JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada 2025 mencapai 2,92%, lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi 2024 sebesar 1,57%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan kenaikan inflasi pada 2025 utamanya didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan serta beberapa makanan, yakni cabai dan ikan segar.
"Komoditas dengan adil inflasi terbesar pada kelompok ini [makanan, minuman, dan tembakau] adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras. Di luar itu, emas perhiasan juga memberikan andil inflasi dominan," katanya, Senin (5/1/2026).
Andil emas perhiasan terhadap inflasi 2025 tercatat mencapai 0,79%, sedangkan andil cabai merah terhadap inflasi mencapai 0,18%. Adapun ikan segar, cabai rawit, dan beras memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,15%.
Bila diperinci berdasarkan komponennya, BPS mencatat inflasi pada komponen inti mencapai 2,38%, sedangkan inflasi pada komponen harga diatur pemerintah mencapai 1,93%. Sementara itu, inflasi pada komponen harga pangan bergejolak mencapai 6,21%.
Inflasi inti pada 2025 didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, uang kuliah akademi/perguruan tinggi, dan kopi bubuk.
Lebih lanjut, inflasi pada komponen harga diatur pemerintah didorong oleh kenaikan harga tarif air minum PAM di 13 wilayah, sigaret kretek mesin, bensin, dan sigaret kretek tangan.
Terakhir, inflasi harga pangan bergejolak didorong oleh kenaikan harga cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras. (rig)
