MADRID, DDTCNews - Pemerintah Spanyol telah menyetujui paket stimulus fiskal berisi 80 kebijakan untuk merespons kenaikan harga energi serta meredam dampak ekonomi yang lebih luas dari perang di Timur Tengah.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan pemerintah memprioritaskan kebijakan yang mampu melindungi perekonomian dari dampak perang di Iran. Dalam paket stimulus yang diluncurkan, turut termuat beberapa skema insentif pajak.
"Perang ini akan menelan biaya EUR5 miliar [sekitar Rp85 triliun] bagi warga Spanyol," katanya, dikutip pada Selasa (24/3/2026).
Paket stimulus fiskal ini dirancang untuk mendukung sekitar 20 juta rumah tangga dan 3 juta perusahaan di Spanyol. Meskipun tidak akan sepenuhnya meredam dampak dari konflik, pemerintah berharap paket stimulus mampu menjaga ekonomi Spanyol tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global.
Sanchez menyebut paket stimulus tersebut akan menghemat hingga EUR200 juta untuk industri yang menggunakan banyak energi.
Beberapa skema insentif yang ditawarkan antara lain pengurangan PPN atas bahan bakar dari 21% menjadi 10%. Kemudian, pemerintah juga memangkas cukai atas hidrokarbon untuk meringankan biaya bensin dan solar di tengah tekanan berkelanjutan pada pasar energi.
Setelahnya, PPN atas gas alam juga akan dikurangi menjadi 10%, sedangkan harga eceran butana dan propana akan dipertahankan tanpa kenaikan. Pemangkasan PPN diperkirakan akan menghasilkan penurunan harga sekitar EUR0,30 per liter untuk beberapa jenis BBM.
Di sisi lain, paket stimulus juga menargetkan keringanan konsumsi energi rumah tangga. PPN atas listrik dan gas akan diturunkan menjadi 10%, sedangkan pajak tambahan atas listrik juga akan dipangkas.
Dilansir euronews.com, pemerintah juga berencana mengusulkan kembali sejumlah program bantuan sosial yang sebelumnya gagal disahkan oleh parlemen. Misal, penguatan subsidi listrik untuk rumah tangga rentan dan larangan pemutusan air atau listrik untuk rumah tangga yang paling rentan. (dik)
