Review
Sabtu, 30 Mei 2020 | 14:47 WIB
PERSPEKTIF
Jum'at, 29 Mei 2020 | 05:58 WIB
Seri Tax Control Framework (11)
Kamis, 28 Mei 2020 | 05:22 WIB
Seri Tax Control Framework (10)
Rabu, 27 Mei 2020 | 06:06 WIB
Seri Tax Control Framework (9)
Fokus
Literasi
Jum'at, 29 Mei 2020 | 17:56 WIB
KAMUS PERPAJAKAN
Jum'at, 29 Mei 2020 | 17:43 WIB
TIPS E-FAKTUR
Jum'at, 29 Mei 2020 | 16:29 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 29 Mei 2020 | 13:30 WIB
PROFIL PAJAK KABUPATEN BANYUWANGI
Data & alat
Rabu, 27 Mei 2020 | 15:03 WIB
STATISTIK IKLIM PAJAK
Minggu, 24 Mei 2020 | 12:00 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Jum'at, 22 Mei 2020 | 10:08 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Rabu, 20 Mei 2020 | 09:59 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Reportase

'Pajak Hanya untuk Harta yang Melebihi Kebutuhan'

A+
A-
1
A+
A-
1
'Pajak Hanya untuk Harta yang Melebihi Kebutuhan'

IA lahir pada 731 Masehi (M) di Kufah, 170 km arah selatan Kota Baghdad, Irak. Sewaktu masih kanak, ayahnya meninggal. Kemudian ia tinggal bersama ibunya. Hidup dalam impitan kemiskinan, ibunya terpaksa menyerahkannya ke istana untuk dipelihara negara.

Tapi ia bengal. Tak lama setelah itu, ia melarikan diri dari istana, mengikuti kelompok pengajian yang diasuh Abu Hanifah, Imam Besar Madzhab Hanafi yang tinggal di Kufah. Sang Imam iba atas keadaan yang menimpa keluarganya, lalu memutuskan untuk membiayainya.

Saat itu, Kufah adalah sentrum peradaban Islam, sekaligus pusat administrasi dan militer sejak Sayyidina Ali memindahkan pemerintahannya dari Madinah pada 656 M. Dinasti Abbasiyah (750-1258 M) yang menggeser Muawiyah (661-750 M) awalnya juga beribukota di sini.

Baca Juga: 'Uganda Harus Jadi Tuan atas Nasibnya Sendiri'

Tak hanya itu, Kufah juga jadi tempat tukar pikiran berbagai ilmu. Sentrum penafsiran Quran dan pembukuan Hadist ada di sini. Tak heran, di kota ini pula lahir sejumlah ilmuwan seperti Imam Hanafi (699-767 M), ahli kimia Abu Musa (721-815 M), dan filsuf Al Kindi (801-873 M).

Memang, Islam pada abad ke-8 itu adalah Islam yang berlari. Di satu sisi, terjadi pergolakan politik akibat pergantian dinasti kekhalifahan. Di sisi lain, justru pada masa tersebut peradaban Islam mencapai masa puncak keemasannya, ditandai kemajuan di berbagai bidang.

Pada abad itu, Dinasti Umayyah yang kalah perang membangun pemerintahannya secara terpisah di Kordoba, Spanyol (750-1031 M). Sementara, Dinasti Abbasiyah memindahkan ibu kota kekhalifahannya dari Damaskus (Suriah) ke Kufah, kemudian ke Baghdad.

Baca Juga: 'Agar Kita Tidak Lagi Dipandang sebagai Seperempat Manusia'

Pada kota yang disebut terakhir inilah, terutama pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809 M), ilmu pengetahuan berkembang pesat. Di Baghdad, pusat riset, perpustakaan, sarana pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan, semua didirikan.

Dalam ingar seperti itu pula, Ya’kub bin Ibrahim bin Habib bin Khunains bin Sa’ad Al-Anshari, atau lebih dikenal dengan Abu Yusuf, yang semasa hidupnya mengalami 10 kali pergantian khalifah—5 pertama dari Dinasti Muawiyyah, 5 terakhir dari Abbasiyah—menulis Al Kharaj.

Ia menulis buku kebijakan fiskal dan keuangan publik tersebut, atau secara lebih spesifik perpajakan, atas permintaan Khalifah Harun agar negara mengelola kas negara dengan baik. Padahal, ia sendiri adalah seorang hakim agung (qadhi al-qudhat) yang memimpin mahkamah.

Baca Juga: 'Jika Mereka Mengeluh, Turunkan Tarifnya'

“Uang negara bukan milik khalifah, tapi amanat Allah SWT dan rakyatnya yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab,” katanya dalam al-Kharaj, “Karena itu, pajak hanya ditetapkan pada harta yang melebihi kebutuhan rakyat, dan ditetapkan berdasarkan kerelaan mereka.”

Pada banyak hal di Al Kharaj, Abu Yusuf menegaskan perlunya tanggung jawab ekonomi penguasa. Ia merekomendasikan agar negara mengambil pajak proporsional dari hasil pertanian ketimbang memungut sewa. Hal itu lebih adil karena mendorong perluasan areal tanam.

Ia menggarisbawahi perlunya pertimbangan kemampuan membayar, kemudahan wajib pajak dan administrasi pajak. Ia juga menekankan pengembangan infrastruktur sosial ekonomi dan menekankan peran pasar bebas dalam batasan sesuai syariah Islam. (Ghazanfar, 2003)

Baca Juga: 'Pajak Harus Diatur Hukum'

Ia menentang penetapan harga oleh negara, meski intervensi mungkin diperlukan guna mengatur pasar dan melindungi warga dari monopoli, penimbunan dan praktik korupsi lain. Ia juga mendorong proyek-proyek untuk mempromosikan ekonomi perdesaan.

Alih-alih memeriksa penerimaan dan pengeluaran negara dari perspektif sempit, ia menganggap negara sebagai jalan utama untuk mempromosikan kesejahteraan melalui pembangunan ekonomi. Ia menganggap negara sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan sosial.

Atas rekomendasi Abu Yusuf itulah, Khalifah Harun memanfaatkan uang kas negara untuk membangun pusat-pusat ekonomi, sekaligus memberi gaji tinggi pada ulama dan ilmuwan, dan insentif untuk mereka yang menghasilkan karya ilmiah atau penemuan.

Baca Juga: 'Pajak dalam Teori atau Praktik, Semuanya Pencurian'

Abu Yusuf, hakim agung pertama yang menguasai fiqih, hadist, dan ekonomi ini akhirnya meninggal pada 798 M. Kita agaknya tahu kenapa Khalifah Harun sendiri turut mengiringi jenazahnya, dari mulai menyalati hingga mengurus permakamannya. (Bsi)

Topik : kutipan pajak, abu yusuf, perpajakan Islam
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 07 Juli 2017 | 18:39 WIB
MAHATHIR MOHAMMAD:
Senin, 12 Juni 2017 | 18:30 WIB
NELSON MANDELA:
Selasa, 09 Mei 2017 | 18:55 WIB
SATRIO BUDIHARDJO JOEDONO:
Kamis, 13 April 2017 | 19:15 WIB
PRESIDEN SOEHARTO:
berita pilihan
Sabtu, 30 Mei 2020 | 14:47 WIB
PERSPEKTIF
Sabtu, 30 Mei 2020 | 10:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 30 Mei 2020 | 09:00 WIB
PMK 56/2020
Sabtu, 30 Mei 2020 | 08:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Sabtu, 30 Mei 2020 | 07:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Jum'at, 29 Mei 2020 | 22:19 WIB
PPN PRODUK DIGITAL
Jum'at, 29 Mei 2020 | 21:58 WIB
EKONOMI DIGITAL
Jum'at, 29 Mei 2020 | 17:56 WIB
KAMUS PERPAJAKAN
Jum'at, 29 Mei 2020 | 17:43 WIB
TIPS E-FAKTUR