JAKARTA, DDTCNews – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim APBN masih mampu menutup dampak lonjakan harga minyak dunia. Tak hanya itu, defisit anggaran negara pun tetap dipertahankan di bawah 3% dari PDB.
Purbaya juga memastikan pemerintah tak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Alokasi anggaran untuk subsidi juga tetap alias tidak ada penyesuaian. Terlebih, pemerintah juga masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun.
"Jadi, subsidi terhadap BBM tidak akan dihilangkan dan akan terus diadakan sampai akhir tahun," katanya, dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Purbaya menjelaskan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun tersebut bisa dipakai dalam rangka stabilisasi ekonomi di tengah gejolak geopolitik. Meski begitu, dia optimistis APBN masih resilien sehingga tidak perlu merogoh SAL.
"Kita masih punya bantalan uang Rp420 triliun dalam bentuk SAL. Kalau kepepet, SAL itu masih bisa dipakai, tapi rasanya ke arah sana masih jauh karena peluang harga minyak bertahan di atas US$100 untuk waktu yang panjang cukup kecil," tuturnya.
Lebih lanjut, Purbaya menyebut Kementerian Keuangan telah melakukan kalkulasi dengan proyeksi harga minyak dunia rata-rata mencapai US$100 per barel dalam setahun. Angka itu jauh di atas asumsi ekonomi makro APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Ketika harga minyak dunia mencapai angka tersebut, dia memprediksi defisit anggaran bisa naik. Sebagai upaya untuk menjaga APBN tetap stabil dengan defisit di bawah 3%, dia menerangkan pemerintah perlu melaksanakan kebijakan efisiensi anggaran.
"Ditambah dengan efisiensi, pemotongan dan penghematan di sana-sini, kita bisa pastikan defisitnya masih di sekitar 2,9%. Jadi, harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir tahun dan anggaran kita cukup," tutur Purbaya.
Sebagai informasi, harga minyak mentah di pasar global hari ini tercatat senilai US$114 per barel, sedangkan minyak jenis brent senilai US$111 per barel. (rig)
