ekspor Impor Melempem, Realisasi Penerimaan Bea Turun 6%

"Yang penting pastikan jangan sampai tertipu, karena meminta bank untuk mengeblok rekening setelah mentransfer uang juga sudah tidak bisa. Pasti nanti dimintai surat polisi, dan sebagainya," tutur Syarif. (rig)

Topik : pelanggaran hukum, penipuan, bea cukai, barang kiriman, luar negeri, nasional
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

mona

Selasa, 03 Maret 2020 | 18:07 WIB
Informasi yang sangat bermanfaat. Saya pernah beberapa kali ditawarkan barang elektronik dengan harga murah, katanya barang tersebut bekas sitaan bea cukai. Untungnya saya gampang curiga kalau ada embel2 barang murah. Baru tahu juga ternyata ada situs untuk melakukan pengecekan.
1
artikel terkait
berita pilihan
Minggu, 12 Juli 2020 | 15:01 WIB
PROVINSI SULAWESI UTARA
Minggu, 12 Juli 2020 | 14:15 WIB
STATISTIK PERTUKARAN INFORMASI
Minggu, 12 Juli 2020 | 14:01 WIB
PERJANJIAN DAGANG
Minggu, 12 Juli 2020 | 13:01 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Minggu, 12 Juli 2020 | 12:01 WIB
CHINA
Minggu, 12 Juli 2020 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 12 Juli 2020 | 10:01 WIB
PERIZINAN
Minggu, 12 Juli 2020 | 09:01 WIB
DAMPAK KENAIKAN PPN
Minggu, 12 Juli 2020 | 08:01 WIB
KEBIJAKAN CUKAI
Minggu, 12 Juli 2020 | 07:01 WIB
MALAYSIA