Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Setelah 26 Tahun, Konglomerat Keluhkan Lagi Tingginya Pajak Warisan

A+
A-
3
A+
A-
3

Senior Manager of International Tax / Transfer Pricing Services DDTC Yusuf Wangko Ngantung (kiri) dan Specialist of Transfer Pricing Services DDTC David Steven Macquairie saat menjadi delegasi DDTC di Seoul, Korea Selatan.

SEOUL, DDTCNews – Meninggalnya pengusaha sukses Korea Selatan, Cho Yang Ho, pada 7 April 2019 menguatkan kembali polemik pengenaan pajak warisan di Negeri Ginseng.

Polemik kembali menguat setelah putra Ketua dan Pejabat Eksekutif tertinggi Korean Air dan Hanjin Group tersebut, Cho Won Tae, harus membayar pajak warisan 65%. Cho Won Tae dipaksa untuk membayar pajak sekitar 160 miliar won (sekitar Rp1,8 triliun). Akhirnya, sang ahli waris menjual harta warisannya kepada pihak lain.

Kejadian tersebut menjadi salah satu dari beberapa kasus yang mengharuskan ahli waris untuk kehilangan pengendalian manajerialnya karena beban pajak warisan di Korea Selatan. Sesuai ketentuan, harta warisan senilai lebih dari 3 miliar won (sekitar Rp35,2 miliar) dikenai tarif pajak 50%.

Baca Juga: Profit dari Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak 20%

Selain itu, tarif pajak sebesar 65% akan dibebankan apabila harta tersebut merupakan saham mayoritas dalam suatu perusahaan. Sejauh ini, tarif pajak atas harta warisan di Korea Selatan menempati posisi pertama tertinggi di antara negara-negara OECD dengan rata-rata tarif 25%.

Selama 26 tahun berjalan, tarif pajak tersebut kembali dipersoalkan. Pengenaan tarif pajak warisan diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, kebijakan itu sukses memperkecil kesenjangan ekonomi di Korea Selatan. Namun, di sisi lain, tarif pajak warisan yang tinggi justru memperbesar peluang bagi pihak lain untuk mengambil alih pengendalian atas suatu perusahaan.

Pengenaan pajak warisan dan hibah di Korea Selatan tercatat mencapai 1,5% dari total penerimaan pajak. Hal tersebut merupakan angka tertinggi kedua di dunia. Tidak mengherankan jika kebijakan pengenaan pajak warisan dengan tarif tinggi ini dirasa diskriminatif dan tidak adil bagi para keluarga Chaebol (konglomerat Korea Selatan).

Baca Juga: Pajak Warisan Ancam Keberlangsungan Bisnis Konglomerat

Keluarga Chaebol seakan dihantui dengan pajak tersebut karena adanya risiko kehilangan pengendalian manajerial perusahaan. Banyak ahli waris suatu perusahaan besar memilih untuk menjual aset harta warisan tersebut dan merelakan bisnis keluarga tersebut ke tangan orang lain.

Kasus yang terjadi setelah meninggalnya Cho Yang Ho semakin memberikan perlawanan bagi perekonomian di Korea Selatan. Keberlangsungan usaha yang dilakukan secara turun temurun mulai semakin punah dan semakin mustahil untuk dilakukan.

Apabila terus berlanjut, risiko bisa menjadi lebih besar bagi bisnis perekonomian di Korea Selatan. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pewaris yang merasa sangat terbebani dan lebih memilih untuk mengalihkan usahanya ke negara yang tidak memberlakukan pajak warisan tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Sodorkan Tagihan Pajak untuk Bursa Cryptocurrency Terbesar

Secara tidak langsung, kebijakan ini menutup semangat suatu perusahaan untuk dapat berkembang menjadi perusahaan yang besar di negaranya. Pengalihan pengendalian atas perusahaan secara tidak langsung dimungkinkan juga memberikan dampak bagi perusahaan untuk kehilangan aset. khususnya intangible asset yang melekat pada diri ahli waris/ penerusnya

Melihat faktor dan keadaan tersebut serta adanya dorongan dari kalangan komunitas bisnis grup di Korea Selatan, pemerintah sudah mulai pembahasan untuk mempertimbangkan penurunan tarif pajak yang dianggap berlebihan tersebut. Diharapkan, kebijakan tersebut tidak berdampak negatif, terutama bagi kelangsungan perekonomian di Korea Selatan. *

Baca Juga: Indonesia & Korsel Teken 3 Perjanjian Kerja Sama

Kejadian tersebut menjadi salah satu dari beberapa kasus yang mengharuskan ahli waris untuk kehilangan pengendalian manajerialnya karena beban pajak warisan di Korea Selatan. Sesuai ketentuan, harta warisan senilai lebih dari 3 miliar won (sekitar Rp35,2 miliar) dikenai tarif pajak 50%.

Baca Juga: Profit dari Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak 20%

Selain itu, tarif pajak sebesar 65% akan dibebankan apabila harta tersebut merupakan saham mayoritas dalam suatu perusahaan. Sejauh ini, tarif pajak atas harta warisan di Korea Selatan menempati posisi pertama tertinggi di antara negara-negara OECD dengan rata-rata tarif 25%.

Selama 26 tahun berjalan, tarif pajak tersebut kembali dipersoalkan. Pengenaan tarif pajak warisan diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, kebijakan itu sukses memperkecil kesenjangan ekonomi di Korea Selatan. Namun, di sisi lain, tarif pajak warisan yang tinggi justru memperbesar peluang bagi pihak lain untuk mengambil alih pengendalian atas suatu perusahaan.

Pengenaan pajak warisan dan hibah di Korea Selatan tercatat mencapai 1,5% dari total penerimaan pajak. Hal tersebut merupakan angka tertinggi kedua di dunia. Tidak mengherankan jika kebijakan pengenaan pajak warisan dengan tarif tinggi ini dirasa diskriminatif dan tidak adil bagi para keluarga Chaebol (konglomerat Korea Selatan).

Baca Juga: Pajak Warisan Ancam Keberlangsungan Bisnis Konglomerat

Keluarga Chaebol seakan dihantui dengan pajak tersebut karena adanya risiko kehilangan pengendalian manajerial perusahaan. Banyak ahli waris suatu perusahaan besar memilih untuk menjual aset harta warisan tersebut dan merelakan bisnis keluarga tersebut ke tangan orang lain.

Kasus yang terjadi setelah meninggalnya Cho Yang Ho semakin memberikan perlawanan bagi perekonomian di Korea Selatan. Keberlangsungan usaha yang dilakukan secara turun temurun mulai semakin punah dan semakin mustahil untuk dilakukan.

Apabila terus berlanjut, risiko bisa menjadi lebih besar bagi bisnis perekonomian di Korea Selatan. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pewaris yang merasa sangat terbebani dan lebih memilih untuk mengalihkan usahanya ke negara yang tidak memberlakukan pajak warisan tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Sodorkan Tagihan Pajak untuk Bursa Cryptocurrency Terbesar

Secara tidak langsung, kebijakan ini menutup semangat suatu perusahaan untuk dapat berkembang menjadi perusahaan yang besar di negaranya. Pengalihan pengendalian atas perusahaan secara tidak langsung dimungkinkan juga memberikan dampak bagi perusahaan untuk kehilangan aset. khususnya intangible asset yang melekat pada diri ahli waris/ penerusnya

Melihat faktor dan keadaan tersebut serta adanya dorongan dari kalangan komunitas bisnis grup di Korea Selatan, pemerintah sudah mulai pembahasan untuk mempertimbangkan penurunan tarif pajak yang dianggap berlebihan tersebut. Diharapkan, kebijakan tersebut tidak berdampak negatif, terutama bagi kelangsungan perekonomian di Korea Selatan. *

Baca Juga: Indonesia & Korsel Teken 3 Perjanjian Kerja Sama
Topik : reportase, pajak warisan, Korea Selatan
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Minggu, 08 Juli 2018 | 08:22 WIB
LAPORAN DDTC DARI RUST CONFERENCE (1)
Selasa, 10 Juli 2018 | 07:24 WIB
LAPORAN DDTC DARI RUST CONFERENCE (2)
Kamis, 26 April 2018 | 11:35 WIB
LAPORAN DARI NEGARA TETANGGA
Jum'at, 30 Agustus 2019 | 13:39 WIB
INDONESIA TAXATION QUARTERLY REPORT Q2-2019
berita pilihan
Minggu, 26 Januari 2020 | 12:49 WIB
PAJAK SARANG BURUNG WALET
Minggu, 26 Januari 2020 | 10:43 WIB
LAPORAN DARI TASMANIA
Sabtu, 25 Januari 2020 | 19:06 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Sabtu, 25 Januari 2020 | 18:34 WIB
KOTA TANGERANG
Sabtu, 25 Januari 2020 | 16:20 WIB
PELAYANAN PAJAK
Sabtu, 25 Januari 2020 | 13:36 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Sabtu, 25 Januari 2020 | 12:00 WIB
FILIPINA
Jum'at, 24 Januari 2020 | 19:30 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2019
Jum'at, 24 Januari 2020 | 18:13 WIB
DATA PENDUDUK
Jum'at, 24 Januari 2020 | 18:05 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2019