BRASILIA, DDTCNews - Pemerintah Brasil mengumumkan pemangkasan pajak atas bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga stabilitas harga barang dan jasa di negara tersebut.
Pemangkasan pajak BBM ini diberikan di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak global melambung. Tidak hanya memangkas pajak, pemerintah juga memberikan subsidi atas impor minyak.
"Kita sedang melakukan pengorbanan yang sangat besar di sini, semacam rekayasa ekonomi, untuk mencegah dampak perang terhadap rakyat," kata Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, dikutip pada Selasa (17/3/2026).
Harga minyak mengalami kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Menurut Lula, dampak kenaikan harga minyak telah dirasakan oleh banyak negara.
Dia pun memutuskan untuk memangkas pajak dan memberikan subsidi, yang utamanya menyasar bahan bakar diesel. Kebijakan stimulus tersebut akan dibarengi dengan pengawasan ketat untuk memastikan manfaatkan dirasakan oleh masyarakat.
Apabila stimulus itu diberikan hingga akhir tahun, pemerintah mengestimasi potensi penerimaan yang hilang karena pembebasan pajak atas BBM mencapai BRL20 miliar atau sekitar Rp64,8 triliun. Sementara kebutuhan anggaran untuk pemberian subsidi senilai BRL10 miliar atau Rp32,4 triliun.
Namun, kerugian tersebut diperkirakan akan diimbangi oleh tambahan penerimaan sebesar BRL30 miliar atau Rp97,2 triliun dari pungutan bea keluar atas ekspor minyak dan solar.
Dilansir valorinternational.globo.com, pemerintah menegaskan terdapat sanksi bagi pihak yang menaikkan harga BBM secara sewenang-wenang dalam suasana krisis atau yang menolak memasok BBM tanpa alasan yang sah. Sanksi yang dikenakan berupa denda mulai dari BRL50.000 hingga BRL500 juta atau Rp162 juta hingga Rp1,6 miliar. (dik)
