Review
Rabu, 08 Desember 2021 | 11:15 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 08 Desember 2021 | 10:15 WIB
WAKIL MENTERI KEUANGAN SUAHASIL NAZARA:
Senin, 06 Desember 2021 | 15:43 WIB
OPINI PAJAK
Kamis, 02 Desember 2021 | 14:57 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Rabu, 08 Desember 2021 | 15:00 WIB
TIPS PERPAJAKAN
Rabu, 08 Desember 2021 | 10:45 WIB
KAMUS KEBIJAKAN FISKAL
Senin, 06 Desember 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 06 Desember 2021 | 17:00 WIB
TIPS CUKAI
Data & Alat
Rabu, 08 Desember 2021 | 08:31 WIB
KURS PAJAK 8 DESEMBER - 14 DESEMBER 2021
Rabu, 01 Desember 2021 | 08:17 WIB
KURS PAJAK 1 DESEMBER - 7 DESEMBER 2021
Rabu, 24 November 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 24 NOVEMBER - 30 NOVEMBER 2021
Rabu, 17 November 2021 | 08:51 WIB
KURS PAJAK 17 NOVEMBER - 23 NOVEMBER 2021
Reportase
Perpajakan.id

Soal Sektor Perdagangan dan Keuangan 2019, Ini Kata BI

A+
A-
1
A+
A-
1
Soal Sektor Perdagangan dan Keuangan 2019, Ini Kata BI

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. 

JAKARTA, DDTCNews – Bank Indonesia (BI) memproyeksi kinerja perdagangan akan tertekan pada tahun ini. Perlambatan ekonomi global menjadi faktor utama yang menghambat kinerja ekspor nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan untuk menangani neraca perdagangan yang cenderung defisit membutuhkan usaha ekstra. Faktor eksternal, disebutnya, tidak bersahabat untuk ekspansi ekspor Indonesia.

“Masalah global lebih terasa di jalur perdagangan. Itu membuat kita harus extra effort,” katanya di Kantor BI, Kamis (21/2/2019).

Baca Juga: Belanja Online Barang Impor Melonjak, Aturan Kepabeanan Bakal Direvisi

Perlambatan ekonomi di pasar ekspor utama Indonesia berdampak pada kinerja pengapalan ke luar negeri. Ekonomi Amerika Serikat (AS), China, dan Eropa yang cenderung melandai menjadi tantangan tersendiri karena secara tradisional merupakan basis pasar produk-produk Indonesia. Selain itu, ada penurunan harga komoditas.

Di sisi lain, lain ceritanya dengan sektor keuangan. Gejolak pada tahun lalu karena efek normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) akan cenderung mereda pada 2019. Dengan demikian, ruang penguatan nilai tukar rupiah terbuka cukup lebar. Hal ini sudah terasa sejal akhir 2018 dan awal 2019.

“Pergerakan nilai tukar akan stabil, meski sekarang masih undervalued. Faktor aliran modal asing yang meningkat, tingkat bunga The Fed yang lebih rendah, defisit transaksi berjalan yang lebih rendah, dan fundamental ekonomi yang mendukung ke arah sana [penguatan rupiah],” jelas Perry.

Baca Juga: Eks Menkeu Nasihati Otoritas: Tak Perlu Tambah Pajak Berbasis Konsumsi

Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 akan bergerak moderat dalam rentang 5%-5,4%. Proyeksi ini, dalam penilaian otoritas moneter, menunjukkan adanya kelanjutan tren positif yang terjadi di kuartal IV/2018. (kaw)

Topik : neraca perdagangan, defisit, BI, the Fed, AS, China

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 08 Desember 2021 | 09:00 WIB
KABUPATEN SIDOARJO

Kejar Setoran PBB Akhir Tahun, Camat Dikerahkan ke Lapangan

Rabu, 08 Desember 2021 | 08:31 WIB
KURS PAJAK 8 DESEMBER - 14 DESEMBER 2021

Rupiah Lanjutkan Tren Pelemahan Terhadap Dolar AS

Selasa, 07 Desember 2021 | 18:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Debitur KUR Terdampak Erupsi Semeru Dapat Keringanan

berita pilihan

Rabu, 08 Desember 2021 | 16:39 WIB
RUU HKPD

RUU HKPD Turunkan Tarif Maksimal Pajak Hiburan, Begini Detailnya

Rabu, 08 Desember 2021 | 16:30 WIB
APARATUR SIPIL NEGARA

Tjahjo Kumolo Ingatkan ASN Soal 8 Area Rawan Korupsi

Rabu, 08 Desember 2021 | 16:00 WIB
KEPATUHAN PAJAK

Begini Tren Rasio Kepatuhan Laporan SPT Tahunan 2016-2021

Rabu, 08 Desember 2021 | 15:43 WIB
KPP PRATAMA MEDAN POLONIA

Sosialisasi UU HPP, Wajib Pajak Dapat Penjelasan Soal PPS dari DJP

Rabu, 08 Desember 2021 | 15:30 WIB
PENEGAKAN HUKUM

Perusahaan Bisa Dijatuhi Hukuman Pidana Perpajakan, Simak Ketentuannya