Fokus
Reportase
Perpajakan.id

Definisi Jenis-Jenis Impor dalam Kepabeanan

A+
A-
4
A+
A-
4
Definisi Jenis-Jenis Impor dalam Kepabeanan

IMPOR adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean. Kegiatan impor ini menjadi salah satu sumber penerimaan yang dapat meningkatkan pendapatan negara melalui pengenaan bea masuk.

Apabila menyimak peraturan kepabeanan, ada beragam istilah yang terkait dengan impor. Istilah tersebut di antaranya berkaitan dengan jenis impor, seperti impor untuk dipakai, impor barang penumpang, awak sarana pengangkut dan pelintas batas, impor sementara, serta reimpor.

Lantas apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut?

Baca Juga: Apa Itu Pagu Penundaan dalam Pembayaran Cukai?

Impor untuk Dipakai

Secara umum, impor untuk dipakai (import for consuming goods) merupakan terminologi yang digunakan untuk membedakan suatu barang impor dengan barang impor lainnya yang digunakan untuk sementara waktu atau untuk diproses lebih lanjut (Purwito dan Indriani, 2015).

Ketentuan mengenai impor untuk dipakai salah satunya diatur dalam pasal 10B UU Kepabeanan. Berdasarkan pada pasal tersebut, impor untuk dipakai adalah memasukan barang ke dalam daerah pabean dengan tujuan dipakai atau dimiliki atau dikuasai oleh orang yang berdomisili di Indonesia.

Purwito dan Indriani menjelaskan yang dimaksud sebagai impor dengan tujuan untuk dipakai adalah barag impor tersebut akan dijual kembali atau digunakan, habis konsumsi, dimiliki, atau dipakai oleh pemakai akhir (end user).

Baca Juga: DJP Adakan Lomba Penulisan Makalah dengan Total Hadiah Rp52,5 Juta

Impor Barang Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut

Penumpang adalah setiap orang yang melintasi perbatasan wilayah negara dengan menggunakan sarana pengangkut tetapi bukan awak sarana pengangkut dan bukan pelintas batas. Penumpang ini wajib memenuhi kewajiban kepabeanan, termasuk atas barang yang dibawa bersamanya.

Kewajiban kepabeanan itu juga berlaku atas barang impor bawaan awak sarana pengangkut. Adapun awak sarana pengangkut adalah setiap orang yang karena pekerjaannya harus berada dalam sarana pengangkut dan datang bersama sarana pengangkut.

Merujuk pada Pasal 7 ayat (1) PMK 203/2017, barang impor bawaan penumpang atau barang impor bawaan awak sarana pengangkut terdiri atas 2 golongan.

Baca Juga: Vietnam Susun Desain Reformasi Pajak Hingga 2030

Pertama, barang pribadi penumpang atau barang pribadi awak sarana pengangkut yang dipergunakan/ dipakai untuk keperluan pribadi termasuk sisa perbekalan (personal use). Kedua, barang impor yang dibawa oleh penumpang atau barang impor yang dibawa awak sarana pengangkut selain barang pribadi (non-personal use).

Adapun terhadap barang pribadi penumpang sampai batas nilai pabean dan/atau jumlah tertentu, diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor (PDRI) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.

Impor Barang Pelintas Batas

Berdasarkan pada PMK 89/2007, barang pelintas batas adalah barang yang dibawa oleh pelintas batas. Adapun pelintas batas adalah penduduk yang berdiam atau bertempat tinggal dalam wilayah perbatasan negara serta memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dan yang melakukan perjalanan lintas batas di daerah perbatasan melalui pos pengawas lintas batas.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut RI Miliki Reputasi yang Baik Karena Reformasi Pajak

Barang yang dibawa pelintas batas ini dapat memperoleh pembebasan bea masuk apabila memenuhi ketentuan yang ditetapkan. Simak ‘Apa Itu Pelintas Batas?’.

Impor Sementara

Berdasarkan pada Pasal 1 angka 4 PMK 178/2017, impor sementara adalah pemasukan barang impor ke dalam daerah pabean yang benar-benar dimaksudkan untuk diekspor kembali dalam jangka waktu paling lama 3 tahun.

Menurut Purwito dan Indriani (2015), impor sementara ini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh importir yang diberikan izin menteri perdagangan atau menteri keuangan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, untuk menyelenggarakan kegiatan seperti charity (perlombaan, amal) dan pameran

Baca Juga: Apa Itu Nota Hasil Intelijen dalam Kepabeanan dan Cukai?

Reimpor

Reimpor adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh eksportir dengan memasukkan kembali barang- barang yang telah diekspor ke dalam daerah pabean.

Pertimbangan yang diambil adalah adanya penolakan dari importir di negara tujuan, terkait dengan mutu barang, cacat tersembunyi atau peraturan di negara tujuan yang menyebabkan barang harus dikembalikan ke negara asalnya (Purwito dan Indriani, 2015). (kaw)

Topik : kamus, kamus kepabeanan, perpajakan, impor

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 02 Mei 2022 | 13:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Pajak Jendela?

Sabtu, 30 April 2022 | 13:00 WIB
PENANAMAN MODAL

Mengapa Tax Holiday Perlu Diberikan? Ini Kata Kementerian Investasi

Kamis, 28 April 2022 | 13:15 WIB
MUSRENBANGNAS 2022

Kepala Daerah Diminta Siap-Siap, Jokowi Prediksi Krisis Lebih Lama

Kamis, 28 April 2022 | 12:11 WIB
MUSRENBANGNAS 2022

Musrenbangnas 2022, Jokowi Serukan Optimalisasi Penerimaan Perpajakan

berita pilihan

Senin, 16 Mei 2022 | 16:00 WIB
PER-19/PJ/2021

Ketidaksesuaian Penyetoran Pajak Belanja Daerah, KPP Bisa Minta Ini

Senin, 16 Mei 2022 | 15:30 WIB
PER-19/PJ/2021

Uji dan Awasi Setoran Pajak atas Belanja Daerah, DJP Gunakan Ini

Senin, 16 Mei 2022 | 14:30 WIB
PER-03/PJ/2022

Pengecualian Ketentuan Faktur Pajak yang Dibuat PKP Pedagang Eceran

Senin, 16 Mei 2022 | 14:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Pemerintah Bakal Evaluasi Aturan Pajak dari Luar Daerah Pabean

Senin, 16 Mei 2022 | 13:00 WIB
CHINA

Bantu UMKM dan Manufaktur, China Percepat Restitusi PPN

Senin, 16 Mei 2022 | 12:55 WIB
DATA PPS HARI INI

4,5 Bulan PPS Berjalan, Harta WP yang Diungkap Tembus Rp86,7 Triliun

Senin, 16 Mei 2022 | 12:30 WIB
KAMUS CUKAI

Apa Itu Pagu Penundaan dalam Pembayaran Cukai?

Senin, 16 Mei 2022 | 12:00 WIB
CALL FOR PAPER DJP 2022

DJP Adakan Lomba Penulisan Makalah dengan Total Hadiah Rp52,5 Juta

Senin, 16 Mei 2022 | 11:30 WIB
TIPS PAJAK

Cara Menginput Nomor Seri Faktur Pajak di e-Faktur Versi 3.2