Review
Jum'at, 27 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (2)
Kamis, 26 Januari 2023 | 15:53 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (1)
Kamis, 26 Januari 2023 | 14:40 WIB
KONSULTASI PERPAJAKAN
Rabu, 25 Januari 2023 | 17:15 WIB
LAPORAN DARI AUSTRALIA
Fokus
Data & Alat
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Rabu, 11 Januari 2023 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 11 JANUARI - 17 JANUARI 2022
Rabu, 04 Januari 2023 | 09:11 WIB
KURS PAJAK 04 JANUARI - 10 JANUARI 2023
Reportase

Marak Penipuan Catut DJBC, Cermati 5 Fakta tentang Toko Online Palsu

A+
A-
0
A+
A-
0
Marak Penipuan Catut DJBC, Cermati 5 Fakta tentang Toko Online Palsu

Warga menggunakan perangkat elektronik untuk berbelanja daring di salah satu situs belanja daring di Jakarta, Rabu (15/6/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.

JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu kembali mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya penipuan yang mengatasnamakan petugas.

Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan DJBC Hatta Wardhana mengatakan penipuan itu kebanyakan berkedok toko online. Apabila tidak diwaspadai, penipuan dengan modus tersebut bahkan dapat menimbulkan kerugian materiel.

Baca Juga: Ngeri! Bea Cukai dan Polri Sita Sabu 149 Kg Jaringan Malaysia-Aceh 

"Masyarakat diharapkan memahami aturan kepabeanan atas barang kiriman sehingga tidak mudah dikelabui oleh penipu yang mengatasnamakan Bea Cukai," katanya, dikutip pada Sabtu (2/7/2022).

Hatta mengatakan DJBC melalui contact center Bravo Bea Cukai 1500225 dan media sosial telah menerima 714 pengaduan pada Mei 2022. Angka itu naik 10,87% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebanyak 644 pengaduan.

Dari pengaduan yang masuk, 393 kasus di antaranya merupakan penipuan dengan modus online shop, tumbuh 20,55% dari bulan sebelumnya sebanyak 326 kasus.

Baca Juga: Pembebasan Bea Masuk US$500 Diberikan Per Penumpang, Bukan Per Barang

Menurut Hatta, umumnya pelaku penipuan yang berkedok sebagai online shop menjual barang dengan harga di bawah pasaran. Setelah transaksi terjadi, biasanya pelaku akan berkelit dan meminta uang tambahan dengan alasan barang ditahan DJBC.

Selain itu, calon korban juga biasanya diancam oleh penipu yang mengaku petugas DJBC dan diperintahkan segera mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadi.

Hatta pun mengungkapkan 5 fakta yang perlu diketahui masyarakat agar terhindar dari aksi penipuan ini:

Baca Juga: Apa Itu Open Account dalam Kegiatan Ekspor-Impor?

Pertama, masyarakat perlu memahami ketentuan kepabeanan atas barang kiriman sehingga tidak mudah dikelabui oleh penipu.

Apabila barang yang diperjualbelikan berada di dalam negeri tetapi penjual mengatakan barang tertahan oleh DJBC, hal tersebut jelas merupakan penipuan. Pasalnya, DJBC tidak memeriksa pengiriman barang antarpulau di dalam negeri, kecuali dari wilayah free trade zone.

Kedua, bila mendapat informasi barang yang dibeli dari luar negeri tertahan di DJBC, masyarakat dapat segera memeriksa status barang kiriman pada www.beacukai.go.id/barangkiriman. Ketika penjual tidak dapat menunjukkan nomor resi sehingga barang tak bisa dilacak, bisa dipastikan hal tersebut juga merupakan modus penipuan.

Baca Juga: Perketat Pengawasan di Perbatasan, DJBC Teken Kerja Sama dengan Polri

Ketiga, DJBC tidak pernah menghubungi pemilik barang untuk penagihan bea masuk dan pajak dalam rangka impor atas barang kiriman. DJBC juga tidak pernah meminta kiriman uang untuk pembayaran tersebut ke nomor rekening pribadi karena pembayaran untuk penerimaan negara dilakukan menggunakan kode billing.

Pelaku umumnya menghubungi calon korban menggunakan nomor pribadi, meminta transfer uang dengan nominal tertentu ke rekening pribadi, menyertakan ancaman, serta mencatut identitas pegawai dengan menyalahgunakan foto berseragam atau foto kartu identitas pegawai.

"Masyarakat perlu mewaspadai hal ini," ujarnya.

Baca Juga: DJBC Klaim Fasilitas Kepabeanan Bantu Industri Pulih Lebih Cepat

Keempat, Hatta menyebut indikasi penipuan dapat dikonfirmasi kebenarannya dengan menghubungi contact center Bravo Bea Cukai 1500225 dan email [email protected]. Tidak hanya itu, masyarakat juga dapat menghubungi DJBC melalui saluran media sosial.

Kelima, pada masyarakat yang telah menjadi korban penipuan dan ingin melaporkan hal tersebut dapat menghubungi Kepolisian melalui call center 110 atau laman patrolisiber.id, serta melapor kepada ke bank agar dapat dilakukan penelusuran dan pemblokiran lebih lanjut terhadap rekening pelaku.

"Jika masyarakat aktif mengonfirmasi indikasi penipuan, aksi penipuan dapat digagalkan dan kerugian material akibat penipuan dapat dihindari," imbuhnya.

Baca Juga: Hari Pabean Internasional 2023, DJBC Jamin Aspek Pengawasan Makin Kuat

Dari konfirmasi penipuan pada April 2022, DJBC tercatat telah menggagalkan kerugian material masyarakat senilai Rp1,35 miliar serta mata uang asing sejumlah US$38.900 dan RM300.750. (sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : bea cukai, bea keluar, kepabeanan, DJBC, kebijakan bea cukai, online shop, penipuan

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Sabtu, 21 Januari 2023 | 14:00 WIB
PMK 168/2022

Begini Format Baru Surat Permohonan Pengajuan dan Pengembalian Jaminan

Jum'at, 20 Januari 2023 | 17:30 WIB
PENEGAKAN HUKUM

Bea Cukai Musnahkan Barang Lartas, dari Pakaian Sampai Minuman Herbal

Jum'at, 20 Januari 2023 | 16:30 WIB
KEBIJAKAN KEPABEANAN

Netizen Curhat Soal Penipuan Ponsel Murah, DJBC Ingatkan Aturan IMEI

Kamis, 19 Januari 2023 | 12:00 WIB
PELAYANAN BEA CUKAI

Bea Cukai Bikin Survei Kepuasaan Pemakai Jasa, Ternyata Segini Skornya

berita pilihan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 16:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Ekonomi Pulih, Sri Mulyani Sebut Skala Insentif Pajak Sudah Diturunkan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Batas Restitusi Dipercepat Jadi Rp5 Miliar, Sri Mulyani Bilang Begini

Sabtu, 28 Januari 2023 | 13:30 WIB
PP 50/2022

Ini Maksud 'Dimulainya Penyidikan' dalam Pengungkapan Ketidakbenaran

Sabtu, 28 Januari 2023 | 13:00 WIB
KABUPATEN REMBANG

Kepala Desa Dikumpulkan Gara-Gara Validasi NIK dan NPWP, Ada Apa?

Sabtu, 28 Januari 2023 | 12:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Penawaran Perdana SUN Khusus PPS Tahun Ini, Begini Hasilnya

Sabtu, 28 Januari 2023 | 12:00 WIB
PENEGAKAN HUKUM

Ngeri! Bea Cukai dan Polri Sita Sabu 149 Kg Jaringan Malaysia-Aceh 

Sabtu, 28 Januari 2023 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

5 Alasan Wajib Pajak Bisa Ajukan Permintaan Sertifikat Elektronik Baru

Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:30 WIB
KOREA SELATAN

Partai Oposisi Usulkan Pengenaan Windfall Tax untuk Danai Stimulus

Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:00 WIB
PMK 203/2017

Pembebasan Bea Masuk US$500 Diberikan Per Penumpang, Bukan Per Barang

Sabtu, 28 Januari 2023 | 09:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Insentif Atas Impor Alkes dan Vaksin Covid Selama 3 Tahun Tembus Rp3 T