Review
Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:00 WIB
Kepala KPP Madya Dua Jakarta Selatan II Kurniawan:
Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:30 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 11 Oktober 2021 | 14:19 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:29 WIB
PROFIL PERPAJAKAN LIECHTENSTEIN
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:45 WIB
SUPERTAX DEDUCTION (7)
Data & Alat
Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 13 OKTOBER - 19 OKTOBER 2021
Rabu, 06 Oktober 2021 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 6-12 OKTOBER 2021
Rabu, 22 September 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 22 - 28 SEPTEMBER 2021
Rabu, 15 September 2021 | 11:00 WIB
STATISTIK FISKAL DAERAH
Komunitas
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 14:42 WIB
HASIL SURVEI PAJAK KARBON
Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:15 WIB
HASIL DEBAT 23 SEPTEMBER - 11 OKTOBER 2021
Senin, 11 Oktober 2021 | 11:05 WIB
AGENDA PAJAK
Minggu, 10 Oktober 2021 | 09:00 WIB
KETUA GPBSI DJONNY SYAFRUDDIN
Reportase
Perpajakan.id

'Bila Pajak Rendah, Rakyat akan Lebih Aktif Berusaha'

A+
A-
14
A+
A-
14
'Bila Pajak Rendah, Rakyat akan Lebih Aktif Berusaha'

Ibnu Khaldun (1332-1406)

WASHINGTON, 1 Oktober 1981. Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan menggelar konferensi pers. Saat itu, defisit anggaran mulai membubung, mengangkat suku bunga bank dari sebelumnya 12% ke hingga lebih dari 20%. Amerika Serikat pun kembali jatuh ke dalam ‘double dip recession’ sejak 1978.

“Saya belajar ekonomi di kampus. Saya belajar, ada orang bernama Ibnu Khaldun, yang hidup 1.200 tahun lalu di Mesir. Dan 1.200 tahun lalu itu, dia berkata, pada awalnya kerajaan, tarif pajak rendah, tetapi penerimaan tinggi. Pada akhir runtuhnya kerajaan, tarif pajak tinggi, penerimaannya rendah.”

Tahun itu, 13 Agustus 1981, Presiden Reagan menandatangani UU Pajak Pemulihan Ekonomi. Isinya, memangkas tarif pajak, dan ‘mengikhlaskan’ turunnya penerimaan lebih dari US$150 miliar selama 5 tahun. Dari situlah agenda Reaganomics bermula. Tapi, siapa nama Ibnu Khaldun yang dicatutnya?

Baca Juga: Siapkan Rp8 Triliun, Program Relaksasi Pajak Berlanjut Tahun Depan

Reagan tak menjelaskan. Tapi kita tahu, Abū Zayd ‘Abd ar-Raḥmān ibn Muḥammad ibn Khaldūn al-Ḥaḍramī, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun, adalah seorang intelektual muslim, ahli sejarah, sosiolog, ekonom, sekaligus demograf, yang dilahirkan oleh gemuruh abad pertengahan.

Pada usia 17 tahun, ia sudah yatim piatu. Ibnu Khaldun (1332-1406) kehilangan kedua orangtuanya akibat black death, salah satu sampar paling dahsyat dalam sejarah umat manusia yang menewaskan 75-200 juta manusia di Afrika Utara, Mediterania, dan Eropa, saat penduduk dunia baru 450 juta.

Tak lama setelah ditinggal kedua orang tuanya, abangnya, Yahya Khaldun, sejarahwan Kesultanan Mamluk di Mesir, tewas secara mengenaskan dalam sebuah intrik politik perebutan jabatan. Lalu istri dan anaknya juga tewas dalam sebuah kecelakaan kapal laut yang berangkat dari Tunis ke Mesir.

Baca Juga: AS Mulai Desak Negara Lain Agar Cabut Pajak Digital

Lelaki kelahiran Tunis, 27 Mei 1332 ini adalah seorang birokrat sekaligus ilmuwan. Ia mengabdi pada Sultan sebagai hakim dan guru, tapi pada saat yang sama mencatat berbagai peristiwa, lalu mengkaji dan menyimpulkan pikiran-pikirannya ke dalam sebuah risalah yang fenomenal, Mukadimah.

Pikiran-pikirannya, yang terbentuk dari pengalaman melihat langsung kebangkitan dan kejatuhan Kesultanan Mamluk beserta segenap intrik-intrik politiknya, membuat ia mampu mendeskripsikan dengan jeli perubahan-perubahan di dalam masyarakat dan hubungannya dengan kekuasaan.

“Ada banyak orang yang menyaksikan sejarah, namun tak semua orang bisa menulisnya seperti Khaldun menyusun buku Mukadimah,” kata pakar Islam dan sastra Arab Universitas Yale, Franz Rosenthal (1914-2003).“Dia punya pengalaman politik yang luas dan mampu menganalisisnya.”

Baca Juga: Pancing Ekspatriat, Tarif Pajak Penghasilan Bakal Dipatok 17%

Ibnu Khaldun tidak saja meninggalkan teori tentang harga, nilai dan mekanisme pasar, teori produksi dan pembagian kerja, teori populasi pra-Malthusian, teori perdagangan internasional, teori uang, teori perpajakan, teori pembangunan, dan analisis modern atas peran pemerintahan.

Ia juga menginspirasi berbagai teori ekonomi lainnya, salah satunya seperti yang dikutip Reagan, supply side economy. Arthur Laffer tak ragu menyebut Ibn Khaldun sebagai penulis pertama Laffer Curve. Beberapa ekonom menyebutnya sebagai Bapak Ekonomi, alih-alih menyebut Adam Smith (1723-1790).

Arnold Toynbee, ahli sejarah ekonomi, mendeskripsikan Mukadimah sebagai karya terbesar yang tidak diragukan dari jenisnya yang pernah diciptakan oleh pikiran dalam ruang dan waktu. “Ketika tarif pajak rendah, rakyat akan memiliki dorongan untuk lebih aktif berusaha,” kata Ibnu Khaldun. (Bsi)

Baca Juga: BUMN Go Global, Jokowi Minta Adaptasi Teknologi Dipercepat

Topik : kutipan pajak, ibnu khaldun, supply side economy, reagan,

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 14:00 WIB
AUSTRALIA

Negara Ini Kukuh Tolak Pajak Karbon, Pilih Cara Lain Tekan Emisi

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 13:00 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

​​​​​​​Tren Covid Turun, Kinerja PAD Bakal Membaik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 12:30 WIB
KONSENSUS PAJAK GLOBAL

Ini Alasan Kenya Enggan Setujui Konsensus Pajak Global

berita pilihan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 15:00 WIB
IRLANDIA

Siapkan Rp8 Triliun, Program Relaksasi Pajak Berlanjut Tahun Depan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 14:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

AS Mulai Desak Negara Lain Agar Cabut Pajak Digital

Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:00 WIB
THAILAND

Pancing Ekspatriat, Tarif Pajak Penghasilan Bakal Dipatok 17%

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

BUMN Go Global, Jokowi Minta Adaptasi Teknologi Dipercepat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:00 WIB
KOREA SELATAN

Tidak Bakal Ditunda Lagi, Pajak Cryptocurrency Berlaku Mulai 2022

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:30 WIB
LELANG KENDARAAN

DJP Lelang Mobil Sitaan Pajak, Dilego Mulai Rp45 Juta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Besaran Sanksi Ultimum Remedium atas Pidana Cukai di UU HPP

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:30 WIB
KABUPATEN BERAU

Banyak Warga Menunggak Pajak, Pemda Siapkan Insentif

Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:30 WIB
KOTA BOGOR

Ada Pemutihan Pajak, Pemkot Harap Target Pendapatan Tercapai