Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Rokok Elektronik Siap Kena Pajak

0
0

SAN DIEGO, DDTCNews – November mendatang Negara Bagian California, Amerika Serikat (AS) akan melakukan voting terkait kenaikan pajak rokok. Kenaikan ini dilatarbelakangi setelah lebih dari 10 tahun upaya komunitas anti-rokok memperjuangkan hal tersebut selalu gagal.

Pemerintah California mengatakan draf aturan kenaikan pajak rokok juga akan menambahkan rokok elektronik ke dalam objek pajak baru dan proposalnya telah diajukan ke dewan legislatif.

“Di California, saat ini pajak senilai US$0,87 dikenakan untuk setiap bungkus rokok, nilai tersebut lebih rendah jika dibandingkan rata-rata pajak rokok di negara bagian AS senilai US$1,65 per bungkusnya,” ungkapnya Sabtu (8/10).

Baca Juga: Bongkar Kasus Perdagangan Ilegal Anak Anjing, HMRC Kantongi £5 Juta

Dalam draf tersebut juga dijelaskan kalau pemerintah ingin menambah US$2 untuk pajak rokok per bungkusnya. Sehingga, dalam setiap bungkus rokok akan dikenakan pajak sebesar US$2,87. Tarif yang sama juga akan diberlakukan untuk produk-produk rokok elektronik.

Jika pemungutan suara dimenangkan oleh mereka yang anti-rokok, maka penerimaan negara akan bertambah US$1,4 miliar (Rp18,1 triliun). Selain itu, California akan menjadi negara bagian ke-5 di AS yang menerapkan pajak atas rokok eletronik setelah Kansas, Lousiana, Minnesota, dan North Carolina.

Sebelumnya, California pernah menggagas usulan kenaikan pajak rokok pada tahun 2006 dan 2012. Namun, usulan tersebut selalu ditentang oleh asosiasi pengusaha rokok di California sehingga upaya untuk menaikkan pajak rokok harus diurungkan.

Baca Juga: Pakar Kesehatan Usul Pajak Tembakau Dinaikkan

“Rencana voting ini dapat memberatkan industri rokok, terutama mereka yang produksi rokok elektronik (vaporizer). Padahal, hasil tinjauan medis sudah menyebutkan kalau vaporizer tidak memberikan dampak yang sama buruknya dengan yang konvensional,” kata salah satu pengusaha. (Gfa)

“Di California, saat ini pajak senilai US$0,87 dikenakan untuk setiap bungkus rokok, nilai tersebut lebih rendah jika dibandingkan rata-rata pajak rokok di negara bagian AS senilai US$1,65 per bungkusnya,” ungkapnya Sabtu (8/10).

Baca Juga: Bongkar Kasus Perdagangan Ilegal Anak Anjing, HMRC Kantongi £5 Juta

Dalam draf tersebut juga dijelaskan kalau pemerintah ingin menambah US$2 untuk pajak rokok per bungkusnya. Sehingga, dalam setiap bungkus rokok akan dikenakan pajak sebesar US$2,87. Tarif yang sama juga akan diberlakukan untuk produk-produk rokok elektronik.

Jika pemungutan suara dimenangkan oleh mereka yang anti-rokok, maka penerimaan negara akan bertambah US$1,4 miliar (Rp18,1 triliun). Selain itu, California akan menjadi negara bagian ke-5 di AS yang menerapkan pajak atas rokok eletronik setelah Kansas, Lousiana, Minnesota, dan North Carolina.

Sebelumnya, California pernah menggagas usulan kenaikan pajak rokok pada tahun 2006 dan 2012. Namun, usulan tersebut selalu ditentang oleh asosiasi pengusaha rokok di California sehingga upaya untuk menaikkan pajak rokok harus diurungkan.

Baca Juga: Pakar Kesehatan Usul Pajak Tembakau Dinaikkan

“Rencana voting ini dapat memberatkan industri rokok, terutama mereka yang produksi rokok elektronik (vaporizer). Padahal, hasil tinjauan medis sudah menyebutkan kalau vaporizer tidak memberikan dampak yang sama buruknya dengan yang konvensional,” kata salah satu pengusaha. (Gfa)

Topik : berita pajak internasional, profil perpajakan AS, pajak rokok, rokok elektronik, vaporizer
artikel terkait
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
berita pilihan
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Kamis, 06 Juli 2017 | 08:11 WIB
ETHIOPIA
Kamis, 18 Mei 2017 | 17:02 WIB
SPANYOL
Jum'at, 05 Agustus 2016 | 07:32 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 22 Maret 2017 | 15:36 WIB
INDIA
Kamis, 03 November 2016 | 07:07 WIB
KENYA
Rabu, 28 September 2016 | 17:07 WIB
PAKISTAN
Rabu, 24 Agustus 2016 | 14:11 WIB
FILIPINA