JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis defisit APBN 2026 akan tetap terjaga sehingga tidak melebihi outlook sebesar 2,85% dari produk domestik bruto (PDB).
Plt. Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Ferry Ardiyanto mengatakan APBN relatif stabil dan kuat dalam meredam guncangan dari gejolak perekonomian maupun geopolitik. Oleh karena itu, defisit anggaran pada akhir tahun diyakini masih sesuai dengan proyeksi pemerintah.
"Dijelaskan juga oleh Pak Menteri, kita memiliki buffer yang kuat untuk mitigasi terhadap gejolak geoekonomi dan geopolitik. Jadi, outlook defisit 2,85% dari PDB ini masih menjadi baseline pemerintah," ujarnya, dikutip pada Senin (21/9/2026).
Ferry mengakui ada sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi kinerja fiskal negara. Contohnya, kenaikan imbal hasil dari pembelian surat utang atau obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yields), serta harga minyak dunia yang cenderung fluktuatif.
Guna memitigasi dampak buruk terhadap ekonomi nasional, dia menerangkan pemerintah telah melakukan pengujian atau simulasi (stress test) untuk melihat dampak gejolak perekonomian global ruang APBN.
"Kita juga melakukan stress testing terhadap berbagai skenario termasuk kenaikan harga minyak, perubahan nilai tukar, perubahan yield SBN," kata Ferry.
Melalui stress test tersebut, Ferry menyampaikan pemerintah masih memiliki ruang fiskal atau bantalan (buffer) untuk menahan guncangan sehingga tidak mengganggu target-target APBN tahun ini.
Adapun bantalan fiskal tersebut dijaga dengan beberapa cara, yaitu mengelola belanja, mengoptimalkan pendapatan negara, dan mengatur strategi pembiayaan. Selain itu, menurutnya, kebijakan fiskal juga perlu ditetapkan secara hati-hati.
"Jadi, yang paling penting adalah kita memiliki buffer yang masih kuat sampai saat ini, termasuk pengelolaan belanja, kemudian optimalisasi pendapatan negara, strategi pembiayaan, dan penggunaan instrumen fiskal yang prudent," ujar Ferry.
Sebagai informasi, pemerintah menargetkan defisit APBN 2926 senilai Rp689,1 triliun atau sebesar 2,68% dari PDB. Pada tahun berjalan, Kemenkeu memproyeksikan ada peningkatan belanja sehingga defisit anggaran berpotensi melebar.
Defisit anggaran pada tahun ini diproyeksikan mencapai Rp734,3 triliun atau 2,85% dari PDB. Peningkatan defisit tersebut utamanya disebabkan oleh belanja negara yang diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu belanja pada APBN 2026 yang ditetapkan senilai Rp3.842,7 triliun.
Sementara itu, pendapatan negara pada 2026 diperkirakan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target senilai Rp3.153,6 triliun. (dik)
