Review
Rabu, 19 Januari 2022 | 15:20 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 14:15 WIB
OPINI PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 11:15 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 10:15 WIB
DIRJEN PERIMBANGAN KEUANGAN ASTERA PRIMANTO BHAKTI:
Fokus
Literasi
Senin, 24 Januari 2022 | 19:00 WIB
KAMUS CUKAI
Senin, 24 Januari 2022 | 16:30 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 21 Januari 2022 | 19:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 21 Januari 2022 | 17:20 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & Alat
Rabu, 26 Januari 2022 | 08:11 WIB
KURS PAJAK 26 JANUARI - 1 FEBRUARI 2022
Rabu, 19 Januari 2022 | 09:17 WIB
KURS PAJAK 19 JANUARI - 25 JANUARI 2022
Rabu, 12 Januari 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 12 JANUARI - 18 JANUARI 2022
Rabu, 05 Januari 2022 | 08:15 WIB
KURS PAJAK 5 JANUARI - 11 JANUARI 2022
Komunitas
Rabu, 26 Januari 2022 | 11:00 WIB
DDTC TAX WEEKS 2022
Selasa, 25 Januari 2022 | 16:40 WIB
HASIL SURVEI PERSIDANGAN ONLINE
Senin, 24 Januari 2022 | 15:31 WIB
HASIL SURVEI PERSIDANGAN ONLINE
Jum'at, 21 Januari 2022 | 16:11 WIB
HASIL DEBAT 30 Desember 2021—19 Januari 2022
Reportase
Perpajakan.id

Pemerintah Punya Waktu 1 Tahun Perinci Ketentuan Carbon Pricing

A+
A-
0
A+
A-
0
Pemerintah Punya Waktu 1 Tahun Perinci Ketentuan Carbon Pricing

Foto udara progres pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumsel 8 di Tanjung Lalang, Tanjung Agung, Muara Enim, Sumatera Selatan, Selasa (16/11/2021). Progres pembangunan PLTU mulut tambang terbesar di Asia Tenggara ini memiliki kapasitas 2 X 660 Megawatt telah mencapai 92,84 persen dan ditargetkan dapat selesai pada 7 Maret 2022 mendatang. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp

JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah punya waktu 1 tahun untuk menetapkan peraturan-peraturan teknis mengenai penyelenggaraan nilai ekonomi karbon atau carbon pricing, serta ketentuan lainnya terkait dengan pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC).

Seperti diatur pada Pasal 89 Perpres 98/2021, peraturan pelaksanaan dari beleid tersebut ditetapkan paling lambat 1 tahun sejak diundangkan. Perpres 98/2021 telah diundangkan pada 29 Oktober 2021. Tak hanya itu rencana aksi penurunan emisi gas rumah kaca juga perlu segera diselesaikan.

"Penyelenggaraan rencana aksi nasional dan daerah terkait penurunan emisi gas rumah kaca yang masih berlaku disesuaikan dengan perpres ini paling lambat 1 tahun sejak perpres ini diundangkan," bunyi Pasal 85 Perpres 98/2021, dikutip Sabtu (20/11/2021).

Baca Juga: Buka Kantor di Surabaya, DDTC Gelar Free Webinar Kepatuhan Pajak 2022

Untuk melaksanakan Perpres 98/2021, terdapat beberapa peraturan menteri yang perlu disiapkan. Pertama, peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan diperlukan untuk memerinci strategi implementasi dan peta jalan NDC.

Kedua, menteri lingkungan hidup dan kehutanan juga perlu membuat aturan lebih lanjut mengenai pelaksanaan perdagangan karbon lintas-sektor. Aturan ini dibuat setelah berkoordinasi dengan kementerian terkait.

Ketiga, peraturan menteri juga diperlukan untuk melaksanakan pembayaran berbasis kinerja. Keempat, menteri lingkungan hidup dan kehutanan juga perlu menyiapkan peraturan menteri mengenai sanksi atas pelaku usaha perdagangan offset emisi gas rumah kaca yang tidak melaksanakan kewajibannya.

Baca Juga: Data 25 Januari 2022: 7.417 WP Ikut PPS, Nilai Investasi Naik Tajam

Kelima, menko kemaritiman dan investasi juga perlu menyusun peraturan mengenai struktur dan tata kerja komite pengarah, sekretariat, dan kelompok kerja.

Komite pengarah bertugas memberikan arahan mengenai kebijakan nilai ekonomi karbon untuk pencapaian target NDC. (sap)

Baca Juga: Terapkan Pajak Karbon, Indonesia Amankan 'Leadership' di Level Global
Topik : UU HPP, Perpres 98/2021, pajak karbon, perdagangan karbon, pungutan karbon, carbon pricing

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 21 Januari 2022 | 14:45 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Bebas Risiko! Wamenkeu Ajak Peserta PPS Tempatkan Harta di SBN

Jum'at, 21 Januari 2022 | 11:34 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

UU HPP Jadi Jembatan Menuju Sistem Pajak yang Lebih Modern

Jum'at, 21 Januari 2022 | 10:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Ditjen Pajak Diminta Kebut Ketentuan Investasi Harta Peserta PPS

Jum'at, 21 Januari 2022 | 09:00 WIB
DATA PPS HARI INI

Data PPS 20 Januari 2022: 6.220 WP Ungkap Hartanya, Investasi Naik 20%

berita pilihan

Rabu, 26 Januari 2022 | 12:51 WIB
KEBIJAKAN BEA DAN CUKAI

Sederhanakan Proses Bisnis, Dirjen Bea Cukai Minta TIK Dioptimalkan

Rabu, 26 Januari 2022 | 12:30 WIB
KOTA PALEMBANG

Kejar Tunggakan Rp433 Miliar, Program Pemutihan Pajak Diadakan

Rabu, 26 Januari 2022 | 12:07 WIB
EDUKASI PAJAK

Pahami Ketentuan Pajak dengan Mudah, Pakai Perpajakan.id Versi 2

Rabu, 26 Januari 2022 | 12:00 WIB
KEBIJAKAN PERINDUSTRIAN

Kebut Hilirisasi Industri, Jokowi: Agar Kita Dapat Royalti & Pajaknya

Rabu, 26 Januari 2022 | 11:30 WIB
SE-52/PJ/2021

Interpretasikan P3B, Pegawai DJP Harus Konsisten Gunakan Definisi

Rabu, 26 Januari 2022 | 11:06 WIB
DDTC TAX WEEKS 2022

Ini 4 Isu Pajak yang Perlu Dicermati dan Diantisipasi pada 2022

Rabu, 26 Januari 2022 | 11:00 WIB
DDTC TAX WEEKS 2022

Buka Kantor di Surabaya, DDTC Gelar Free Webinar Kepatuhan Pajak 2022

Rabu, 26 Januari 2022 | 10:30 WIB
DDTC TAX WEEKS 2022

Reformasi Pajak Ditopang Teknologi, Anda Sudah Siap?

Rabu, 26 Januari 2022 | 10:00 WIB
Perdirjen Per-20/BC/2021

Simak Cara Pemberitahuan Pabean Impor dengan Voluntary Declaration

Rabu, 26 Januari 2022 | 09:30 WIB
INVESTASI ASING

Bertemu PM Singapura, Jokowi Kantongi Komitmen Investasi Rp132 Triliun