MATARAM, DDTCNews -- Tradisi buka puasa bersama (bukber) selama Ramadan mendongkrak penerimaan pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) atas makanan dan/atau minuman (dulu disebut pajak restoran) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram memproyeksi penerimaan PBJT makanan dan/atau minuman bisa meningkat hingga 20% selama Ramadan. Lonjakan penerimaan tersebut terjadi seiring dengan membeludaknya pengunjung di berbagai titik pusat kuliner.
“Kalau melihat ramainya pengunjung saat ini, tentu ada peluang penerimaan pajak restoran yang ikut terdongkrak. Kami memperkirakan kenaikan bisa mencapai 20% selama Ramadan ini," kata Kepala Bidang Pelayanan Penagihan dan Penyuluhan BKD Kota Mataram Achmad Amrin, dikutip pada Kamis (19/3/2026).
Berdasarkan data BKD, rata-rata realisasi PBJT makanan dan/atau minuman pada bulan-bulan reguler berada di angka Rp2,8 miliar per bulan. Dengan estimasi kenaikan 20% akibat tingginya intensitas bukber, perolehan pajak sektor ini diprediksi mampu menembus angka Rp3,2 miliar selama Ramadan.
Meski optimistis, Amrin menekankan BKD Kota Mataram masih memetakan sumber utama lonjakan penerimaan tersebut. Menurutnya, BKD tengah menelusuri apakah kenaikan didominasi oleh transaksi malam hari saat bukber atau ada kontribusi signifikan dari transaksi siang hari.
“Pasti ada kenaikan, tinggal kita pastikan angkanya nanti. Kepastian angka resminya baru akan diketahui pada bulan April setelah rekapitulasi laporan masuk semua,” jelasnya.
Guna menjamin akurasi laporan omzet dari para pengusaha kuliner, BKD Kota Mataram tetap menyiagakan Satgas Pajak. Amrin menyebut Satgas Pajak diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengawasi sejumlah restoran yang dinilai memiliki tingkat kunjungan tinggi.
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap transaksi yang terjadi selama Ramadan dilaporkan secara transparan oleh wajib pajak. “Pengawasan tetap berjalan ketat. Petugas kami turun langsung untuk memastikan pelaporan sesuai dengan transaksi riil yang ada di lapangan,” tegasnya.
Amrin menambahkan realisasi PBJT makanan dan/atau minuman di Kota Mataram hingga akhir Februari 2026 menunjukkan performa yang baik. Ia memerinci realisasi sementara telah menyentuh angka Rp4,7 miliar atau sekitar 11% dari target senilai Rp40 miliar yang dipatok pada tahun ini,
“Capaian ini cukup bagus untuk periode awal tahun, apalagi kita masih berada di triwulan pertama,” imbuhnya, dilansir lombokpost.jawapos.com. (dik)
